Pewarta: Steven Gervan
Koran Sinar Pagi, Sumedang – Karaton Sumedang Larang (KSL) hadiri acara Hajat Uar atau Tolak Bala yang dilaksanakan di Jl. Suramanggala No 4, Desa Darmajaya, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang, Minggu (07/01/2024).
Acara yang dihadiri oleh Radya Anom KSL YM Rd. Luky Djohari Soemawilaga, mengatakan ketika dilokasi, hari ini kami keluarga Karaton Sumedang Larang menghadiri acara Hajat Uar atau tolak bala di Darmaraja, tentunya kami (KSL) sangat mengapresiasi kegiatan ini tetap berlangsung.
“Karena bagaimana pun juga Hajat Uar merupakan salah satu tradisi turun temurun yang memiliki nilai luhur yang masih dilaksanakan di masyarakat khususnya di Darmaraja, dalam rangkaian acara ini tentu perlu kita pahami, karena acara ini berlangsung terjadi setelah adanya pasca bencana alam yang ada di Kabupaten Sumedang,” ujarnya
Hajat Uar atau Tolak Bala dilakukan dengan tujuan sebagai tolak bala atau mencegah terjadinya bencana dan musibah yang akan terjadi atau sudah terjadi di wilayah masing-masing.
Lanjut Radya Anom, dengan acara Hajat Uar ini bertujuan sebagai media instropeksi diri , kita harus bisa lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta yaitu Allah SWT, meningkatkan rasa pasrah diri, ikhlas, tawakal dan lebih waspada kembali dengan adanya pasca bencana alam yang telah terjadi kemarin.
Sambung Radya Anom, “Dan bagaimana kita belajar memahami alam dan bagaimana kita harus memperlakukan alam dengan bijaksana agar musibah bencana dapat diminimalisir serta dalam hajat Uar terdapat makna membangun kebersamaan silih asih , gotong royong,”
Sementara itu, Hadi sebagai panitia Hajat Uar Darmaraja, menjelaskan, bertepatan hari ini kami MADARA (Masyarakat Adat Darmaraja) melaksanakan Hajat Uar yang memiliki arti Tolak Bala, tradisi ini sudah turun temurun di masyarakat Darmaraja khususnya leluhur-leluhur Darmaraja setiap ada kejadian alam baik itu gempa, longsor, dan bencana alam lainnya lalu mengadakan Hajat Uar.
“Hebatnya leluhur-leluhur kita pada zaman dahulu memiliki parimbon (buku-red) atau juga dengan cara dihitung untuk mengetahui sebuah kejadian seperti bencana alam, khususnya di Darmaraja ini, oleh karena itu Hajat Uar biasa dilakukan sebelum kejadian atau sesudah kejadian,” ucapnya
Hajat ini menggunakan seperangkat sesajian dan kemenyan, selain itu dibawakan pula nasi congcot (nasi tumpeng-red), daging ayam, bekakak ayam, ketupat, dan beberapa hasil bumi lainnya.
Masih dilokasi yang sama, Kapten CBA Toni Setiabintara, Danramil 1010/Darmaraja, berharap setelah dilakukan Hajat Uar kemudian berdoa dan berharap kepada Allah SWT agar diberikan keberkahan, keselamatan baik di masyarakat Darmaraja maupun masyarakat Sumedang umumnya.
Turut hadir dalam acara, Karaton Sumedang Larang, Forkopimda, Forkopimcam, Forkopimdes, Masyarakat Adat Darmaraja, Masyarakat Darmaraja, Tokoh Agama, Tokoh Budaya.
