Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Setiap momen adalah proses pembelajaran bagi umat manusia. Termasuk momen pesta demokrasi Pilpres 14 Februari 2024 adalah sangat penting. Terutama bagi pelajar sebagai pemilih pemula, mereka debutan, pendatang baru dalam proses politik praktis.
Daftar Pemilih Tetap (DPT) Nasional untuk Pemilu 2024 sebesar 204.807.222 jiwa. Berdasarkan data KPU tersebut, 52 persen adalah pemilih pemula, mencapai 106.358.447 jiwa. Inilah entitas calon penghuni masa depan yang mulai menentukan arah negeri ini secara politik di tahun 2024.
Pelajar mulai usia 17 tahun ke atas menjadi segmen menarik sekaligus ikut menentukan arah politik negeri ini. Pelajar menjadi bagian dari entitas 100 juta lebih pemilih pemula. Sekolahan sebagai pusat layanan pendidikan bagi setiap anak didik, harus ambil bagian.
Ambil bagian apa? Ambil bagian dalam memberikan edukasi positif pada anak didik yang sudah menjadi pemilih pemula. Kepala sekolah dan GTK di internal satuan pendidikan yang pernah mengikuti proses pesta demokrasi, wajib memberikan edukasi pada anak didik yang menjadi pemilih pemula.
Apa yang mesti dilakukan oleh pihak sekolah? Berikut diantara hal yang bisa dilakukan oleh pihak sekolah: pertama, kaitkan sikap politik mereka dengan spirit profile Pelajar Pancasila. Hindarkan mereka dari intervensi politik identitas yang menjauh dari ideologi Pancasila.
Kedua pastikan anak didik pemilih pemula tidak dipengaruhi oleh informasi hoaxs yang mudah didapatkan. Dapatkan informasi dari media dan sumber yang bisa dipertanggung jawabkan. Bukan dari Tiktok semata.
Ketiga pastikan anak didik terhindar dari money politik dan berbagai kampanye politik hitam. Sekolah harus melindungi mereka dari berbagai tindakakan politik yang merugikan moral politik mereka.
Keempat hargai pilihan anak didik pemilih pemula, jangan diarahkan pada pasangan tertentu. Pilihan mereka adalah hak mereka dan ekspresi politik awal mereka, semuanya akan jadi pembelajaran proses politik praktis.
Kelima sekolah memberikan informasi tatacara proses pemilihan suara. Hal ini agar para pemilih pemula tidak salah secara teknis. Bebas memilih, benar teknis memilih dan menjadi sensasi edukatif politik bagi mereka.
Setidaknya lima hal di atas bisa menjadi langkah edukasi politik bagi pemilih pemula. Terutama di tahun politik Pilpres tahun ini, dimana pemilih pemula, termasuk para pelajar masuk pada 100 juta pemlih penentu politik masa depan.
Pemilih pemula dari sekolahan akan ikut menentukan masa depan bangsa secara politik. Bukan hanya ikut menentukan SDM bangsa di masa depan. Tugas kepala sekolah, guru dan GTK lainnya, wajib etik normatif dalam mengguide mereka.
Orang – orang dewas penguasa di negeri ini, ternyata otoritasnya dan kekuasannya, 52 persen ditentukan oleh pemilih pemula. Artinya dunia sekolahan, tempat dimana pemilih pemula berada menjadi penentu siapa yang berkuasa dan bagaimana bangsa ke depan.
Sekolahan menjadi penentu arah politik kini dan masa depan melalui pemilih pemulanya. Pastikan pemilih pemula di sekolahan aman, nyaman, bebas dan gembira dalam menentukan pilihannya. Edukasi mereka, bebaskan pilihannya.
