Pedagogik Yang Pedagadgetik

0
190

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Jelas sudah bahwa menjadi guru sa’at ini sejatinya berseirama dengan alam sekitar anak didik. Apa yang terjadi dan akan terjadi pada anak didik, wajib menjadi bagian dari fokus para guru.

Hampir semua anak didik sa’at ini terutama jenjang SLTA menggunakan gadget. Anak didik sa’at ini sudah punya tiga “guru”, yakni gadget, teman sebaya dan gurunya sendiri.

Realitas anak didik tak bisa lepas dari gadget, teman sebaya dan gurunya. Terutama dengan gadget. Setiap anak didik sangat melekat dengan gadgetnya dibanding teman sebaya dan gurunya.

Realitas kemelekatan anak didik pada gadget tak dapat dihindari. Tinggal sejauh mana gadget ini memberi manfaat pada setiap anak didik. Hasil atau produk teknologi sejatinya bermanfaat.

Bisakah guru mengendalikan proses belajar dengan efektif dan positif di tengah kemelekatan anak didik pada gadgetnya? Harus bisa! Bila tidak maka risiko gadget akan memberi dampak negatif.

Sejumlah aplikasi yang ada pada gadget anak didik tentu memberi banyak pilihan. Sang Guru dan juga orangtua siswa tentunya, bertanggung jawab pada “kedewasaan” anak didik dalam memanfa’atkan gadget.

Bila realitasnya semua (guru, orangtua, anak didik) menjadi “autis” malah asyik dengan gadgetnya. Semuanya punya fokus pada aplikasi yang ada di gadgetnya tanpa ada kontrol dan kesadaran, tentu bahaya.

Pastikan setiap guru terutama mampu memberi “asupan” efektif dan mendasar pada setiap anak didik tentang manfaat gadget. Bukan hanya menjelaskan bahaya gadget.

Pastikan gadget itu bermanfa’at, bukan berbahaya. Pastikan gadget itu memberi kemudahan dan kesuksesan dalam belajar. Bila perlu, setiap anak didik dimotivasi agar mampu menjadi inovator aplikasi.

Inovator aplikasi yang mampu menciptakan sejumlah aplikasi baru yang bermanfa’at bagi publik. Guru yang gaptek, tak mengerti dunia teknologi dan gadget, akan sulit mengedukasi dan memotivasi anak didik yang “terpapar” gadget.

Sangat tak mudah menjadi guru ketika anak didik sudah lebih tertarik dengan gadgetnya dibanding gurunya. Ketika anak didik “sakau” dengan gadgetnya dan alergi pada gurunya sangat bahaya. Mengapa alergi? Karena tak menarik dan tidak menyenangkan.

Diantara “jalan tengah” agar anak didik dan guru tetap “harmoni” dalam dimensi proses pembelajaran. Maka mengapa tidak setiap pelajaran ada pemanfa’at gadget dengan positif. Memanfaatkan gadget dalam proses pembelajaran.

Guru dan anak didik “asyik” dalam proses pembelajaran dengan memanfa’atkan gadget. Sisi lain “berkawan” dengan anak didik dengan dunianya yang gadgetik. Walau tidak semua proses belajar menggunakan gadget.

Setiap anak didik tak boleh terasing dari gurunya. Apalagi sa’at gurunya mengajar, anak didik malah “autis” memainkan gadgetnya. Pura pura belajar padahal melihat gadget.

Pastikan anak didik, guru dan gadget tidak “disharmoni”. Tak dapat ditolak anak didik sudah melekat dengan dunia gadgetnya. Namun Ia pun harus lebih melekat dengan “petuah” gurunya, bukan gadgetnya.

Selfie bareng anak didik, memberi peran anak didik untuk merekam giat belajar, masukan pada medsos, adalah bagian dari “modus” membangun kedekatan guru dan anak didik. Sekatan, jarak guru dan anak didik tak boleh binasa karena gadget.

Tak dapat dibantah, guru yang asing dengan gadget, aplikasi dan platform terkait pendidikan, bahaya. Pastikan setiap guru pedagogik dan pedagadgetnya sangat baik.

Didiklah anak sesuai tuntutan zamannya. Spirit pedagogik pastikan setiap anak didik dikenali dan terlayani. Spirit pedagadgetik, pastikan kita sadar gadget yang melekat pada anak didik.