Tentang Anak Ingusan

0
207

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia adalah buah perjuangan bersama, termasuk ada sejumlah anak muda. Pahlawan Martha Christina Tiahahu (17 tahun), Raden Ajeng Kartini (25 tahun) dan sejumlah tokoh muda lainnya.

Bung Karno mengatakan “Beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia.” Faktanya tanpa para pemuda, pergerakan kemerdekaan dan sejumlah pertempuran sulit dimenangkan. Para pemuda, terutama pemuda terbaik adalah modal bangsa.

Jangan sampai karena politik, karena hegemoni senior/para orangtua, para pemuda dianggap anak ingusan. Pemuda dibutuhkan saat perang fisik melawan musuh, saat merdeka disingkirkan secara politik.

Kapan anak muda bisa tampil berkibar ? Mulai saat anak muda potensial diberi peluang maju dan berkiprah. Ia punya keunggulan fisik, hal lainnya bisa belajar.

Menarik seorang pakar dan akademisi sangat mengapresiasi tokoh tokoh muda. Namun saat tokoh muda itu ke panggung politik nasional Ia kritik dan Ia meragukan. Inilah umumnya kita, menolak “anak ingusan”.

Kita lihat di luar negeri, ada sejumlah pemimpin muda yang tampil. Daniel Noboa 35 tahun, menjadi presiden termuda dalam sejarah Ekuador. Gabriel Boric 35 tahun menjadi presiden termuda di Chile.

Irakli Garibashvili 31 tahun, menjadi Perdana Menteri Georgia. Jakov Milatovic berusia 36 tahun menjadi Presiden Montenegro. Sanna Marin usia 34 tahun menjadi perdana menteri Finladia.

Nampaknya negara lain dan beberapa negara maju, sudah mulai “mempersilahkan” generasi muda menjadi pemimpin puncak. Kita? Kita masih transisi. Namun dalam era disrupsi akan banyak hal “anomalis” terjadi.

Anak muda ini kalau dalam dimensi politik zaman sekarang disebut anak ingusan. Anak ingusan identik dengan anak muda yang belum layak dan pantas untuk ikut kontestasi di level politik nasional.

Kita semua lupa bahwa era disrupsi akan banyak terjadi “anomali” dalam realitas sosial kita. Banyak hal mengagetkan akan terjadi, terutama bagi entitas konservatif dan gaulnya kurang jauh. Plus kurang piknik.

Semua manusia itu ciptaan Tuhan. Ada energi Tuhan dalam setiap manusia. Akan ada keajaiban dan keistimewaan. Tidak harus menunggu tua dan keriput untuk matang dan istimewa.

Tuhan melahirkan sejumlah tokoh dunia dalam usia muda. Bahkan Nabi Isa AS menjadi nabi dan rousul dalam beberapa keterangan di usia 3o tahun. Ia “anak muda” yang penganut ajarannya terbesar di dunia, disusul agama lainnya.

Ada ungkapan mengatakan “Menua itu pasti, dewasa itu tak pasti”. Artinya “ingusan” dan tidak seseorang tidak hanya karena faktor usia semata. Ada faktor lain yang mempercepat dan memperlambat.

Bukankah kita melihat beberapa tokoh politik gaek, melintasi 60 tahunan tapi kelihatan aneh ? Bisanya menjelekan pemimpin tertinggi di negeri ini. Esensinya, Ia belum dewasa tapi sudah tua bangka.

Melihat realitas Pilpres tahun 2024, sangat menarik dipelajari. Mengapa sampai saat ini dipastikan PraGib unggul ? Berikut alasan logisnya.

Pertama PraGib memiliki jamaah milenial yang tidak terlalu terkontaminasi oleh kepentingan politik. Mereka “senaknya” aja milih nyaris tanpa modus. Mereka menyukai PraGib dengan unikasi gaya kampanyenya.

Lebih dari 100 juta pemilih melenial menjadi penentu di Pilpres tahun 2024. Pemilih milenial tidak terlalu menyukai kata kata, dialog cerdas dan janji janji politik. Mereka lebih menyukai tampilan non politisasi.

Joged jogged, diksi gemoy dan hal hal non politik praktis lebih menarik. Mereka pun menghargai PraGib sebagai kopelis antara orangtua dan anak muda. Melihat Prabowo bagai bapaknya, melihat Gibran bagian dirinya generasi Z.

Plus kekuatan gabungan partai politik, entitas artis, tokoh tokoh nasional, gambar/kartun gemoy, lagu gemoy, baliho besar dimana mana dan kekuatan Tiktok yang terus menggelinding di pemilih milenial.

Mayoritas anak ABG dan entitas milenial sangat tak tertarik dengan kampanye yang berbau kaitan agama. Sejumlah tokoh agama yang mengaitkan calon presiden dengan spirit keagamaan tak disukai.

Ijtima dan apa pun terkait agama dalam politik, bagi anak milenial tidak menarik. Joged jogged, hiburan dan kehadiran artis lebih memesoan bagi mereka. Bukankah faktanya Coldplay “digilai” para kaum milenial ?

Musik dan hiburan artis terbaik versi mereka lebih adem, dibanding teriak teriak Tuhan besar. Politik yang berbau healing lebih diterima daripada politik berbau keagamaan. Terbukti, ijtima dan jualan agama dalam Pilpres, selalu kalah.

Terakhir adanya gabungan kekuatan “orang dewasa” yakni Jokowi Presiden RI, SBY mantan Presiden RI dan Prabowo calon Presiden RI membuat calon lain jadi tak sebanding. Seolah yang ingusan itu pasangan lain, ketika berhadapan dengan “tiga orangtua” ini.

Semoga pasca Pilpres tahun 2024 Indonesia akan lebih baik. Syaratnya ? Semua pihak berpikir positif. Stop saling serang dan buang kebiasaan pemikiran “Si Menang adalah Si curang”.

Semoga PraGib bisa merangkul dan memanfa’atkan semua pasangan yang kalah dalam kebersamaan membangun Indonesia ke depan. Barisan PraGib jangan ada arogansi, barisan yang kalah introsfeksi diri