Ketiadaan Hak Milik

0
191

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Hampir semua manusia merasa punya hak milik akan sesuatu. Padahal hak milik itu hanya sebatas administratif, mengelola dan status sosial belaka.

Apapun yang kita milik sendiri anak, istri, rumah, kendaraan, dan lainnya bukanlah milik kita. Semua yang ada adalah miliknya yang maha memiliki, Tuhan yang pemilik.

Kesalahan “iman” kita adalah merasa memiliki segala yang ada, yang kita dapatkan hasil perjuangan dan ikhtiar mati matian. Padahal semua yang kita dapatkan bukanlah hak milik.

Semua yang ada dan tiada adalah milik Allah, Tuhan yang maha esa. Kita jangan halu dan lebay atas segala sertifikat, surat berharga, surat nikah dan akta kelahiran anak.

Semua yang ada hakekatnya tiada, hanya Allah yang ada. Jangan terbalik, semuanya ada, menggoda, memesona dan merasa hak milik. Lupa pada Allah, Allah menjadi tiada karena adanya yang kita miliki.

Bila kita sadar maka rasa memiliki itu sebuah kesalahan. Bila kita sadar, kita hanya punya hak mengelola. Mengelola diri, harta, tahta, anak dan istri. Anak dan istri saja bukan milik kita. Ada pemilik_Nya.

Kesadaran bahwa Allah lah pemilik semuanya dan kita hanya “pernah” diberi kesempatan mengelola, akan lebih baik. Bahkan tubuh, nyawa kita dan warisan agama yang kita anut adalah pemberian sementara.

Derita manusia diantaranya lahir dari kemelekatan karena rasa memiliki. Merasa kehilangan suatu hal itu wajar dan manusiawi. Namun harus diingat sebenarnya kita tidak pernah kehilangan apa pun.

Mengapa sebenarnya kita tidak pernah kehilangan apa pun ? Awalnya pun kita tiada, dan segala yang ada bukan milik kita. Kok merasa kehilangan ? Aneh kan ?

Kalau ada tetangga motornya ilang dicuri, apakah kita merasa kehilangan ? Tidak kan ? Mengapa ? Karena motor itu milik tetangga. Kita tidak merasa memiliki, jadi tidak masalah saat tetangga motornya ilang.

Maaf, mengapa saat kita kehilangan “sesuatu” begitu kecewa atau prustrasi ? Bisa jadi karena “iman bermasalah” tidak sadar bahwa semua Allah yang punya.

KH Syaiful Karim mengatakan, “Kalau kita merasa memiliki sesuatu, sesungguhnya kita telah “melawan” pemilik_Nya yaitu Allah yang maha memiliki”. Semua hak Allah, bukan hak kita.

Katakan pada Allah, “Ya Allah terimakasih Engkau telah memberi kepercayaan pada hamba untuk mengelola rezeki dari Mu, milik Mu”. Love Allah Ku atas segala titipan_Nya.