Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia)
Adalah Dr. Itje Chodijah dalam sebuah giat seminar mengatakan hasil sebuah survai bahwa 50 persen lebih, guru telah melakukan sebuah kesalahan layanan pada anak didik. Anak didik telah jadi “korban” para guru di setiap sekolahan.
Sebelumnya Saya menyimak Guru Gembul mengatakan, “Lebih dari 60 persen orangtua salah mendidik anak”. Ini pun Saya simak dari KH Syaiful Karim bahwa para orangtua banyak yang berdosa pada anaknya. Kini orangtua, guru, mayoritas berdosa pada anak.
YlTersambung dengan apa yang disampaikan pakar pendidikan Itje Chodijah yang dengan gamblang memberikan kritik jleb bagi entitas guru. Kita akan sitir pendapat Itje Chodijah terkait realitas guru Indonesia. Hal orangtua, kita kupas lain waktu.
Itje Chodijah mengatakan, “Guru bisa melakukan “kekerasan” dengan hanya diam, kurang perhatian pada anak didik”. Diam dan cueknya Sang Guru, bagi Itje Chodijah adalah salah satu bentuk kekerasan yang tidak kita sadari.
Setiap anak adalah anak, Ia butuh perhatian dan kasih sayang yang istimewa dari setiap orang dewasa. Apalagi guru gurunya yang diangap lebih terhormat dari kedua orangtuanya. Bukankah guru lebih diikuti, bahkan ditakuti dibanding kedua orangtuanya?
Akumulasi kekecewaan anak didik karena gurunya misal sejak di SD, mengendap selama 6 tahun. Tidak menutup kemungkin akan melahirkan perilaku menyimpang di jenjang SLTP. Begitu pun selanjutnya, bisa jadi anak didik SLTA yang bermasalah terkoneksi dengan layanan gurunya saat masih SD SLTP.
Cara melihat/tatapan Sang Guru pada setiap anak didik dan terlihat ada ekspresi tidak adil pada anak didik, adalah bentuk perundungan. Waspada! Kata, tatapan, bahasa tubuh dan hal apa pun yang dilihat anak dari gurunya akan melahirkan rasa di anak didik.
Pastikan semua anak didik aman, nyaman dan merasa diperlakukan sangat adil oleh guru gurunya. Menganakemaskan anak berprestasi, nampak wajar. Padahal dihadapan anak didik lainnya dirasa “kurang ajar” dan diskriminatif.
Mereka sudah merasa bodoh, tak bisa berprestasi dan tak dapat sentuhan kasih dari gurunya. Lakukan pendekatan diferensiatif yang adil dan humanis. Si Pintar diapresiai, Si Belum pintar dimotivasi lebih menyentuh.
Bagi Itje Chodijah guru jangan identik sebagai tukang ngajar. Guru harus lebih jauh dari itu, bukan Si Tukang Ngajar. Guru adalah *designer* bagi masa depan gemilang setiap anak didiknya. Ia adalah desainer masa depan, lebih itimewa dari desainer interior dan eksterior.
Guru bukan desainer di luar ruang, dalam ruang, tetapi desainer ruang masa depan. Ruang masa depan adalah ruang kompetitif dan penuh misteri yang butuh desain khusus. Desain akhlak terbaik dengan kompetensi terbaik.
Setidaknya para guru wajib melakukan DEKAPAN ADAM yakni Dekati, Kenali, Pantau, Apresiasi dan Dampingi selalu. Jangan sampai masalah guru di rumah, di hal lainnya menjadi masalah bagi anak didik. Waspadalah!
