Koran SINAR PAGI, Kab. Tulungagung,- Ketua PSM Lidra Kabupaten Tulungagung, Menam Maulana menuding DPD Gerindra Jatim main mata dengan kutu loncat.
Tudingan itu lantaran DPD Partai Gerindra Provinsi Jawa Timur tidak mengusung Kader terbaik Partai Gerindra sebagai calon Bupati Tulungagung periode 2024-2029, dan malah menunjuk calon lain yang pernah menjadi kader partai lain.
Menam Maulana mengaku kecewa dengan keputusan DPD Partai Gerindra Provinsi Jawa Timur tersebut.
Menurut Menam Maulana, seharusnya kader asli Partai Gerindra seperti Abah Ahmad Baharudin, yang dinilai telah berjuang mati-matian untuk kemajuan partai, sepatutnya diprioritaskan sebagai calon Bupati Tulungagung, bukan hanya sebagai calon wakil bupati.
“Bapak Ahmad Baharudin sudah terbukti bekerja mati-matian memperjuangkan Partai Gerindra di Tulungagung, sedang calon yang ditunjuk oleh DPD Gerindra Jatim belum punya prestasi yang bisa dirasakan masyarakat dan partai,” jelasnya, Minggu (18/08).
Ia menyoroti bahwa dalam konteks pemilihan sebelumnya, pengusulan calon Gubernur, Walikota, atau Bupati seharusnya menitikberatkan pada kader asli partai.
Menurut Menam, penolakan terhadap Ahmad Baharudin sebagai calon Bupati Tulungagung menimbulkan ketidakwajaran, terutama mengingat kontribusi dan dukungan yang telah diberikan oleh beliau pada partai. Menam menegaskan bahwa keputusan ini juga menjadi pemandangan lucu dan mengejutkan bagi banyak pihak, termasuk dirinya sebagai pejuang Gerindra.
“Saya menduga ada main mata antara DPD Gerindra Jatim dengan calon karbitan tersebut,” ujarnya.
Menam menyebut karbitan, lantaran calon tersebut awalnya berusaha mencari rekomendasi dari partai lain dan berjanji akan tetap di partai tersebut meski tidak mendapat rekomendasi partai.
Tapi nyatanya calon tersebut keluar dari partai yang membesarkannya dan pindah ke Partai Gerindra hanya untuk mendapat rekomendasi maju sebagai calon Bupati Tulungagung.
Menam Maulana mengecam perlakuan DPD Provinsi Jawa Timur yang dianggap tidak mendukung kader asli partai, mempertanyakan motif di balik penolakan terhadap Abah Baharudin. Ia menyampaikan salam perjuangan untuk Partai GERINDRA kepada seluruh simpatisan, pendukung, masyarakat dan relawan Prabowo Gibran, serta menunjukkan ketidakpuasan terhadap apa yang dialami oleh Abah Baharudin.
Polemik ini menunjukkan adanya ketegangan internal dalam Partai Gerindra terkait prioritas pemilihan kader asli partai sebagai calon petinggi di daerah. Sejumlah pihak diharapkan dapat menyelesaikan perbedaan pandangan tersebut secara konstruktif demi memperkuat kesatuan dan kesolidan partai. (Ok)
