Oleh : Neng Tintin (Ibu Rumah Tangga)
Kereta Cepat Jakarta -Bandung (KCJB) Whoosh, sukses menarik perhatian masyarakat mancanegara dengan melayani lebih dari 200.000 penumpang warga negara asing (WNA), sejak mulai beroperasi secara secara komersial pada pertengahan Oktober tahun lalu.
Para penumpang WNA tersebut berasal dari 154 negara Asia, Eropa, Amerika Utara, hingga Oseania.
Mayoritas mereka merupakan warga negara Malaysia yang berkontribusi lebih dari 40 persen. Disusul oleh China, Singapura, Jepang, dan Australia secara berturut-turut.
General Manager Corporate Secretary PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Eva Chairunisa, menyebut pencapaian itu merupakan bukti bahwa Whoosh telah menjadi simbol modernisasi transportasi yang diakui masyarakat internasional. Sumber: Jakarta (ANTARA)
Sudah kita ketahui bersama, bahwa keberadaan KCJB Whoosh ini dirasa sangat membantu sekali bagi masyarakat yang ingin melakukan perjalanan Jakarta – Bandung menjadi lebih cepat dan nyaman. Apalagi KCJB ini pun telah mendapatkan pengakuan dari masyarakat internasional yang sudah merasakannya.
Akan tetapi, muncul pula pertanyaan apakah seluruh lapisan masyarakat pribumi dapat merasakan/menikmati sarana transportasi moder’n ini? jawabanya tentu saja tidak semua orang bisa menaikinya.
Realitasnya, Kereta Cepat Whoosh ini hanya dapat dinikmati dan diminati segelintir orang saja. Dengan tarif untuk dapat menaiki KCJB ini yang cukup tinggi, belum lagi jangkauan jarak yang pendek (Jakarta-Bandung) membuat sebagian masyarakat pun berfikir ulang untuk menaikinya.
Mungkin bagi masyarakat menengah, mereka mampu dan merasa terbantu dengan menaiki transportasi moder’n ini, tapi bagi lapisan masyarakat menengah kebawah (masyarakat kecil) menaiki KCJB ini bisa jadi hanya sebatas angan-angan dan atau bahkan mimpi.
Seharusnya, pembangunan insfrastuktur ditujukan untuk kemaslahatan seluruh rakyat, bukan hanya untuk segelintir orang. Ataupun hanya demi pengakuan dunia internasional.Seharusnya seluruh lapisan masyarakat pun dapat ikut merasakannya.
Sayangnya, semua itu mustahil terjadi dinegeri yang menerapkan sistem Kapitalisme sekulerisme saat ini, dimana sistem ini kemanfaatan dan keuntunganlah yang selalu dicari.
Sistem ini sudah secara otomatis membuka peluang para pemilik modal untuk mencengkram kekuatan politik yang ada melalui kuasa modalnya. Akhirnya lahirlah kebijakan-kebijakan yang sarat akan politik. Kebijakan yang justru lebih memihak kepada segelintir orang (oligarki), termasuk pembangunan fasilitas publik yang cenderung dibuat demi kepentingan/bisnis para pemilik modal.Yang akhirnya penguasa dan rakyat bak seperti penjual dan pembeli. Penguasa sebagai penyedia segala layanan fasilitas dengan syarat (wanipiro)?
Mereka kemudian mengatur regulasi dan kebijakkan demi kepenting mereka dalam melancarkan bisnis dan penumpukkan kekayaan.
Akibatnya kesenjangan ekonomi pun terjadi, yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Beban kehidupan rakyat pun semakin berat dengan mahalnya berbagai macam kebutuhan dan naiknya berbagai tarif serta pengurangan subsidi. Akibatnya, jangankan terbersit untuk menaiki kereta cepat, untuk sekedar mengisi perut saja masih banyak masyarakat yang susah untuk memenuhinya.
Berbeda dengan Islam, didalam Islam hubungan pemerintah dan rakyat adalah hubungan pengurusan dan tanggung jawab. Khilafah bertanggung jawab penuh dalam memelihara urusan rakyatnya.Termasuk urusan pelayanan publik seperti halnya transportasi.
Rasulullah Saw bersabda:
“Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyat yang ia urus (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Khilafah adalah kunci kegemilangan peradaban islam. Belum ada peradaban gemilang yang bertahan lebih dari 1.300 tahun, kecuali Khilafah. Sejak Rasulullah Saw membangun negara Islam di Madinah, kemudian dilanjutkan oleh para khalifah, dan Islam diterapkan ditengah masyarakat secara nyata.
Kebijakan ekonomi dan politil negara Khilafah adalah mengurusi kepentingan rakyat berdasarkan syariah. Khilafah akan menjadi pelayan rakyat dan membebaskan mereka dari berbagai bentuk penjajahan politik dan ekonomi. Misalnya, penjajahan melalui utang luar negeri dan penjajahan atas nama investasi yang berujung pada penguasaan sumber kekayaan alam oleh perusahaan asing.
Alhasil, Satu-satunya harapan masa depan adalah tegaknya Khilafah Rasyidah yang akan membawa rahmat dan kesejahteraan bagi dunia. Kesejahteraan yang bukan hanya berupa hasil sistem ekonomi semata, namun juga hasil dari sistem hukum, sistem politik, sistem budaya, dan sistem sosial. Tentu karena Allah SWT telah menjamin akan menurunkan rahmat-Nya ketika syariah diterapkan secara kaffah.
Seperti firman Allah SWT:
“Andai saja penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami membuka untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka telah mendustakan (ayat-ayat Kami) karena itu Kami menyiksa mereka sebagai akibat dari apa yang mereka perbuat itu (TQS al-A’raf :96).
WalLahu’alam..
