Gaji Ke 15 Mengapa Tidak ?

0
247

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Pengamat Pendidikan)

Sejak jaman Soeharto sudah ada gaji ke 13, walau keluar tergantung sikon fiskal negara. Muncul secara rutin sejak era Megawati. Selanjutnya era Jokowi ada gaji ke 14, identik THR. Ini sangat positif bagi geliat perekonomian nasional.

Gaji ke 13 dan ke 14 ibarat apresiasi bagi aparatur negara. Mengapa tidak Prabowo pun memberi “longterm memory” positif dikalangan aparatur dengan memberi gaji ke 15. Mengapa tidak? Kalau tidak, malah jadi mengapa?

Anggap saja gaji ke 15 itu hakekatnya mau memberikan “gairah ekomomi” di masyarakat melalui titipan “belanja” di entitas aparatur. Bukankah setiap ada gosip gaji PNS naik, gairah ekonomi naik ?

Sejahterakan masyarakat melalui gaji ke 15. Bukankah jutaan aparatur negara adalah bagian dari masyarakat ? Para aparatur negara adalah bagian dari penggerak ekonomi rakyat. Mereka hidup di tengah rakyat, gaji mereka akan menetes ke rakyat sekitar.

Prabowo akan dikenang sebagai tokoh yang mensejahterakan apartur pelayan publik. Memberikan gaji ke 15 identik memberikan motivasi, dukungan pada para pelayan publik. Yang untung siapa? Tentu saja publik yang dilayani.

Gosip dihapuskanya gaji ke 13 dan ke 14 adalah karena efisiensi sangat mengganggu para ASN. Maklum netizen seenaknya buat gosip. Beda dengan gosip gaji ke 15 sangat ditunggu, tidak mengganggu.

Semoga tangisan viral Prabowo di HGN 2024 yang sempat mis persepsi dikalangan GTK, terjawab dengan gaji ke 15. Nama besar Prabowo akan “viral” di hati aparatur selamanya, tujuh turunan keluarganya.

Ini tulisan modus tapi tulus dari kebatinan para aparatur. Khususnya aparatur pelayan pendidikan. Bila program mulia MBG sulit diwujudkan. Maka program apresiasi kinerja aparatur dengan gaji ke 15 mengapa tidak ?

Mari kita dukung pemerintah Prabowo Gibran sepenuh jiwa raga. Kita gas pool bersama. Apalagi bila gaji ke 15 muncul.Masyarakat akan diuntungkan karena akan memberi dampak geliat ekonomi di sejumlah daerah.