Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Dalam sejarah intelektual kesislaman ada sejumlah tokoh yang pemikirannya moncer di setiap jamannya. Pemikirannya mampu memberi sengatan pikir pada umat Islam dan bahkan di luar penganut agama Islam.
Diantara tokoh itu adalah Gus Dur, Cak Nur dan Buya Syakur. Ketiganya tak diragukan kedalaman tentang ilmu agama, khususnya agama Islam. Kini ketiganya telah tiada, namun mereka telah menjadi legenda intelektual keislaman bagi bangsa Indonesia.
Berikut tiga quote yang pernah kita dengar, “Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia, pertama patung polisi, kedua polisi tidur dan ketiga Hoegeng”, “Islam Yes, Partai Islam No!”, “Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja dan kapan saja.”
Ketiga quote di atas berasal dari Gus Dur, Cak Nur dan Buya Syakur. Prediksi saya sebagai penulis, ketiga tokoh ini akan menjadi legenda intelektual muslim yang akan terus diminati sampai di masa depan. Rasionalitas, literasi, pendalaman agama mereka luar biasa.
Terutama Buya Syakur adalah tokoh yang paling akhir dipanggil Ilahi dan pemikirannya masih “hangat” dalam ingatan kolektif para peminatnya. Jaman Buya Syakur media sosial sudah sangat masif, maka ujaran edukasinya menyebar dan menjadi jejak edukasi yang tersimpan dengan baik.
Pemikiran Buya Syakur sering didaur ulang oleh “muridnya” yakni Abu Marlo. Pemikir muda yang semakin hari semakin diminati para pembelajar Islam moderen. Abu Marlo pun pernah “mengedorse” pemikiran Buya Syakur dalam satu acara kajian keislaman.
Buya Syakur identik memberi kritik terhadap pemikiran keagamaan yang konservatif. Ia mengajak penganut agama terutama agama Islam untuk lebih smart, smooth, dan literet. Ia pun pernah mengatakan bahwa setiap orang punya tafsir sendiri sesuai kapasitas dan literasinya, tak usah saling menyalahkan.
Gus Dur, Cak Nur dan Buya Syakur adalah diantara tokoh yang menjadi rujukan cendikiawan muslim, plus sejumlah kontroversinya. Termasuk Buya Syakur yang sangat kontroversial dengan simpulan “Islam Agama Yang Belum Sempurna”. Sementara umat Islam, 99 persen simpulannya Islam adalah agama final dan sempurna.
Bagi Buya Syakur yang rasional dan moderat, kesempurnaan hanya milik Allah, selain Ia, tidak ada yang sempurna, semuanya hidup dan berubah sesuai tuntutan jamannya. Masih ada hal yang belum sempurna dalam ajaran agama Islam karena Nabi Muhammad SAW keburu wafat.
Diantara hal yang belum sempurna itu versi Buya Syakur adalah terkait perbudakan. Sebelum perbudakan hilang dari tanah Arab, Nabi Muhammad SAW keburu wafat, sehingga soalan perbudakan belum selesai. Arab Saudi dan penganut agama Islam sampai tahun 1960-an masih menganggap perbudakan halal dan boleh.
Umat Islam dan para pelanjut ajaran Nabi Muhammad SAW punya “tanggung jawab” untuk menyempurnakan ajaran agama Islam yang belum sempurna, sesuai tuntutan setiap jamannya. Jaman membutuhkan perubahan bertahap, transformatif. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
Setiap jaman ada bahasa dan narasinya. Transformasi narasi ajaran agama tentu harus sesuai jamannya dengan tidak mengubah substansi. Relevansi ajaran agama akan terus bertahan bila memberi ruh pada realitas kemajuan IPTEKS, bila tidak, maka jaman baru, generasi baru akan apatis.
Waspada! Hukum sosial kehidupan mengatakan, “Manusia tidak bisa hidup tanpa berbudaya, tapi masih bisa hidup tanpa beragama”. Agama harus menjadi “bestie” kebudayaan sebagaimana dicontohkan para nabi dan para waliyullah. Faktanya agama tak bisa masuk pada masyarakat tanpa melalui pendekatan kebudayaan.
Sandang, pangan, papan adalah realitas kebudayaan. Bagi mayoritas manusia, sandang, pangan, papan adalah primer. Agama realitasnya adalah sekuder. Walaupun sekunder, namun akan membentuk manusia lebih sempurna dan lebih baik. Mengapa? Karena agama agama yang ada membawa pesan perbaikan akhlak.
Walau faktanya, sejumlah penganut agama malah menjadi oknum yang akhlaknya tidak mencerminkan orang beragama. Soalan menarik adalah ketika sejumlah negara yang dianggap/identik sekuler, malah lebih Islami dibanding negara negara yang mengaku religious dan taat ritual agama.
Kesehatan, kesejahteraan, keamanan dan pendidikan karakter banyak yang sangat baik di sejumlah negara yang dianggap tidak religious. Nampaknya mereka lebih mengutamakan akhlak berdasar kesadaran diri, bukan dogma dogma semata. Kesadaran adalah dasar, buah akal pikir dan rasa yang baik.
