Dunia Lebih Indah Dari Surga

0
286

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Manusia adalah ciptaan Allah yang paling istimewa, dibanding semua ciptaan yang ada. Ia adalah senter dan manifestasi keagungan Allah dari semua alam semesta yang diciptakan.

Tidak ada satu makhluk pun yang mampu berfikir, berimajinasi dan berbudaya selain manusia. Fikiran, imajinasi dan kebudayaan, menjadikan manusia di atas rantai rantai keistimewaan penciptaan Tuhan.

Prof. Noah Harari menyebutkan perbedaan signifikan manusia dengan simpanse dan binatang yang lain adalah karena manusia punya akal pikir dan imajinasi. Simpanse dan binatang lain tidak diberikan Tuhan. Bila manusia tidak diberi akal dan imajinasi, posisinya sama dengan simpanse.

Manusia punya unikasi, diferensiasi dan otentikasi tentang entitas dan dirinya masing masing. Termasuk pemahaman akan Tuhan, agama dan realitas lain dalam kehidupannya.

Ungkapan awaluddin ma’rifatullah pun diferensiatif dalam internal perspektif Sang Manusia. Mengenal Tuhan dan mengenali agama, setiap orang tak sama. Terkenal dalam kisah umat muslim seorang wanita bernama Rabiah al Adawiyah. Ia identik dengan seorang sufi.

Rabiah al Adawiyah menjadi simbol mahabbah sejati yang menginspirasi banyak generasi. Ia dijuluki sebagai The Mother of The Grand Master, ibunya para sufi. Seorang perempuan yang sangat istimewa dalam memahami dan menjalani kehidupan.

Kalau kita lihat dari apa yang disampaikan Rabiah al Adawiyah, misal kisahnya Ia ingin membakar Surga dan memadamkan api Neraka. Ini bukan sembarang keinginan melainkan sebuah pencapaian seseorang dalam kesadaran dan spiritualitasnya.

Rabiah al Adawiyah secara substantif berkesimpulan dunia lebih indah dari Surga. Mengapa demikian? Karena baginya ibadah di dunia dan mencintai_Nya adalah keindahan dan kebahagiaan yang jauh lebih indah dari apa pun, termasuk Surga.

Ia tak butuh Surga dan apa pun, kecuali hanya butuh Cintan_Nya. Bahkan asbab cinta kepada_Nya sangat absolut, Ia tidak punya vibrasi kebencian atau permusuhan pada Setan sekalipun.

Mengapa Ia tidak bisa membenci Setan, padahal semua orang beriman identik membeci Setan? Jawabannya adalah “Karena dalam hati dan pikiranya hanya ada cinta, cinta kepada_Nya, tidak ada energi lain selain cinta”.

Bahkan dalam kisah substantif lainnya, Ia pun tidak punya cinta kepada selain Allah. Termasuk kepada para nabi, karena cintanya habis sama Allahnya. Dalam pesan moralnya, Ia pun mewaspadai jangan sampai kita mengkultuskan, mencintai seorang manusia, apa pun derajatnya.

Rabiah juga pernah berkata bahwa ia melihat Rasulullah SAW dalam mimpi dan ditanya, “Wahai Rabiah, apakah kamu mencintaiku?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, siapa yang tidak mencintaimu? Namun cintaku kepada Sang Pencipta telah menyibukkan hatiku dari mencintai atau membenci makhluk lainnya.”

Ia tidak benci kepada Setan karena dalam dirinya tidak ada vibrasi benci, absolut hanya vibrasi cinta kepadan_Nya. Ia pun tidak ada cinta pada manusia sekali pun nabi karena cintanya hanya pada Allah saja. Ia hanya hormat sesama makhluk, cinta hanya kepada_Nya.

Rabiah al Adawiyah tidak tertarik oleh indahnya Surga, tidak takut seramnya Neraka, tidak peduli kejamnya Setan, bahkan pesona para nabi, Ia hanya fokus pada_Nya. Ibadah dan cinta kepada_Nya adalah segalanya, absolut tanpa harapan yang lain.

Sementara ibadah manusia itu hanya ada di dunia. Saat hidup dan melanjutkan kehidupan, disitulah ibadah dan cinta kepada Allah terjadi. Bagi Rabiah al Adawiyah dunia lebih indah dari Surga. Ibadah dan cinta kepada_Nya saat di dunia adalah segalanya.

Rabiah al Adawiyah tidak transaksional dengan Tuhannya dan tidak berharap apa pun dari ibadah yang dilakukannya. Keindahan, kenikmatan jauh melintasi Surga adalah saat hidup di dunia, berkesempatan mencintai_Nya.

Hal yang basic instinct, yang umum terjadi pada umat manusia dan para nabi, yakni menikah. Rabiah al Adawiyah tidak tertarik. Hingga akhir hayatnya, Ia tidak menikah, Ia hanya fokus dan cinta pada Allah saja.