Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Saat berangkat kerja saya dengarkan ceramah seorang ulama dalam media spotipy. Dengan keterbatasan daya tangkap, plus sambil menyetir di tengah jalan rusak berlubang. Saya berusaha menangkap dan memaknai isi ceramahnya.
Sang Ulama mengatakan bahwa Allah, Tuhan yang maha esa berkomunikasi dengan Nabi Musa tidak dengan suara dan kata kata. Ia memperlihatkan fenomena atau kejadian. Peristiwa, kejadian dan fenomena adalah bahasa Tuhan pada umat manusia.
Penjelasan Sang Ulama ini bisa dipahami. Sangat Pasti Allah bukanlah makhluk manusia yang punya pita suara, berleher dan bermulut. Pita suara, leher dan mulut hanyalah milik makhluk manusia ciptaan_Nya.
Allah tidak butuh “asesoris” kemakhlukan yang ada dalam tubuh manusia. Ia bukan makhluk yang tidak sempurna. Ia maha agung dan tidak sejajar dengan makhluk_Nya. Ia tidak “aple to aple” untuk dialog dan bicara verbal langsung dengan manusia.
Allah Tuhan yang maha esa, punya cara dan kemudahan terkait komunikasi dengan manusia. Melalui alam semesta, manusia dan keberadaan segala hal, Ia bicara menyampaikan pesan pesan_Nya pada kita manusia.
Misal, Apa pesan Tuhan pada kita ketika Iran dan Israel saling serang ? Plus semua hal yang kita lihat, dengar, jumpai dan alami adalah bentuk “komunikasi” Tuhan pada kita manusia.
Sang Ulama dalam spotipy mengatakan “Jika rumah kita di ketuk orang, itu pun bagian dari komunikasi Tuhan dengan kita”. Setiap kejadian adalah “bahasa” Tuhan kepada kita. Mari kita maknai dan tafsirkan semuanya.
Siapa saja yang hatinya lembut, damai, islami dan selalu melekat kepada_Nya maka setiap “bahasa_Nya” dalam kejadian keseharian akan kita terjemahkan menjadi hal yang sangat positif. Allah setiap saat menyampaikan pesan dan bahasa_Nya kepada kita.
Bahkan bukan hanya bahasa_Nya dalam kejadian yang terlihat dan tersaksikan, bisa juga melalui getaran batin dalam hati kita. Ia berbisik pada getaran batin kita. Bukankah Ia ada dalam diri kita? Bukan di air, batu, bangunan dan berada di negara tertentu?
Sejak ruh_Nya ditiupkan, Ia bersama kita selalu. Kita dalam Ia dan Ia melekat pada kita. Pikiran, emosi dan sikon kadang merenggangkan kita kepada_Nya. Kerenggangan ini membuat kita lupa membaca bahasa dan pesan pesan_Nya.
Sang Ulama mengatakan bahkan para kepala daerah, pemimpin lebih sulit bertemu dan bercengkrama dengan rakyatnya. Mereka cenderung sangat protokoleristik dan hanya semangat saat kampanye saja.
Beda dengan Allah, setiap saat selalu bersama kita dan non protokoleristik, karena kita dalam Ia. Allah saja begitu mudah dan 24 jam menjumpai kita. Sementara para pemimpin sulit dan protokoleristik untuk berjumpa dengan kita/rakyatnya.
Keheningan, kesadaran, niat dan pikiran yang jernih sangat dibutuhkan semua umat manusia. Mengapa? Agar mampu mengendalikan pikiran dan tidak menjadi penghalang “berkomunikasi” dengan_Nya. Qolbun mukmin baetullah.
Mari kita Tuhan kan Ia dan pahami bahasan_Nya. Jangan Tuhan kan agama dan menduakan_Nya. Ia lah Tuhan bukan agama menjadi Tuhan. Sang Ulama mengatakan berikut indikasi manusia yang menuhankan agama.
Ia mengatakan siapa saja orang/kelompok yang menuhankan agama ? Apa cirinya ? Ini cirinya Siapa pun yang memusuhi orang lain yang beda agama, Ia lah orang yang menuhankan agama. Menuhankan selain Allah menuhankan agama adalah musyrik. Waspadalah!
