Membela Allah, Menghina Manusia

0
245

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Dinamika kehidupan umat manusia selalu menarik dan memberi pelajaran tiada henti. Salah, bodoh, berdosa, khilaf adalah bagian dari diri manusia. Hanya Allah yang tak pernah salah dan tak berdosa. Manusia “gudangnya” kebodohan.

Contoh salah dan dosa itu diantaranya adalah melarang orang lain melakukan ritual / beribadah atau mendirikan tempat ibadat dengan alasan yang bodoh pula. Inginnya “membela Allah” tapi menghina sesama manusia yang beda agama.

Manusia lupa dan bodoh, sesungguhnya semua agama adalah untuk “membela” umat manusia, agar hidupnya selamat dunia dan akhirat. Keselamatan itu diantaranya dengan jalan beragama, sehingga lahir akhlak mulia.

Orang yang beda agama melakukan ibadah / ritual dan mendirikan tempat ibadat adalah untuk kebaikan umat manusia, sesuai entitasnya. Bila dihalangi, dipersekusi dan diintimidasi maka identik dengan “menghina” Allah.

Mengapa identik menghina Allah? Diantaranya karena mereka ciptaan Allah dan dalam rangka memuja_Nya. Menghina manusia pada hakekatnya menghina pemilik_Nya. Persekusi dan intimidasi pada manusia karena beda agama adalah menghina pencipta_Nya.

Manusia beragama tidak sadar bahwa Allah tidak menghendaki semua umat manusia beragama yang satu. Allah menghendaki manusia beragam agama. Mengapa? Allah ingin menguji keber_agama_an dan kebertuhanan ciptaan_Nya.

Ada narasi “bela agama Allah” menjadi salah bila ditujukan pada satu agama tertentu. Bahkan salahnya doble. Pertama Allah tidak beragama dan kedua Allah tidak beridentitas agama tertentu. Hanya manusia yang butuh agama, Allah tidak.

Kebodohan kita (umat manusia) menganggap manusia untuk agama, padahal agama lah untuk manusia. Tak boleh meletakan derajat manusia di bawah agama. Agama dan kitab suci itu “berkhidmat” untuk manusia sebagai ciptaan Allah paling diistimewakan_Nya.

Hal yang harus disucikan itu adalah manusia, bukan tempat, kitab atau benda tertentu. Benda, kitab, dan tempat itu makhluk tak berakal dan tak bernyawa. Plus tidak akan dihisab. Manusia lah yang harus disucikan karena Ia akan dihisab dan punya potensi sangat kotor.

Seorang ulama mengatakan ”Malalikat rohmat tidak akan masuk pada satu rumah yang ada “anjing berkaki dua” di dalamnya. Mengapa bukan anjing berkaki empat? Anjing berkaki empat najisnya biologis bukan spiritualis.

Anjing berkaki dua najisnya adalah spiritualis. Ketika iri dengki, fitnah ghibah dan qolbu yang sangat kotor tidak akan bisa dimasuki Malaikat rohmat. Ia akan gelap dan jauh dari cahaya Ilahi.

Malaikat tidak ada hubungan dengan anjing secara biologis, tapi Malaikat sangat berhubungan dengan amal baik manusia. Bahkan dipercaya ada Roqib dan Atid di kiri kanan manusia.

Mari kita bela martabat manusia jangan menistakannya. Membela manusia identik menjalankan ajaran agama sebaik baiknya. Termasuk sangat memuliakan para penganut ajaran agama, agama apa pun. Apresiasi bukan persekusi dan intimidasi.

Memuliakan sesama manusia, apa pun perbedaaannya adalah implementasi memuliakan Tuhan. Memuliakan Tuhan terbaik adalah melalui memuliakan manusia, apa pun agama dan pilihan hidupnya.

Sejarah mencatat kebodohan umat manusia. Diantaranya adalah melakukan pembunuhan pada sejumlah nabi. Utusan utusan Allah dibunuh dan dianggap harus dilenyapkan. Bisa jadi kita pun melakukan hal yang sama dalam bentuk berbeda.

Ada ungkapan bijak mengatakan, ”Bila ingin melihat Allah tersenyum, buatlah senyum ciptaan_Nya”. Allah dan semesta tidak melihat apa agama mu, melainkan melihat apa perbuatan mu, bagaimana akhlak mu.

Ungkapan bijak lainnya mengatakan, ”Agama terbaik bagi mu adalah agama yang membuat akhlak mu bertumbuh lebih baik”. Allah tidak akan ridha pada hamba_Nya yang penuh dosa dan kejaliman, apa pun agamanya.

Mari kita bela manusia, muliakan manusia. Tidak perlu membela Allah, karena Allah tak butuh pembelaan. Kalau kita berpikir Allah perlu dibela, bisa jadi kita telah menghinakan_Nya. Menganggap Ia bagaikan (sejajar) makhluk. Waspadalah!