Jodoh Pasti Berlalu

0

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Hidup adalah sebuah perjalanan yang diperjalankan oleh_Nya. Sejak kapan? Sejak ruh_Nya ditiupkan pada kita Sang Manusia. Hidup dimulai bukan saat kita dilahirkan dari rahim Sang Ibu ter_love, melainkan saat ruh_Nya ditiupkan.

Nasab kita hakekatnya bukan dengan kedua orangtua, melainkan pada_Nya. Gen dan sifat sifat kedua orangtua bisa identik dengan karakter kita. Namun “gen sebenarnya” adalah gen rahman rahim dari sifatnya Allah.

Asbab akal pikiran, egoisme dan lingkungan, kita berubah menjadi manusia sebagaimana umumnya. Padahal sejatinya manusia adalah “bernasab” hanya kepada_Nya. Ruh_Nya menginjeksikan rahman rahim. Kesadaran memahami itu, asbab emosi pikiran dan egosime lupa, terlupakan.

Kita hidup dari Allah, bersama Allah dan kembali kepada Allah. KH HM Rasjidi mengatakan “Kita lahir dari rahmat Allah, hidup mencari rahmat Allah dan kembali pada rahmat Allah”. Allah_nya melekat pada kita, sejak ruh_Nya ditiupkan. Kita adalah “serpihan” cahaya_Nya.

Allah lah jodoh kita sebenarnya bukan yang lain. Jodoh selain Allah akan “berlalu”. Bahkan selama 9 bulan kita “berjodoh” dengan Sang Ibu Kandung, akhirnya lepas dan berlalu keluar, dilahirkan. Lahir adalah keterpisahan dengan Sang Ibu.

Bahkan ibu kita ter_love pun berlalu, meningalkan kita. Rasa sayang dan cinta kepada kedua orangtua tak bisa menghalanginya untuk berlalu, berpisah, jodoh kebersamaan dengan kita berakhir. Semua hal yang pernah “berjodoh” dengan kita akan berlalu.

Istilah jodoh sangat identik dengan pasangan hidup, suami atau istri. Padahal jodoh pun bisa diartikan liat KBBI sebagai pasangan hidup bukan melulu manusia dalam bentuk suami/istri. Pasangan identik dengan realitas kebersamaan dengan kita, apa pun.

Apapun yang pernah bersama kita adalah bagian dari realitas jodoh. Ungkapan “Kita berjodoh dalam sebuah acara, mungkin Allah takdirkan ini”. Berjodoh artinya realitas pertemuan kita dengan apa yang kita temui dan alami.

Ungkapan “Jodoh Pasti Berlalu” adalah ungkapan yang belum ada di google atau AI. Ungkapan populer adalah “Jodoh Pasti Bertemu”, ini sangat mainstream. Bahkan Afgan menyanyikannya. Jodoh pasti bertemu dan pasti berlalu, faktanya demikian,

Hanya dengan_Nya, kita tidak akan berlalu. Badai pasti berlalu, jodoh pun pasti berlalu. Kecuali dengan_Nya tidak ada keberlaluan, abadi, karena kita semua ada dalam Dia. Dia yang maha melekat dan tak terpisahkan.

Suami, anak, istri dan segala hal yang pernah berjodoh dengan kita akan berlalu. Harta, tahta, wanita, semua hal yang pernah berjodoh dengan kiita akan berlalu. Hanya Allah yang maha love yang tidak akan berlalu.

Badan kita ini pun adalah jodoh jiwa kita. Jodoh nyawa kita ada di badan kita. Badan kita telah menjadi jodoh chasing, cangkang dari ruh nyawa kita. Badan kita ini lah yang terakhir berpisah dengan kita. Jodoh terakhir yang berlalu dari kita adalah badan kita, saat berpisah dengan ruh.

Jodoh Pasti Berlalu, Hanya Allah Yang Tidak Akan Pernah Berlalu. Semua yang ada pada hakekatnya adalah halu, realitas halu. Hanya Allah yang kekal, ibarat hukum kekekalan energi, tak dapat diciptakan dan tak dapat dimusnahkan. Jodoh selain Ia akan musnah.