Peringati HIV/Aids Se Dunia, Ada 93 Temuan Baru Kasus HIV/Aids di Kab. Ciamis

0
239

Pewarta : Asep Yaya

Kabupaten Ciamis – Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, tercatat ada 93 temuan baru kasus HIV/Aids, hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Ciamis, Edis Herdis, disela – sela peringatan Hari Aids.se Dunia, Senin (01/12/2025).

“Secara akumulatif, fasilitas kesehatan di Kabupaten Ciamis mencatat 644 kasus HIV, dengan 605 orang masih menjalani perawatan. Dari jumlah tersebut, 533 orang pernah mengonsumsi ARV, dan 425 orang masih rutin menjalani terapi, tapi ada juga sebagian pasien yang berhenti terapi karena berbagai faktor,” ungkapnya.

Disebutkan, pada klasifikasi temuan kasus baru periode Januari – Juni 2025, penyebaran HIV/Aids mencakup diberbagai kelompok umur, yaitu,
– Usia 5–14 tahun : 2 kasus
– Usia 15–19 tahun : 6 kasus
– Usia 20–24 tahun : 13 kasus
– Usia 25–49 tahunb: 33 kasus dan,
– Usia 50 tahun ke atas : 2 kasus

Edis mengingatkan bahwa data tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kasus yang berasal dari warga Ciamis. Hal ini karena sistem pencatatan kasus HIV di Indonesia bersifat berbasis layanan, bukan domisili, sehingga seseorang dapat melakukan pemeriksaan atau mendapatkan pengobatan di fasilitas kesehatan manapun di Indonesia.

“Data HIV yang tercatat di Ciamis merupakan akumulasi dari layanan kesehatan yang diakses secara nasional,” jelasnya.

Sementara Ketua KPA Kabupaten Ciamis, Andi Ali Fikri, menegaskan bahwa upaya promotif dan preventif harus menjadi fokus utama dalam menekan laju penularan HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis.

Menurutnya, edukasi yang berkelanjutan dan keberanian masyarakat memeriksakan diri menjadi fondasi penting dalam pencegahan HIV/Aids.

“Kami terus mendorong masyarakat untuk lebih sadar dan peduli terhadap kesehatan reproduksi. Upaya promotif seperti edukasi di sekolah, komunitas pemuda, lingkungan kerja, hingga ruang publik harus diperluas. Semakin banyak masyarakat memiliki informasi yang benar, semakin kecil potensi terjadinya penularan,” ujarnya.

Andi menambahkan bahwa langkah preventif tidak boleh diabaikan. Masyarakat perlu memahami cara penularan HIV secara benar, mempraktikkan perilaku seksual aman, menjauhi seks bebas, menghindari penggunaan jarum suntik tidak steril, serta rutin melakukan tes HIV, terutama bagi kelompok dengan risiko tinggi.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak takut melakukan tes HIV. Deteksi dini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyelamatkan. Semakin cepat seseorang mengetahui statusnya, semakin besar peluang mendapatkan penanganan medis yang efektif,” katanya.

Lebih jauh, Andi menyoroti masih kuatnya stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang menjadi penghambat terbesar penanggulangan HIV.

“Stigma adalah musuh bersama. ODHA berhak hidup sehat dan bermartabat. Tugas kita semua adalah menciptakan lingkungan yang inklusif, bukan mengucilkan. Dengan cara itu, kita bisa bersama-sama menekan penyebaran HIV, bukan hanya di Ciamis, tetapi juga di tingkat nasional,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih peduli menjaga kesehatan diri dan lingkungan.

“Mari kita jaga diri, jaga keluarga, dan jaga masa depan,” ujarnya.