Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Dalam bahasa Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA, ada kata rahima yang artinya cinta, penuh kasih sayang. Cinta dan penuh kasih sayang itu identik dengan Allah, Tuhan yang maha cinta pada semua ciptaan_Nya.
Kalau kita mau lacak diksi rahima / cinta / kasih sayang terdapat dalam ayat pertama, surat pertama dalam Al Qur’an. Dalam versi KH Syaiful Karim ayat pertama, surat pertama ini diartikan “atas nama Allah yang maha pengasih dan penyanyang (rahima).
Allah, kasih sayang (rahima) adalah dua varibel terpenting dalam kehidupan manusia. Pertama dan utama beriman pada “atas nama” adanya Allah dan kedua implementatif sifatnya Allah yang penuh cinta. Allah dan cinta adalah kopel, Allah dengan sifatnya.
Semua makhluk Allah, terutama manusia idealnya penuh cinta. Cinta manusia harus “meluap” pada sesama dan semesta. Bukan malah iri dengki dan kebencian yang meluap. Bila kita punya cinta, identik kita mewakili Allah, atas nama Allah. Bila kita iri dengki, atas nama apa? Atas nama siapa? Bersama siapa?
Menarik kisah Rabi’ah al Adawiyah, sosok dan pelopor cinta sejati pada Allah. Baginya sejatinyaa cinta dan cita sejati itu hanya kepada Allah. Mahabatullah, mahabah itu hanya kepada Allah. Allah tidak bisa diduakan dengan cinta kepada selain_Nya.
Cinta Allah, Allah cinta, hanya ada Allah dalam pikiran dan hati Al Adawiyah. Bahkan Ia sulit membenci Setan dan mencintai Nabi, karena cinta sejatinya hanya kepada Allah. Tidak ada benci pada apa pun, karena dalam dirinya hanya ada energi mahabbah pada_Nya.
Tidak ada energi lain selain energi mahbbah kepada_Nya. Ia tidak bisa membenci Setan ataupun mencintai Nabi. Dalam pikiran sadar, bawah sadar dan hatinya hanya ada cinta, cinta dan cinta sejati kepada_Nya. Hanya Allah, hanya Allah yang Ia cintai dalam spiritualitasnya.
Selain Allah, bagi Al Adawiyah hanyalah cinta biasa sebagai sesama makhluk. Ia lah yang terkenal “menafikan” Surga dan Neraka yang bisa membuat banyak umat manusia “salah cinta” dan salah motivasi kehidupan. Al Adawiyah ingin hidup manusia itu berjalan karena mahbbahnya kepada Allah bukan kepada selain Allah.
Al Adawiyah ingin manusia itu tidak disfokus atau terlalu imajinatif cinta kepada selain Allah. Termasuk Surga dan Neraka jangan menjadi asbab kata dan tindak perilaku manusia. Allah lah yang layak menjadi fokus dan asbab apa yang kita katakan dan lakukan. Atas nama Allah, bukan “atas nama” Surga atau pun Neraka.
Jadilah manusia qolbun salim, lurus dan bersih suci berkata dan berbuat karena Allah semata. Cinta sejati dan sejatinya cinta hanya kepada_Nya. Jangan duakan cinta_Nya dengan apa pun. Ia lah yang rahman dan rahim yang menyebabkan kita hidup, asbab ruh_Nya yang ditiupkan pada kita.











