Herman Suryatman Dan KH Buya Syakur

0
Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Lontaran pikir para pembelajar dan pemikir selalu memberi pencerahan dan sengatan kesadaran. Masih tersimpan baik dalam jejak digital, Prof. Dr. KH Buya Syakur mengatakan, “Perbedaan sudut pandang dan mindset manusia terkait keluasan literasi, jangan salahkan orang lain, karena memang ini masalah literasi”.

Pendapat KH Buya Syakur itu identik secara substansi dengan pendapat Dr. Herman Suryatman yang mengatakan “Kalau orang memanjat pohon dua meter dengan orang yang memanjat pohon sepuluh meter, akan menghasilkan keluasan pandangan yang tak sama”. Literasi dan pohon yang dipanjat menentukan keluasan wawasan dan pandangan.

Sangat menarik pendapat Herman Suryatman yang secara substansi sama dengan KH Buya Syakur di atas. Ia hendak menjelaskan bahwa keluasan pandangan itu tergantung daya panjat seseorang dalam memahami alam semesta. Pandangan seseorang tentang apapun akan terkait dengan jarak panjat, jarak belajar dan jarak pengalaman yang telah ditempuh.

Bagi Herman Suryatman bisa jadi orang yang memiliki keluasan pandang yang sangat jauh dan futuristik bisa dianggap gila oleh entitas orang yang panjatannya hanya dua meter. Tentu saja orang yang memanjat pohon hanya dua meter, Ia hanya bisa menjelaskan realitas kehidupan sebatas daya pandang dua meter. Ia hanya mampu melihat rumput dan batu.

Berbeda dengan orang yang daya panjatnya jauh lebih tinggi. Ia bisa melihat sejumlah pemandangan lain yang jauh lebih luas. Sebagai Sekda Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman punya amanah besar agar warga Jawa Barat bisa diajak memanjat lebih tinggi. Mengapa? Agar kualitas masyarakatnya jauh lebih memiliki keluasan pandang dan kesadaran dalam berbagai bidang.

Sebagai “Gubernur ASN” Herman Suryatman terutama wajib “mengorkestrasi” potensi entitas ASN agar bisa memanjat melampaui standar. Setidaknya tidak berhenti dalam panjatan dua meter. Baik dalam prestasi, dedikasi dan potensi dirinya. Tentu saja entitas ASN harus memiliki keluasan pandangan dan identifikasi jauh lebih baik dari warga masyarakat. Mengapa ? Karena abdi negara adalah SDM yang harus menjadi “mentor” dan pelayan terbaik bagi masyarakat.

Narasi KH Buya Syakur dan Herman Suryatman di atas setidaknya membuat kita memahami realitas dinamika kehidupan kita dan memberi motivasi agar kita bisa memanjat “pohon kehidupan” lebih tinggi. Terutama warga Jawa Barat dan ASN_nya, mari bertransformasi, memanjat setinggi pohonnya.