Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Semua orang, semua bangsa dan semua penganut agama punya hari raya. Terutama umat muslim di Indonesia lebih khas dan unik. Ada tradisi mudik saat Hari Raya Idul Fitri. Dinamika dan fenomena mudik lebaran adalah hal yang sangat romantik dan indah.
Bagi anak muda, bagi yang berkeluarga, bagi yang merantau jauh, bagi yang sudah lama tidak pulang kampung, momentum lebaran, adalah wow. Semangat pulang kampung luar biasa “menyala” bagi sejumlah orang yang rindu kampung halaman.
Namun disisi lain, bagi sejumlah anak atau keluarga yang sudah tidak ada kedua orangtua, ada yang hilang. Ada “Surga” yang hilang di hari raya. Bukankah Surga di bawah telapak kaki ibu ? Ketika ibu tercinta sudah tiada?
Meleleh air mata dan hati bagi sejumlah orang yang sangat rindu pada ibu dan kedua orangtua yang kini telah tiada. Hari Raya Idul Fitri tanpa kedua orangtua terasa ada Surga yang hilang. Bertemu kedua orangtua jauh lebih Surgawi dibanding bertemu Hari Raya Idul Fitri.
Tentu saja, nilai kedua orangtua lebih merindu dan spiritualis dibanding Hari Raya. Bahkan saat bertemu kedua orangtua di hari apa pun adalah keindahan tersendiri. Kedua orangtua adalah Surga dunia, indah dan berkah.
Hai sahabat yang masih punya kedua orangtua, cintai mereka sepenuh jiwa. Beruntunglah Hari Raya Idul Fitri bersama kedua orangtua. Dapat dua hal terindah; Hari Raya dan Orantua. Bagi yang sudah tidak ada orangtua, “Ada Surga Yang Hilang Di Hari Raya”.
Surga yang hilang di hari raya adalah fakta psikologis. Hanya wajah, kenangan dan rasa cinta mereka yang masih mengendap. Duhai Allah lancarkan, sukseskan para pemudik, selamatkan perjalanan mereka sampai bertemu kedua orangtua dan saudara di hari raya.
Sahabat ku dimana pun berada “Selamat Hari Raya Idul Fitri”, sungguh berbahagia merayakan hari raya bersama kedua orangtua kita. Bersyukurlah dapat keduanya, hari raya dan berjumpa orangtua terkasih.

