Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Ketua Umum DPP AKSI)
Bacaan berikut khusus saya haturkan untuk entitas guru. Selalu saya katakan “Tidak ada profesi paling istimewa selain mengambil profesi guru”. Tiga alasannya, pertama melayani warga negara paling istimewa (anak didik). Kedua menebarkan pengetahuan dan keteladanan dan ketiga menjadi “investor” masa depan bangsa.
Judul di atas saya berikan karena keyakinan kuat pada sakralitas dan idealitas profesi guru. Mendidik dan mengajar anak didik adalah sebuah amalan yang jauh lebih baik dari amalan berpuasanya seorang guru. Berpuasa adalah amalah baik, namun mendidik dan mengajar anak bangsa, jauh lebih baik.
Berpuasa itu amalan untuk mentalitas diri, pribadi dan sangat privat. Mendidik dan mengajar adalah amalan publikatif, investatif dan antisipatif. Publikatif disaksikan banyak orang dan untuk banyak orang/umat. Investatif adalah sebuah upaya karakter yang berkelindan ke masyarakat masa depan. Antisipatif adalah mempersiapkan generasi terbaik untuk menghadapi kemungkinan kemungkinan di masa depan.
Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa “Mencari ilmu adalah jalan menuju surga, diwariskan oleh para nabi, dan memberikan manfaat berkelanjutan (amal jariyah)”. Apalagi guru, selain mencari ilmu, Ia menebarkan ilmu. Bukankah para nabi adalah pencari ilmu dan penebar ilmu? Profesi mendidik dan mengajar diidentikasi dengan kenabian. Guru adalah umat para nabi yang sarjana.
Beda dengan puasa, selain para nabi pun, banyak yang berpuasa. Bahkan ada orang berpuasa dengan tujuan tertentu. Mendidik dan mengajar anak didik tujuannya fokus pada akhlak, pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan. Nabi diutus untuk memperbaiki akhlak. Para guru pun “diutus” untuk memperbaiki akhlak anak didiknya.
Ungkapan “Sebaik baiknya manusia adalah memberi manfaat pada sesamanya”. Puasa identik ibadah privat, hanya bermanfaat bagi pembelajaran diri. Menjadi guru selain pembelajar diri, juga pembelajaran bagi sesama (anak didik). Betapa mulianya menjadi guru yang dedikatif, prestatif dan meminjam istilah Dr. Firman Oktora public services, bukan business services.
Ibadah ini (menjadi guru, mengajar dengan sangat baik) lebih baik dari ritual puasa. Berpuasa rutin dan menjadi guru terbaik adalah doble kebaikan, istimewa. Sebaik baiknya profesi adalah menjadi guru terbaik bagi setiap anak didik.

