Kasus Cabul Gegerkan Sukabumi, Ustadz Tronton Kabur Usai Jadi Tersangka

0
163

Pewarta : Arief

Kabupaten Sukabumi – Kasus dugaan pencabulan terhadap enam santriwati yang menyeret nama MSL alias ‘Ustaz Tronton’ hingga kini masih menyisakan luka dan ketakutan mendalam bagi keluarga korban. Di tengah statusnya sebagai buronan polisi, keberadaan pimpinan pondok pesantren di Sukabumi itu masih misterius, bak lenyap ditelan bumi.

Sosok yang dulu dikenal sebagai dai kondang dan kerap tampil di layar televisi nasional itu kini justru menjadi wajah buronan dalam kasus asusila yang mengguncang warga Kabupaten Sukabumi.

Kuasa hukum korban dari LBH Pro Ummat, Rangga Suria Danuningrat menegaskan, pihaknya terus menekan aparat kepolisian agar segera menangkap pelaku yang hingga kini masih bebas berkeliaran.

“Kita terus berkoordinasi dengan Polres dan mendesak untuk giat mencari dan mendapatkan pelaku secepatnya,” ujar Rangga, Minggu (24/5/2026).

Menurutnya, keluarga korban hidup dalam kecemasan berkepanjangan lantaran pelaku belum juga tertangkap. Trauma para korban pun belum sepenuhnya pulih.

“Kasihan keluarga korban, mereka masih was – was dan ingin Tronton segera ditangkap,” katanya.

Pelarian panjang ‘Ustaz Tronton’ dimulai setelah polisi resmi menerbitkan status Daftar Pencarian Orang (DPO) dengan Nomor: 11/III/RES.1/2026/SAT RESKRIM. Namun hingga kini, pengejaran aparat belum membuahkan hasil.

“Sudah lama status tersangka, kita lagi maraton pengejaran, secepatnya berproses, itu sudah DPO juga kan,” ucap Dudi, Kasat Reskrim Polres Sukabumi.

Sementara di Kampung Cikondang, Kecamatan Cicantayan, jejak keberadaan Tronton benar – benar menghilang. Pondok Pesantren Najmul Huda yang dulu ramai aktivitas santri kini berubah sunyi dan kosong.

“Terakhir lihat pas mau berangkat umrah, sehari sebelum puasa. Keluarganya sekarang sudah tidak ada, santri juga sudah tidak ada,” ujar Ketua RT setempat, Iwan Setiawan.

Kemarahan warga pun memuncak. Nama baik kampung yang tercoreng membuat warga meluapkan kekecewaan dengan membongkar plang dan gapura pesantren menggunakan gerinda.

“Kita merasa dikotori. Sangat kecewa. Kok seorang ustadz, da’i kondang sampai melakukan hal yang tidak senonoh,” kata Iwan.

Tak hanya itu, pembongkaran dilakukan sekaligus membuka akses jalan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang sebelumnya tertutup bangunan pesantren.

Meski belum tertangkap, aparat sempat menemukan jejak keberadaan pelaku di wilayah Tangerang. Namun saat hendak diburu, pelaku kembali lolos.

“Informasi dari penyidik, pelaku sempat terdeteksi di Tangerang, tapi kemudian kabur. Sekarang masih diburu,” ungkap pendamping korban, Lutfi Imanullah.

Terbongkarnya kasus ini bermula dari kecurigaan seorang ibu terhadap perubahan sikap anaknya yang kerap melamun dan menangis diam-diam. Fakta mengejutkan akhirnya terungkap saat isi percakapan di telepon genggam korban diperiksa.

“Pas dicek HP nya luar biasa isinya,” ungkap EY (55), perwakilan orang tua korban.

Kini publik menunggu keseriusan aparat kepolisian untuk segera menangkap sang buronan. Di tengah trauma para korban dan kemarahan warga, satu pertanyaan terus menggema: sampai kapan ‘Ustaz Tronton’ bebas berkeliaran ?