Museum KAA Bandung Kian Diminati, Lebih dari 35 Ribu Wisatawan Berkunjung Pada Semester I 2026

0
11

Pewarta : Ida

Kota Bandung – Museum Konferensi Asia-Afrika (KAA) di kawasan Gedung Merdeka, Kota Bandung, terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Indonesia. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, museum yang menyimpan jejak penting diplomasi dunia itu telah dikunjungi lebih dari 35.000 wisatawan, ditambah lebih dari 3.500 wisatawan mancanegara.

Tingginya angka kunjungan tersebut menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata edukasi berbasis sejarah, khususnya yang berkaitan dengan Konferensi Asia – Afrika (KAA) 1955 yang menjadi tonggak lahirnya solidaritas negara – negara Asia dan Afrika.

Kepala Seksi Publikasi dan Nilai – nilai KAA, Christoforus Katon, mengatakan Museum KAA didirikan untuk mengabadikan nilai-nilai perjuangan, persatuan, dan diplomasi yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika.

Menurutnya, gagasan pendirian museum berawal dari inisiatif Menteri Luar Negeri RI saat itu, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, setelah banyak kepala negara dan tamu asing ingin mengunjungi Gedung Merdeka sebagai lokasi bersejarah penyelenggaraan KAA.

“Usulan pendirian museum disampaikan pada peringatan 25 tahun Konferensi Asia-Afrika tahun 1980 dan mendapat dukungan Presiden Soeharto. Museum Konferensi Asia-Afrika kemudian diresmikan pada 24 April 1980, bertepatan dengan peringatan 25 tahun Konferensi Asia-Afrika,” ujar Christoforus dalam keterangan resminya, Jum’at (3/7/2026).

Museum KAA menghadirkan berbagai koleksi bersejarah yang menggambarkan perjalanan diplomasi internasional Indonesia, mulai dari diorama Sidang Pembukaan Konferensi Asia-Afrika 1955, arsip foto dan dokumen autentik, peralatan jurnalistik, hingga film dokumenter mengenai jalannya konferensi dan pengaruhnya terhadap perkembangan politik dunia.

Selain mengulas sejarah penyelenggaraan KAA, pengunjung juga diajak mengenal perjalanan Gedung Merdeka yang menjadi saksi lahirnya semangat persaudaraan, kerja sama, dan perdamaian antarbangsa.

Untuk meningkatkan kualitas layanan edukasi, Museum KAA menyediakan fasilitas pemandu atau edukator bagi rombongan yang telah melakukan reservasi. Layanan tersebut tersedia dalam tiga bahasa, yakni Indonesia, Inggris, dan Mandarin, sehingga mampu melayani wisatawan dari berbagai negara.

Seluruh layanan kunjungan ke Museum KAA diberikan secara gratis. Baik pengunjung individu maupun rombongan diwajibkan melakukan pendaftaran melalui sistem reservasi daring. Khusus rombongan, proses reservasi dilakukan terlebih dahulu melalui admin museum sebelum mengisi formulir kunjungan.

Museum KAA membuka layanan kunjungan setiap Rabu hingga Sabtu pukul 09.00 – 15.00 WIB, dengan waktu istirahat pukul 12.00 – 13.00 WIB. Pada hari Jum’at, jam operasional menyesuaikan waktu pelaksanaan salat Jumat.

Untuk menjaga kenyamanan pengunjung, museum membatasi jumlah rombongan yang diterima setiap hari. Pada sesi pagi pukul 09.00 – 12.00 WIB, kuota maksimal mencapai 250 orang, sedangkan sesi siang pukul 13.00 – 15.00 WIB dibatasi hingga 200 orang.

Christoforus menjelaskan, Konferensi Asia – Afrika yang berlangsung pada 18 – 24 April 1955 di Gedung Merdeka diikuti oleh 29 negara Asia dan Afrika. Pertemuan bersejarah tersebut menjadi titik balik perjuangan negara-negara berkembang dalam memperjuangkan kemerdekaan, kesetaraan, serta perdamaian dunia.

“Konferensi Asia – Afrika 1955 mengajarkan pentingnya solidaritas dan kerja sama, baik antarindividu maupun antarbangsa, sebagai fondasi dalam menjaga persatuan dan menciptakan perdamaian dunia,” katanya.

Dengan koleksi sejarah yang lengkap, layanan edukasi yang terus ditingkatkan, serta akses kunjungan tanpa biaya, Museum Konferensi Asia – Afrika tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami pentingnya diplomasi, persaudaraan antar bangsa, dan nilai – nilai perdamaian yang tetap relevan hingga saat ini.