Pewarta : Red
Kota Bogor – Musim kemarau yang melanda wilayah Kota Bogor mulai memicu krisis air bersih di Kelurahan Katulampa. Sejumlah sumur warga mengering selama dua pekan terakhir, memaksa mereka memanfaatkan aliran Kali Baru, anak Sungai Ciliwung, untuk mencuci pakaian hingga membersihkan ikan.
Enah (69), salah seorang warga terdampak, mengaku sumur di rumahnya sudah tidak lagi mengeluarkan air. Kondisi itu membuat aktivitas mencuci harus dilakukan di tepi Kali Baru.
“Sudah dua minggu sumurnya kering. Sekarang kalau mencuci ya ke sungai. Ini cuma dua ember cucian, nanti sore atau besok lanjut lagi,” ujar Enah saat ditemui, Sabtu.
Untuk memenuhi kebutuhan mandi dan memasak, Enah bergantung pada pasokan air dari sumur milik anaknya yang berjarak tidak jauh dari rumah. Setiap hari, sekitar delapan galon air bersih diangkut untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Air buat masak dan mandi diambil dari sumur anak saya. Alhamdulillah di sana masih ada air,” katanya.
Kondisi serupa dialami Ujang (64). Sumur di rumahnya juga mengering sejak sekitar dua pekan lalu. Air yang masih tersisa hanya menetes perlahan sehingga membutuhkan waktu dua hingga tiga jam untuk mendapatkan dua ember air.
“Kadang masih keluar, tapi untuk dua ember saja bisa menunggu dua sampai tiga jam,” ungkapnya.
Akibatnya, Ujang harus berjalan sekitar 200 meter menuju rumah adiknya yang masih terlayani air bersih dari jaringan PAM untuk mandi dan mengambil air kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, pria yang sehari-hari berjualan di warung tersebut juga memanfaatkan aliran Kali Baru untuk membersihkan ikan sebelum kembali dicuci menggunakan air bersih di rumah adiknya.
“Kalau pakai air sumur sayang, karena sudah sangat sedikit. Jadi bersihkan ikan dulu di sungai,” ujarnya.
Sementara itu, Petugas Bendung Katulampa, Muhammad Alwan, mengatakan debit air di hulu Sungai Ciliwung masih rendah meski sempat turun hujan pada malam sebelumnya. Kondisi tersebut membuat Tinggi Muka Air (TMA) di Bendung Katulampa bertahan di level 0 sentimeter.
“Debit air masih bertahan di TMA 0 sentimeter. Hujan semalam belum mampu meningkatkan debit secara signifikan,” kata Alwan.
Meski demikian, aliran irigasi melalui Kali Baru masih berjalan normal. Bendung Katulampa tetap mengalirkan sekitar 3.460 liter air per detik untuk kebutuhan irigasi, serta 200 liter per detik sebagai penggelontoran guna menjaga ekosistem Sungai Ciliwung.
Fenomena ini menjadi gambaran nyata dampak musim kemarau yang mulai dirasakan masyarakat. Ketika sumur-sumur warga mengering, akses terhadap air bersih menjadi persoalan mendesak yang membutuhkan perhatian pemerintah agar krisis tidak meluas apabila kemarau berlangsung lebih panjang.

