Pewarta : Fadhel
Kota Sukabumi – Museum Prabu Siliwangi di Kota Sukabumi resmi memiliki Museum Keramik sebagai ruang pamer khusus bagi koleksi keramik kuno yang memiliki nilai sejarah tinggi. Peresmian museum baru tersebut dilakukan setelah melalui proses penelitian dan identifikasi koleksi oleh para ahli dari Lembaga Riset Nasional serta Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) secara bertahap.
Pendiri Museum Prabu Siliwangi, KH. Fajar Laksana menjelaskan, selama 6 (enam) kali proses penelitian, para peneliti berhasil mengidentifikasi ratusan koleksi yang memiliki nilai historis penting. Hasil kajian tersebut juga menjadi dasar pemindahan sebagian koleksi dari gedung lama ke gedung baru agar penataan koleksi lebih representatif.
“Setelah dilakukan penelitian dan identifikasi, ternyata koleksi yang kami miliki memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Karena itu, gedung lama sudah tidak lagi representatif untuk menampilkan koleksi hasil penelitian tersebut,” ujarnya.
Ia mengatakan, rekomendasi para arkeolog menyebutkan koleksi keramik yang jumlahnya mendekati 500 jenis sebaiknya tidak digabung dengan koleksi museum lainnya. Atas dasar itu, lanjutnya, maka dibangun Museum Keramik sebagai ruang khusus untuk menyimpan dan memamerkan benda – benda bersejarah tersebut.
Peresmian Museum Keramik sekaligus gedung baru Museum Prabu Siliwangi dilakukan oleh Direktur Pelestarian Cagar Budaya, Ditjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, Agus Widiatmoko, dan turut dihadiri oleh perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana serta para tokoh budaya dari Jawa Barat dan Sukabumi.
Disebutkan bahwa koleksi keramik tertua di Museum Prabu Siliwangi yang telah berhasil diidentifikasi berasal dari abad ke – 8 hingga ke – 10 Masehi, meliputi keramik Dinasti Tang, Dinasti Song, hingga keramik dari Timur Tengah, termasuk dari Mesir.
Bahkan, ujarnya beberapa koleksi merupakan temuan yang berasal dari kapal karam, sehingga semakin memperkuat nilai arkeologis koleksi yang dimiliki museum tersebut.

“Dari hasil identifikasi sementara terdapat 368 koleksi keramik yang sudah berhasil didata dan itu sudah bisa mewakili hampir seluruh dinasti besar di Tiongkok. Hal ini menjadi bukti bahwa sejak sekitar abad ke – 10 Masehi Nusantara telah menjalin hubungan perdagangan dengan berbagai bangsa,” jelasnya.
Selain ke 368 koleksi yang telah teridentifikasi, masih terdapat sekitar 500 jenis keramik lainnya yang masih menunggu proses penelitian lebih lanjut. Sebelumnya, sejumlah koleksi juga telah dieliminasi karena diketahui merupakan replika atau tiruan, sehingga hanya benda asli yang dipertahankan sebagai koleksi museum.
Seluruh hasil identifikasi tersebut telah dibukukan dalam sebuah katalog akademis mengenai koleksi keramik Museum Prabu Siliwangi yang disusun bersama para ahli.
KH Fajar Laksana menuturkan, sebagian besar koleksi berasal dari warisan keluarga besar keturunan Raden Aria Surialaga yang sejak lama mengumpulkan benda – benda bersejarah. Sejak museum dibuka untuk umum pada 2010, koleksi terus bertambah melalui hibah dan titipan dari masyarakat maupun kerabat yang berasal dari berbagai daerah seperti Cirebon, Jakarta, Banten, hingga Sumatera.
“Setelah museum dibuka, banyak keluarga dan masyarakat yang menitipkan koleksi mereka karena ingin benda-benda bersejarah tersebut dirawat dengan baik. Sebagian besar yang datang belakangan bukan hanya keramik, tetapi juga pusaka yang memiliki keterkaitan dengan sejarah koleksi keramik itu sendiri,” katanya.
Dengan hadirnya Museum Keramik, Museum Prabu Siliwangi diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai pusat pelestarian sejarah dan budaya, sekaligus menjadi sumber edukasi mengenai jalur perdagangan kuno dan perkembangan peradaban di Nusantara.













