Ragam

Lapas Garut Kembangkan Peternakan Bebek, Serap Limbah Dapur MBG dan Kulit

adminsigiku.com
×

Lapas Garut Kembangkan Peternakan Bebek, Serap Limbah Dapur MBG dan Kulit

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Fitri

Kabupaten Garut – Persoalan limbah organik yang selama ini kerap menjadi masalah lingkungan justru dimanfaatkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut menjadi sumber pakan ternak. Melalui pengolahan limbah menjadi maggot, Lapas Garut kini mengintegrasikannya dengan peternakan bebek.

Kepala Lapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, mengatakan pengelolaan limbah tersebut merupakan bagian dari upaya Lapas untuk memberikan manfaat lebih luas, termasuk membantu mengurangi persoalan limbah di lingkungan sekitar.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah limbah kulit yang dihasilkan dari aktivitas industri penyamakan kulit di Kabupaten Garut.

Menurutnya, industri kulit menjadi salah satu sumber mata pencaharian masyarakat, namun di sisi lain juga menghasilkan limbah yang berpotensi mencemari lingkungan.

“Garut ini memang terkenal dengan produksi kulit, tapi dampaknya juga limbah yang cukup besar. Kita coba ambil peran, intervensi kesana bersama PT Mandraguna,” ujar Rusdedy.

Selain limbah kulit, Lapas Garut juga telah sekitar satu tahun memanfaatkan limbah dapur organik dari sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sekitar Lapas. Limbah tersebut diolah menjadi pakan maggot yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber pakan untuk ternak.

Kapasitas pengolahan limbah organik di Lapas Garut saat ini mencapai sekitar 500 kilogram per hari. Namun, kapasitas tersebut belum sepenuhnya terpenuhi karena jumlah limbah yang masuk masih bergantung pada volume limbah dari luar maupun aktivitas dapur di dalam Lapas.

Pengolahan maggot kemudian menghadirkan persoalan baru ketika produksinya semakin besar, sementara pasar untuk penjualan maggot masih terbatas. Kondisi tersebut mendorong Lapas Garut mengembangkan peternakan bebek sebagai salah satu bentuk integrasi pengelolaan limbah.

“Untuk menampung hasil produksi pengolahan sampah kita berupa maggot, kita buatkan serapan. Yang paling ideal itu adalah bebek,” katanya.

Dalam penerapannya, maggot tidak diberikan sebagai satu-satunya bahan pakan. Maggot dicampurkan dengan bahan lain seperti dedak, sisa nasi, dan sisa sayuran sehingga komposisi pakan menjadi lebih lengkap.

Peternakan yang awalnya hanya berjumlah 50 ekor bebek tersebut kini berkembang menjadi sekitar 256 ekor. Bahkan, belasan ekor di antaranya mulai memasuki masa bertelur.

Ke depan, telur yang dihasilkan juga direncanakan tidak hanya dijual dalam bentuk telur segar, tetapi akan dikembangkan menjadi produk olahan berupa telur asin.

Rusdedy menegaskan, pengembangan peternakan bebek tersebut bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan bagian dari upaya mencari solusi atas pemasaran maggot yang masih terbatas.

“Bebek ini baru kita kembangkan untuk menjawab problem pemasaran maggot yang tersendat. Jadi untuk kelebihan produksi itu kita integrasikan dengan peternakan,” ujarnya.

Selain untuk pakan bebek, maggot hasil pengolahan limbah tersebut juga berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ayam maupun ikan.

Dengan pola tersebut, Lapas Garut berupaya membangun sebuah siklus pengelolaan limbah yang terintegrasi, mulai dari menyerap limbah organik, mengolahnya menjadi maggot, hingga memanfaatkannya kembali sebagai pakan ternak yang memiliki nilai ekonomi.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Lapas bersama warga binaan untuk mengembangkan kegiatan produktif sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.