Indeks Pembangunan Pemuda

0

Oleh
Drs. Iwan Kurniawan (Kepala SMA Negeri 1 Kertasari/ Penulis Khusus di Halaman Pendidikan Media Cetak dan Online Koran SINAR PAGI)

Seduhan kopi pagi ini terasa lebih pahit. Ini pasti bukan karena kadar kopi dan gula yang tidak seimbang karena yang tadi diseduh kopi sachetan yang dari pabriknya sudah diatur kadar masing-masing.

Bisa jadi penyebabnya karena tadi sempat melihat berita dari media online (@PRFMnews) yang melintas di lini masa medsos yang menyatakan bahwa Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) Provinsi Jawa Barat menempati urutan ke-34 dari 34 provinsi. Selintas, teringat tulisan dr. Taufiq Pasiak, beliau mengatakan bahwa otak kita mengatur juga fisiologi tubuh, mungkin itulah sebabnya kopi jadi terasa lebih pahit.

Tertarik dengan berita tersebut, segera kubuka mesin pencari google dan mengetikan kata kunci sesuai isi berita. Di laman website pikiran-rakyat.com dijelaskan bahwa menurut anggota komisi V DPRD Kabupaten Bandung (PR, 02/02/2020,  red)  Dadang Supriatna, salah satu penyebabnya adalah karena belum meratanya lembaga pendidikan setingkat SMA/SMK/MA. Selain itu, kondisi demografi beberapa tempat yang berbukit-bukit juga menghambat akses pendidikan bagi warga. Beliau mencontohkan di Kabupaten Bandung yang terdiri dari 31 kecamatan hanya ada 19 SMA negeri.

Membaca kata demi kata dari pernyataan anggota komisi V DPRD Kabupaten Bandung tersebut, penulis jadi teringat quote dari Mohammad Hatta, beliau pernah mengatakan, “Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta, tapi Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin kecil di desa”.

Masih di laman website yang sama, Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ineu Purwadewi mengatakan bahwa masih rendahnya IPP Jawa Barat menjadi tantangan bersama. Pelibatan unsur kepemudaan dalam setiap program pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten/kota perlu dioptimalkan ke depannya.

Apa yang dimaksud dengan Indeks Pembangunan Pemuda?

Pembangunan pemuda merupakan agenda strategis Indonesia dalam rangka mempersiapkan generasi masa depan yang tangguh dan mampu berperan dalam pembangunan bansa secara keseluruhan. Dalam hal ini, IPP dapat dijadikan instrumen untuk memberikan gambaran kemajuan pembangunan pemuda di Indonesia.

Mengutip pernyataan Sekretaris Deputi Bidang Pemerdayaan Pemuda, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Esa Sukmawijaya, yang disampaikan pada Asean Youth Conference 2018, IPP atau Youth Development Index (YDI) mencakup lima domain, yaitu: (1) pendidikan, (2) kesehatan dan kesejahteraan, (3) lapangan dan kesempatan kerja, (4) partisipasi dan kepemimpina, serta (5) gender dan diskriminasi.

Kelima domain tersebut memiliki relevansi dengan lima hak pemuda yang tertuang dalam UU Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan. Kelima hak pemuda itu antara lain: (1) perlindungan, khususnya dari pengaruh destruktif, (2) pelayanan dalam penggunaan prasarana dan sarana kepemudaan tanpa diskriminasi, (3) advokasi, (4) akses untuk pengembangan diri, dan (5) kesempatan berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi, dan pengambilan keputusan strategis program kepemudaan.

Urun Rembuk

Di zaman dengan teknologi canggih seperti sekarang ini, dengan akses sumber belajar yang mudah didapat, kita menyaksikan adanya paradoks yang sangat mencolok. Sekarang kita sulit sekali menemukan pemuda seperti Imam Syafi’i, yang di usia belia ketika 13 tahun bukan saja sudah hafal Alquran, namun juga hafal dengan sangat baik kitab hadits dan fiqh paling terkenal saat itu yaitu kitab Almuwatta karangan Imam Malik; atau pemuda seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim yang hafal ribuan hadits. Sekarang ini kita malah merasa miris dengan adanya sebutan-sebutan negatif bagi para pemuda seperti “generasi micin”, “pemuda alay”, atau sebutan-sebutan lain. Ini karena memang para pemuda terlena dan terbawa arus kemajuan zaman, mereka malah menjadi korban tiktok dan game online.

Domain utama dalam Index Pembangunan Pemuda adalah bidang pendidikan. Para guru dan tenaga kependidikan semuanya pasti sudah mengetahui bahwa tujuan pendidikan di Indonesia menitikberatkan pada upaya menciptakan generasi muda yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan melibatkan pemuda ke dalam berbagai aktivitas yang positif dan konstruktif, membina jiwa mereka secara reguler dengan siraman rohani, membentengi mereka dengan tausiyah agar tidak terjebak ke dalam perbuatan maksiat, dan tindak kriminalitas, serta mengajari mereka dengan teladan kebaikan dari orang tua dan para guru di sekolah.

Tentang pentingnya memerhatikan pemuda, Rasulullah SAW berpesan, “Aku pesankan agar kalian berbuat baik kepada para pemuda, karena sebenarnya hati mereka itu lembut. Allah telah mengutus aku dengan agama yang lurus dan penuh toleransi, lalu para pemuda bergabung memberikan dukungan kepadaku, sementara para orang tua menentangku” (H.R. Bukhari).

Ibnu Abbas pernah mengatakan, “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan pemuda, dan seorang alim tidak diberi ilmu pengetahuan oleh Allah melainkan di waktu masa mudanya”.

Saatnya kita munculkan generasi muda idaman berkarakter ashabul kahfi, berakidah Ibrahim, pencita sifat-sifat mulia para nabi.

Cukuplah ayat berikut sebagai peringatan buat kita, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S. At-Tahrim, 66:6).

Kepada rekan-rekan guru, hendaklah kita senantiasa ingat, bahwa para peserta didik adalah ahli kita, keluarga kita di sekolah, maka peringatan yang disampaikan dalam ayat di atas, berlaku pula bagi kita, para pendidik di sekolah.

Sesapan terakhir kopi mulai terasa nikmat ketika dari ruangan sebelah terdengar lembut alunan lagu “Jang” yang dinyanyikan Oon B., terdengar liriknya “Cing pinter tur bener, cing jujur tong bohong, ulah nganyerikeun batur ngarah hirup loba dulur, raksa ucap lampah tekad jeung tabeat ngarah pinanggih bagja, salamet dunya aherat. Jang … jang … cing jadi jalma soleh”.