Ragam

Mari Lebih Cius Melayani Anak Didik

adminsigiku.com
×

Mari Lebih Cius Melayani Anak Didik

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Sekolah itu didirikan bukan untuk proyek dan industri pendidikan. Sekolah itu didirikan untuk melayani dan menolong setiap anak di negeri ini belajar dan bersekolah. Sekolah wajib dikelola berbasis pada layanan prima bagi setiap anak didik. Bahkan akan ada sejumlah anak didik yang lebih membutuhkan layanan lebih.

Bisa kejadian, semua anak nampak berbondong-bondong masuk sekolah dan masuk ruang kelas. Namun apa yang terjadi? Tidak semua anak belajar! Tidak semua anak potensinya tergali dan tersalurkan di sekolah. Malah bisa jadi ada anak didik justru makin bandel sa’at punya teman baru di sekolah. Jangan sampai anak sekolah tetapi tidak belajar dan tiga tahun tanpa makna.

Detiap anak didik pada dasarnya adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Apalagi anak didik yang benar-benar ABK, tentu jumlahnya tidak sedikit. Idealnya setiap anak didik dilayani secara serius dan personal. Namun mengingat menimbang sulitnya melayani anak didik secara personal maka pola pendidikan dan pengajaran di sekolah lebih mudah klasikal dan kolosal. Pola klasikal dan kolosal bagi anak normal tidak terlalu berisiko.

Nah Saya ingin mengajak serius pada para wali kelas, guru BK dan kesiswaan terkait anak “ABK” yang harus dilayani personal. Perlu sentuhan spesial bagi anak-anak khusus agar Ia menjadi anak normal seperti anak didik lainnya. Pendidikan adalah proses yang memanusiakan manusia. Anak didik harus normal menjadi manusia. Kelebihan dan kekuarangannya bisa membuat Ia berbeda dari yang lain.

Perlu sentuhan personal yang serius, terukur, tercatat dan terkontrol progresnya. Nah anak didik yang mana yang harus “dipersonalisasi”? Diantaranya adalah : 1) anak yatim piatu, 2) anak miskin, 3) anak bandel, 4) anak kesulitan belajar (bodoh), 5) anak orang kaya, 6) anak soleh / berkarakter, 7) anak berprestasi, 8) anak prustasi, 9) anak beda agama dan anak berkeunikan lainnya.

Kita masih ingat Reynhard Sinaga? Masih ingat Si Emon? Mereka berdua sa’at dewasa ternyata menjadi “predator” yang sangat ganas. Nah sa’at Ia dahulu bersekolah di SD, SMP, SMA/SMK tidak ada satu pun guru yang menganggapnya sebagai anak berkebtuhan khusus. Ini sangat sulit dan tidak mudah. Layanan guru dan orangtua akan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang setiap anak didik.

Bila layanan guru bermakna, menyentuh, menginspirasi dan memotivasi anak didik maka Ia kemungkinan besar akan imun dari pengaruh kehidupan selanjutnya. Perlunya anak diberi “anti virus” oleh guru dan orangtua sebelum Ia tumbuh dewasa. Sa’at pendidikan gagal melayani pada setiap anak yang “abnormal” karena tanda-tandanya tidak terdeteksi oleh para guru maka ada risiko berat pada masa depan anak.

Bahkan sejumlah koruptor, kriminalis dan pelaku tindak menyimpang ada kaitannya dengan proses pendidikan di sekolah dan keluarga. Sehebat apapun pengaruh lingkungan setidaknya dapat “dilawan” dengan kekuatan karakter personal. Di Finlandia begitu baik kehidupan sosial masyarakatnya karena proses pendidikan berjalan dengan baik. Guru pun dipilih yang terbaik, seleksi ketat, harus S2 dan bergaji tinggi. Menjadi guru adalah pilihan pavorit bukan pilihan sisa atau pelarian.

Spirit di Finlandia adalah layanan prima terhadap dinamika potensi anak didik dan mengutamakan pembentukan adab kejujuran. Masyarakat Finlandia memimpikan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Bagi mereka agar kehidupan bangsanya lebih baik, hindari melakukan hal tak jujur. Mengapa? Agar tidak ditiru oleh generasi penerusnya. Memutus mental ketidakjujura dengan keteladanan prioritas kejujuran.

Finlandia sangat-sangat serus melayani anak didik karena mereka adalah masa depan wajah bangsanya. Kejayaan masa depan bangsa dan keberlanjutan peradaban bangsa ada ditangan anak didik yang hari ini ada di ruang-ruang kelas. Serius melayani mereka secara personal, klasikal dan kolosal adalah bagian dari ikhtiar “merekayasa” masa depan. Sekolah terbaik itu lebih banyak menguatkan budaya apresiasi. Jauh dari menghakimi anak didik apalagi membuli.

Mari para guru, para wali kelas, guru BK dan kesiswaan lebih cius surius dan sangat serius melihat, mengenali, melayani dan mendampingi setiap anak didik. Ibadah terbaik para pendidik adalaha melayani dengan baik setiap anak didik di atas tuntutan formalnya.

Ungkapan, “Jangan tanya apa yang negara berikan pada kita tetapi tanyakan apa yang bisa kita berikan pada negara”. Bagi para pendidik jawabannya adalah layanan secara prima dan sangat serius mendampingi setiap anak didik. Setiap anak didik bagaikan telor di atas tanduk. Salah memperhatikan, menjaga dan melayani, risikonya pecah telor!