Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Forum Komunikasi Kepala Sekolah 69 Jawa Barat)
Saat Nadiem Makarim mengatakan dunia pendidikan sekarang fokus pada literasi, numerasi dan karakter. Hal ini direspon Forum Komunikasi Kepala Sekolah 69 (FKKS69) Jawa Barat. Para kepala sekolah yang tergabung dalam FKKS69 semakin semangat menulis. Bahkan ada satu kepala sekolah SMAN1 Cijeruk mewajibkan semua gurunya menulis artikel pendidikan dan dikirim ke media beritadisdik.com.
Kepala sekolah penulis memang belum dominan. Namun FKKS69 Jawa Barat yang merupakan entitas kepala sekolah gelombang pertama era Gubernur Ridawan Kamil berkomitmen menjadi penulis. FKKS69 adalah forum komunikasi yang mengikat sejumlah 69 kepala sekolah SMA/SMK/SLB hasil seleksi tahun 2019 dari 997 calon kepala sekolah terbaik. Sebagai Ketua FKKS69, Saya sangat bangga melihat giat, geliat dan kemampuan menulis anggota forum.
FKKS69 adalah kekuatan luar biasa bagi Disdik Provinsi Jawa Barat. Sekali lagi entitas FKKS69 adalah kepala sekolah angkatan pertama era Gubernur Ridawan Kamil. Sejumlah narasi dan inovasi yang dilakukan oleh anggota forum tersaji di grup WA. Melihat potensi FKKS69 yang merupakan bagian dari “pasukan” mimpi bersama meraih Jawa Barat Juara Lahir Batin, sangat mengagumkan.
Sejumlah tulisan hasil pemikiran para kepala sekolah mulai mengisi dunia maya dan media cetak. Kepala sekolah penulis itu penting. Mengapa penting? Diantaranya adalah untuk memberikan keteladanan bagi para guru dan anak didik di era literasi. Tidaklah mungkin era literasi yang disarankan Mendikbud Nadiem Makarim bisa dilaksanakan di setiap sekolah sementara kepala sekolahnya pun tidak suka menulis.
Eranya kepala sekolah penulis. Eranya kepala sekolah memenuhi media cetak atau medsos dengan sejumlah narasi pendidikan yang eksploratif. Bahkan di salah satu SMAN di Kabupaten Bogor seorang kepala sekolah sedang menyusun buku “Wajah GTK”. Dalam buku ini Ia menuliskan semua sosok GTK yang ada di sekolahnya. Ditulis dari sudut pandang apresiasi dan keunikan GTK yang ada di sekolahnya.
Bahkan uniknya lagi para guru akan “membalas” dengan membuat tulisan yang sama. Ketika kepala sekolahnya menuliskan semua keunikan dan khas positif GTK yang ada di sekolahnya, maka semua GTK berencana menuliskan profile kepala sekolahnya dari sudut pandang para GTK. Ini bagaikan “balas pantun literasi” yang positif untuk menghidupkan budaya menulis.
Sebagai manajer dan pimpinan di satuan pendidikan memang para kepala sekolah sebaiknya terbiasa menulis. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, ada lima kompetensi kepala sekolah yang harus terus ditingkatkan. Lima kompetensi itu adalah Kepribadian, Manajerial, Kewirausahaan, Supervisi, dan Sosial.
Kelima kompetensi kepala sekolah ini memang standar. Sebaiknya ditambahkan dengan kompetensi literasi. Kompetensi literatif seorang kepala sekolah akan membantunya untuk “mendokumentasikan” semua giat dan pengalamannya. Kisah sukses bahkan kisah pahit menjadi seorang kepala sekolah bisa didokumentasikan dalam sebuah tulisan. Menulis adalah penting bagi para kepala sekolah.
Betapa indahnya bila ada kepala sekolah yang bisa menjadi penulis terkemuka. Misal memenuhi halaman opini koran Kompas, Media Indonesia, Republika, Pikiran Rakyat dan sejumlah media laris lainnya. Para kepala sekolah harus bersiap menjadi para penulis. Nadiem Makarim mengatakan sebaiknya setiap geliat dan giat pendidikan positif disebarkan di dunia maya agar diketahui publik.
Sampaikan pencapain dan perolehan para kepala sekolah dalam tulisan. Guyur media cetak dan media sosial dengan tulisan kritis, inovatif dan informatif para kepala sekolah. Bahkan bila perlu para kepala sekolah dari Sabang sampai Meraoke “mengepung” Nusantara dengan tulisan-tulisan di semua medsos. Tulisan syiar pendidikan, tulisan prestatif dan tulisan narcistik lainnya.













