Oleh : Abdul Halim
(Wakasek Kurikulum SMAN1 Parungpanjang)
“Semua orang adalah guru, semua tempat adalah sekolah” (Roem Toppatimassang).
Awal-awal kuliah, saya selalu menemukan cara untuk mendapatkan buku, majalah atau jurnal yang sedang menjadi perbincangan hangat kala itu. Cara klasik mahasiwa dari keluarga kelas ‘proletar’. Meminjam secara diam-diam tanpa sepengetahuan pemilik sah buku dan bertekad mengembalikannya, jika ingat.
Ya,… ‘ngutil’ buku teman demi menghemat pengeluaran dan merawat rasa ingin tahu yang menggelagak. Buku hasil ‘kejahatan’ inilah yang selalu menjadi pasangan ‘tidak sah’ paling setia di tengah kesemrawutan rute Depok-Ciputat pada dekade 90 an.
Biasanya yang menjadi incaran selalu buku bertema pendidikan alternatif, ‘kekiri-kirian’, sulit didapatkan dan seringkali isinya merupakan bentuk ‘subversif’ terhadap pemikiran pendidikan arus utama.
‘Pendidikan Kaum Tertindas’ dan ‘Pendididkan sebagai Praktek Pembebasan’ nya Paulo Freire, ‘Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah’ nya Ivan Illich atau ‘Sekolah itu Candu’nya Roem Toppatimasang, mahasiswa IKIP Bandung kala itu.
Mengutip pendapat mereka seolah menjadi ‘mantra’ untuk mematahkan argumentasi lawan bicara. Ada beberapa kritik Ivan Illich terhadap sekolah yang selalu saya ingat sampai sekarang.. Salah satunya adalah tentang sekolah yang fungsi dan konstruksinya dirancang mirip tempat suaka modern seperti blok-blok dalam penjara. Layaknya penjara, di sekolah, siswa adalah para tawanan, guru adalah para sipir dan kepala sekolah bertindak sebagai kepala sipirnya.
Ivan Illich juga berpandangan bahwa sekolah yang baik harus bertujuan : (1) memberi kesempatan semua orang untuk bebas dan mudah memperoleh sumber belajar pada setiap saat dan (2) memungkinkan semua orang yang ingin memberikan pengetahuan mereka kepada orang lain dapat dengan mudah melakukannya, demikian pula bagi yang ingin mendapatkannya, (lllich, 1982: 99-100)
Sebagai tawanan, para siswa terampas kemerdekaan dan kebebasannya, baik fisik maupun fikiran, di balik tembok penjara yang secara eufimistik berganti nama menjadi sekolah.
Mereka harus mengikuti aturan secara ketat, kapan harus masuk, istirahat dan keluar. Isi kepala mereka harus terus diindoktrinasi dengan seperangkat kurikulum yang diturunkan dalam satuan materi pelajaran. Para sipir menjalankan dan mengawasi aktivitas para tawanan. Sementara kepala sipir memastikan bahwa para sipir melaksanakan tugas sesuai arahan.Singkatnya, yang terjadi di sekolah bukan lah proses humanisasi, tapi sebaliknya, dehumanisasi.
Bagaimana dengan SMAN I Parungpanjang, sekolah tempat saya mengajar yang dihuni oleh 177 siswa ? Apakah mereka diperlakukan sebagai tawanan, para guru bertindak sebagai sipir dengan kepala sekolah sebagai sipir besarnya ?.
Horor pandemic Covid 19 tanpa disangka sampai pula ke Parungpanjang. Korban mulai bermunculan. Zona merah disematkan. Protokol pencegahan harus diterapkan, seperti sedang mengalami sebuah patahan radikal yang belum pernah ada presedennya. Kami pun gamang. Bagaiamana mengelola pembelajaran tanpa kehadiran siswa ?.
Diskusi dan rapat digelar berkali-kali untuk merumuskan solusi yang feasible, baik bagi para guru, maupun siswa. Jangan bayangkan sekolah kami berada di lokasi yang ideal untuk belajar. Deru ribuan truk tambang dengan debu yang menyesakkan sudah menjadi pemandangan harian. Siswa pun sebagian bertempat tinggal di wilayah yang konturnya berbukit dan bergunung-gunung.
Banyak orangtua siswa abai terhadap perkembangan belajar anak-anaknya. Akses internet sulit didapatkan. Belum lagi kendala kultural masih ada orangtua yang melarang anaknya menggunakan alat komunikasi. Akhirnya kami menyepakati 4 siklus untuk mengendalikan dan memastikan pembelajaran jarak jauh,
1. Pekan pertama, pemberian materi pelajaran,
2. Pekan kedua penugasan,
3. Pekan ketiga pengumpulan tugas,
4. Pekan ke empat evaluasi.
Awalnya, para siswa mungkin menikmati kebebasaannya ketika di rumah. Seperti kata Illich, kami berharap, dengan berada di rumah bisa memberikan kesempatan dan kebebasan untuk mengakses sumber belajar seluas-luasnya kepada siswa, dimana pun, kapan pun, dari siapa pun. Tapi lama kelamaan sepertinya mereka mulai dilanda kejenuhan. Tugas-tugas yang disampaikan secara daring hanya dikerjakan oleh 49,2 % pada bulan Agustus dan 52,7%. pada bulan September 2020.
Menjawab kekhawatiran yang mulai menyergap pada Oktober 2020 kami mengundang siswa ke sekolah untuk Penilaian Tengah Semester.
Mengejutkan. Hampir semua siswa datang dan mengumpulkan tugas nya. Antusiasme siswa untuk datang dan bertemu dengan sesama tak dapat disembunyikan. Apalagi selalu ditemukan hal-hal baru di ‘penjara’ yang terus menerus bersolek di tengah kesunyian.
Ternyata sekolah tetap mejadi tempat paling ideal untuk belajar dan menjadi tempat paling membebaskan, sementara rumah, mungkin telah berubah menjadi ‘penjara’ baru bagi mereka.
