Oleh : Budi Setia Baskara
Perubahan adalah proses yang abadi. Kita tidak dapat menghentikannya, yang dapat kita lakukan hanyalah mengantisipasi atau mengimbanginya dengan strategi dan cara yang tepat melalui proses pembelajaran (learning).
Dalam kehidupan organisasi, untuk dapat mewujudkan sebuah organisasi yang efektif merupakan tantangan besar terutama dalam kondisi cengkraman pandemi COVID-19 yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda berakhirnya.
Organisasi dituntut untuk dapat terus bergerak fleksibel dan adaptif dalam memenuhi berbagai aspirasi anggotanya, organisasi harus memiliki kemampuan ekstra untuk dapat belajar secara terus menerus agar senantiasa menjadi garda terdepan sebagai lokomotif perubahan melalui berbagai strategi yang relevan guna mendorong terjadinya proses organisasi pembelajaran (Learning organization).
Perubahan yang sangat mendasar pada kondisi pandemi ini adalah, di mana setiap agenda pertemuan, diskursus, dan berbagai aktivitas organisasi yang biasanya dilakukan dalam bentuk tatap muka langsung berganti dengan video conference baik itu melalui aplikasi zoom meeting, melalui Whatsapp group, messenger meeting dan beragam aplikasi lain yangbetul-betul sebuah kegiatan terbarukan dalam kehidupan organisasi.
Tuntutan pemahaman dalam penggunaan aplikasi sangat diperlukan plus perlu adanya peningkatan kemampuan literasi sebagai penunjang lancarnya aktivitas tersebut. Tak jarang bahkan mungkin saja banyak persoalan yang dibahas lewat media sosial tidak seakurat dengan tatap muka langsung. Terjadinya miss-komunikasi atau miss-understanding menjadi persoalan baru yang harus disikapi secara matang.
Kita sadar, keterbatasan dalam komunikasi melalui video conference tidak akan bisa mengupas permasalahan secara menyeluruh, beragam pendapat, opini atau curhatan yang tersampaikan dalam bentuk tulisan akan memunculkan beragam penafsiran yang akhirnya bukannya menjadi sebuah diskusi tetapi menjadi “topik ghibah” yang saling menyudutkan. Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal terjadinya keretakan dan silang pendapat yang akan merugikan bagi sinergitas organisasi.
Disinilah pentingnya kita mengasah peningkatan pemahaman tentang visi-misi organisasi sebagai upaya mempersatukan beragam aspirasi dan aspirasi anggota dalam wadah kolektif-kolegial di mana perbedaan merupakan sebuah anugrah, perbedaan merupakan alat pemersatu dan perbedaan merupakan bagian dari manajemen konflik sebuah organisasi.
Cara berpikir inilah yang diungkapkan oleh Peter M Senge, 1994 yang disebut dengan cara berpikir sistemik, yakni kerangka berpikir yang dilakukan untuk melihat segala sesuatu secara penuh keseluruhan, sehingga membantu memperjelas keadaan yang sesungguhnya dan dapat menunjukkan cara-cara merubahnya dengan efektif (apabila diperlukan).
Maknanya adalah, bahwa dalam kehidupan berorganisasi kita harus menjadi pribadi yang matang, dalam hal ini bukan saja memiliki sikap mandiri tetapi juga mampu berinteraksi dan bekerja sama secara efektif, saling menghargai, saling apresiasi dan memiliki komitmen untuk belajar terus menerus (committed to their lifelong learning). Komitmen dan kapasitas inilah yang sering disebut oleh Peter M. Senge sebagai disiplin personal mastery dalam upaya maksimal kita untuk memberikan pelayanan (service) terhadap anggota.
Pengalaman menunjukkan bahwa suatu organisasi yang berhasil dan menikmati perkembangannya yang pesat, pasti organisasi tersebut memiliki tujuan-tujuan, nilai-nilai dan misi yang dihayati dan menjiwai seluruh komponen dari organisasi tersebut. Karenanya, kemampuan untuk memadukan visi visi individual dalam organisasi menjadi visi bersama yang merupakan prinsip-prinsip mendasar dan pedoman bersama, merupakan hal yang penting untuk dikaji.
Keterampilan membangun visi bersama (shared vision), memerlukan kemampuan untuk merumuskan gambaran masa depan (picture of the future) yang secara generik mampu menumbuhkan komitmen dan partisipasi secara keseluruhan.
Membangun Organisasi pembelajaran (Learning Organization) harus menjadi langkah antisipasi dan cara PGRI dalam mengimbangi tuntutan perkembangan llmu dan Teknologi yang rasional, karena perubahan tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan upaya berkelanjutan dan kebersamaan secara kolektif-kolegial, loyalitas tanpa batas, pemimpin visoner yang memahami betul kebutuhan organisasi serta diiringi adanya peningkatan softskill dan hardskill dalam mendengar secara empati tentang aspirasi, harapan dan permasalahan anggota sebagai salah satu kebiasaan efektif untuk meraih keberhasilan dalam organisasi (team to understand then to be understood).
Tetap jaya PGRI-ku yang selalu tetap eksis mewarnai pandemi covid-19 dengan berbagai aktivitas dan karya nyata sebagai bentuk perjuangan garda terdepan bangsa dalam memajukan pendidikan nasional dan memperjuangkan profesi, perlindungan serta kesejahteraan guru di NKRI.
“Kontemplasi Pemikiran”
