Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Saat berada di toilet Saya teringat narasi akhir dari tulisan Darmaningtyas yang ada di Kompas.id berjudul “Ganti Kurikulum Lagi”. Tulisan ini Saya dapatkan dari teman seorang kepala sekolah penggerak. Ia bertanya singkat. “Bagaimana tulisan ini Pak ?”.
Saya jawab Darmaningtyas dulu juga pernah membuli guru pramuka. Ia menyebut guru pramuka sebagai pembunuh dari siswanya. Saat tragedi susur sungai. Saya katakan Darmaningtyas adalah pengamat pendidikan “bermasalah”.
Kini dalam tulisannya Ia kembali membuli. Dulu membuli guru pramuka, kini membuli entitas kepala sekolah penggerak. Ia menuliskan bahwa kepala sekolah penggerak adalah “kelinci percobaan” dari Mas Nadiem yang “tersesat”.
Dari toilet Saya mencoba merefleksi terkait diskursus di atas. Darmaningtyas adalah pengamat pendidikan. Silahkan saja mengkritisi pemerintah atau Kemdikbud Ristek. Namun jangan seret entitas kepala sekolah sebagai kelinci percobaan.
Wajar memang bila pengamat, tokoh pendidikan atau siapa pun yang tidak dipakai atau dilibatkan di pemerintahan akan berkomentar miring. Bahkan komentarnya bisa sangat pedas dan tak elok. Bahkan loncat dari rel etika.
Membuli para kepala sekolah penggerak yang lolos seleksi gelombang pertama adalah tak elok. Kepala sekolah penggerak gelombang pertama sebanyak 2500 disebut sebagai kelinci percobaan. Padahal mereka terseleksi dari 20 ribu kepala sekolah terbaik peserta seleksi. Ini tak elok.
Wajar kalau pengamat atau praktisi pendidikan yang tidak dipakai oleh pemerintah mengkritisi, tapi jangan membuli. Ini tulisan ke dua Saya terkait sosok Darmaningtyas yang lebay dalam membuli pendidik. Dulu membuli guru Pramuka, kini kepala sekolah penggerak.
Sebuah narasi stigmatik yang pesimistik memang tak terlalu baik bagi siapa pun. Apalagi bagi entitas guru penggerak dan kepala sekolah penggerak yang sedang berusaha membangun sekolah terbaik dalam paradigma baru.
Hadirnya era Merdeka Belajar, Guru Penggerak, Sekolah Penggerak dan bahkan sejumlah transformasi kebijakan pendidikan lainnya adalah sebuah upaya. Setiap upaya dan langkah-langkah kebaruan yang dilakukan Nadiem Makarim tentu punya niat baik.
Niat baik Nadiem Makarim memperbaiki dunia pendidikan yang menurutnya selama puluhan tahun kurang berhasil. Nadiem Makarim akan banyak mendapatkan kritik pedas dan bahkan buli. Ia adalah generasi milenial yang dianggap terlalu muda dan distigma bahwa dunia pendidikan bukan dunianya.
Ia lahir dari dunia gojek. Ia distigma tidak akan mampu mengelola dunia pendidikan dengan baik. Faktanya sampai saat ini Ia tidak kena reshuffle, malah mendapatkan dua kementerian : Dikbud dan Ristek. Faktanya masih bertahan sebagai Mendikbud Ristek.
Fakta lainnya Nadiem Makarim adalah generasi muda yang sudah berbuat banyak untuk negeri ini. Ia bukan politisi. Ia bukan orang yang nyosor butuh jabatan dan pekerjaan. Ia adalah orang yang sudah membuat lapangan pekerjaan bagi jutaan masyarakat Indonesia.
Nadiem Makarim adalah orang yang sudah berbuat bagi kepentingan rakyat Indonesia sebelum menjadi menteri. Perkekonomian menjadi hidup dengan Gojek. Apalagi saat ini, era PPKM, AKB dan era pesan antar makanan dan barang.
Apa yang sudah dilakukan Darmaningtyas ? Dari dalam toilet saya merefleksi diri. Bahkan apa yang sudah Saya lakukan ? Jangan-jangan kita hanya produktif bolak-balik ke toilet sehari sekali karena banyak makan dan minum namun minus prestasi dan karya bagi bangsa dan negara.
Bicara, mengomentari dan menulis itu mudah. Namun apa yang sudah kita berikan dan kita buat bagi negeri ini, itu yang sulit. Burung pandai berkicau biasanya tak pandai membuat sarang. Tong kosong itu nyaring bunyinya. Anjing menggong-gong itu biasa, kafilah akan terus berlalu.
