Liputan Khusus

KH Buya Syakur Yasin MA Bahas Persatuan & Perdamaian Dari Kesetaraan Sebagai Hamba Alloh

2
×

KH Buya Syakur Yasin MA Bahas Persatuan & Perdamaian Dari Kesetaraan Sebagai Hamba Alloh

Sebarkan artikel ini

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Jakarta)-, Dikutip dari akun You Tube bernama KH Buya Syakur Yasin MA  yang memiliki jumlah 903 ribu subscriber saat mempublikasikan ceramah KH Buya Syakur Yasin MA di Mabes Polri Jakarta. Dalam isi dakwahnya dijelaskan untuk membangun persatuan dan perdamain perlu ada simbol dan kesetaraan dalam kehidupan manusia.

KH Buya Syakur Yasin MA menyampaikan Saya ingin menyampaikannya kesimpulannya dulu, nanti baru penjelasan-penjelasannya. Supaya nanti jangan ada kesalahpahaman bagi para pendengar. Apabila kita ingin belajar benar maka dengan satu persyaratannya Jangan pernah merasa benar. Karena kalau orang sudah merasa benar, itu sudah tidak benar. Nabi Muhammad itu orang yang dijamin benar oleh Tuhan, dirinya tidak pernah merasa benar, ucapnya mengawali ceramahnya.

Pesan beliau kepada umatnya adalah hai manusia bertaubatlah kepada Allah, sedangkan nabi Muhammad juga bertobat setiap hari hampir 100 kali, padahal orang yang dijamin benar itu merasa banyak kesalahannya. Karena ketika kita sudah merasa paling benar sesama makhluk, maka orang yang merasa paling benar itu berpotensi menyalahkan siapapun yang tidak sama dengannya. Apa yang dia yakini akan bertengkar dengan siapapun yang berbeda pendapat ujungnya orang yang merasa paling benar akan merasa mendapat mandat dari Tuhan yang bisa memaksa orang lain harus seperti apa yang dia yakini. Kebenaran yang seperti inilah inti awal daripada radikalisme memaksa orang lain harus seperti dirinya.

KH Buya Syakur Yasin MA mengajak berpikir bersama dengan pertama kali kita melihat kepada sosok Nabi Muhammad sendiri dengan pertanyaan. Apakah Nabi Muhammad pernah menghayal atau bercita-cita berkeinginan menjadi Nabi?… Ini pertanyaan penting kalau kita lihat ke belakang Nabi Muhammad sejak kecil, dia punya cita-cita utama dalam kehidupan masyarakatnya itu mendamaikan teman-temannya yang suka bertengkar. Beliau selalu ingin mempersatukan orang atau suami istri yang mau bercerai. Bersikap intervensi untuk menjaga jangan sampai ada perceraian. Jadi sejak muda Nabi Muhammad terkenal sebagai tokoh pemersatu itu merupakan pengakuan komunitas Arab di Jazirah Arabia, Muhammad sebagai tokoh pemersatu. Seperti ketika kasus berebut untuk meletakkan kembali Hajar Aswad, sehingga diperdeksi akan terjadi perang saudara. Lalu Muhammad hadir mendamaikannya dengan cara indah sekali mengeluarkan sorbannya. Kemudian Hajar Aswad ditaruh di tengah dan setiap kepala suku diarahkan untuk memegang ujung cabang setiap sorban saat membawa hajar Aswad.

Muhammad sebelum menjadi Nabi sudah punya pemikiran yang luar biasa. Disaat pada zamannya sering terjadi perang antara kabilah atau perang saudara. Seperti kebiasaan tawuran yang sudah berpuluh-puluh tahun tidak pernah selesai. Dahulu perang saudara di Jazirah Arab jadi begitu kencangnya.

Maka Muhammad dengan kepribadiannya yang mudah membangun persatuan. Jika beliau diutus menjadi rasul, kira-kira, tebak-tebakan apa misi dan visinya. Saya jawab dengan dengan pasti tidak akan jauh dari apa yang ada pada pikirannya yaitu kata persatuan dan perdamaian.  Makanya ketika dia menyampaikan visi dan misinya kepada umatnya, sebagai Rasul yaitu adalah mengibarkan dengan benderanya kalimat tauhid itu. Menjadi kalimat dari kata besarnya dalam membangun persatuan simbolnya yaitu Lailahaillallah, Tiada Tuhan kecuali Allah.

Semua orang disadarkan atau diarahkan sama setatusnya sebagai hamba Alloh. Tuhan menjadi majikan yang sesungguhnya, sehingga yang benar-benar majikan itu hanya Allah saja di tengah-tengah masyarakat . Dengan konsep persatuan yang dinamai negara kesatuan republik Indonesia atau NKRI, seperti ini merupakan cara membangun persatuan antar manusia. Karena bagaimanapun orang itu akan berkumpul atau bersatu dengan orang-orang yang memiliki kesetaraan yang sama. Jadi dengan demikian pilar kalimat tauhid itu landasan kokoh membangun persatuan.