Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Dewan Pembina PGRI dan Ketua DPP AKSI)
Rasa kebatinan guru dalam diri ini terasa menyatu dengan Dr. Iwan Syahril, Dirjen GTK milenial yang wow. Ia ternyata seorang penyanyi dan pemain gitar. Ahaa, ini luar biasa dan membuat perayaan Hari Guru Nasional di Kemdikbud Ristek menjadi wow dan motivatif.
Saya baru tahu ternyata Ia seorang vokalis dan pemain gitar. Wah Saya punya saingan kini. Ini pemikiran lebay Saya. Ia bernyanyi dan main gitar bersama grup band Niji dalam lagu inspiratif “Laskar Pelangi”. Lagu Laskar pelangi ini membawa pesan moral dan inspiratif bagi entitas guru Indonesia.
Sekali lagi Saya kaget melihat Dirjen GTK memainkan gitar dan bernyanyi bersama grup band Niji dihadapan ratusan guru. Mengingatkan Saya saat nyanyi bareng bersama grup band Tompi dahulu di hadapan anak didik SMAN 1 Kota Sukabumi.
Kalau kita simak penampilan Dirjen GTK saat tampil membawakan lagu Laskar Pelangi bersama grup band Niji ada yang bisa kita maknai. Makna yang bisa kita tangkap adalah pertama bahwa menjadi guru sesuai syair laskar pelangi harus benar-benar datang dari hati dan Lillah.
Segala rintangan, keterbatasan dan kesulitan yang dialami dalam proses melayani anak didik harus dihadapi dengan ketabahan hati mulia seorang guru. Guru harus jadi “Malaikat penyelamat” masa depan anak didik. Keunikan masing-masing anak didiknya bila disentuh penuh kasih sayang, dengan hati yang tulus maka setiap anak akan tetap bertumbuh dan bahagia.
Mimpi indah Sang Anak akan terus berkembang dan bertumbuh bila Sang Guru mengajar, mendiik, menginspirasi dengan hati penuh cinta. Guru adalah Malaikat berwujud manusia yang harus membuat semua anak bahagia, tersenyum ditengah ragam latar belakang dan keterbatasannya.
Pesan kedua, menjadi guru harus multitalenta. Multitalenta dalam melakukan pendekatan pada anak didik. Talenta komunikasi, talenta inspiratif, talenta motivatif, talenta kreatifitas, talenta persahabatan, talenta kewirausahaan, talenta afirmatif, talenta pedagogik tentunya. Termasuk talenta seni bermain gitar dan bernyanyi seperti yang diperlihatkan Dirjen GTK saat acara HGN, mengapa tidak?
Pesan ketiga, sebagai putra seorang guru SMA, lahir dari keluarga guru, darah guru, Dirjen GTK ingin agar seluruh guru Indonesia benar-benar mampu menjadi guru terbaik bagi setiap anak didiknya. Keterbatasan dan ragam persoalan guru adalah tantangan sekaligus ibadah terbaik bagi setiap guru.
Dihadapan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, entitas guru adalah pembawa pesan Ilahiah dan pengusung lahirnya akhlak mulia masyarakat masa depan melalui layanan terbaik pada anak didik saat ini. Apa yang terjadi di ruang-ruang kelas saat ini, apa yang terjadi antara guru dan anak didik saat ini adalah apa yang akan terjadi pada wajah masa depan bangsa kita.
Dalam tulisannya di Kompas.com, bertepatan dengan Hari Guru Nasional 25 November, Dirjen GTK Iwan Syahril mengajak guru untuk memiliki grow mindset, menjadi instructional leadership dengan sikap memuliakan anak didik, mendidik secara holistik/kaffah dan mendidik sesuai zaman dan kodrati anak didik.
Mari para guru Indonesia “Bergerak Dengan Hati, Pulihkan Pendidikan”. Menjadi guru adalah menjadi ahli ibadah yang tersambung ke masa depan kejayaan bangsa. Apa yang terjadi di ruang-ruang kelas hari ini, apa yang terjadi antara guru dan anak didik hari ini adalah apa yang akan terjadi pada masa depan Indonesia.
Sekolah adalah rumah ibadah pendidikan terbaik. Menjadi guru adalah jihad pendidikan terbaik. Berhamba pada anak didik adalah diksi yang menjelaskan bahwa anak didik harus jadi subjek, senter dan perhatian utama semua guru diatas segalanya. Segala layanan kebaikan hakektnya berhamba pada Tuhan yang maha Esa











