Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Praktisi Pendidikan)
Dalam tulisan sebelumnya Saya pernah narasikan humbelitas dan “kasih Sayang” sejumlah profesor pada orang yang sedang belajar. Sebelumnya Saya tulis dua profesor luar biasa, yakni Prof. Dr. Moh. Surya, Prof. Dr. Agus Suradika dan Prof. Dr. Dadan Wildan Anas.
Kini Saya tulis Prof. Dr. Cecep Darmawan. Ia termasuk profesor yang punya unikasi dan humbelitas pada sesama pembelajar. Sudah sejak lama Saya pelajari profesor yang satu ini.
Beliau pun menjadi pengantar satu buku khusus yang Saya cetak. Begitu mudah dan “Dermawan” Cecep Darmawan saat diminta memberi pengantar sebuah buku. Lebih khusus lagi, bila tulisan Saya “aneh-aneh” Beliau selalu japri.
Rasanya Saya punya “dosen pembimbing” gratis. Ini satu budaya positif dari seoarang yang berilmu untuk menebar manfaat pada sesama. Profesor yang satu ini Saya juluki “Profesor Webinar”. Ia bagai tak henti menjadi narsum webinar dimana-mana.
Dalam sebuah WAG yang ada Beliaunya, Saya katakan, “Prof. Cewan ada dimana-mana, dimana-mana ada Prof. Cewan”. Maksudnya Beliau selalu ada dalam berbagai webinar. Profesor Webinar dari UPI Bandung.
Pagi ini, Jum’at berkah, Saya pun mendapat kritik atau bimbingan intelektual terkait tulisan Saya yang berjudul PGRI Ruh Guru. Beliau memberi masukan yang konstruktif dan subtantif. Sebagai penulis tentu Saya ambil manfaat dari saran Beliau.
Dalam perjalanan berelasi dengan sejumlah profesor, 99 persen mereka humble dan luar biasa. Walau ada 1 atau 2 profesor yang aneh dan, “kok begitu”. Tapi hanya satu dua.
Bila guru SD/SMP/SMA sederajat tak mungkin jadi guru besar atau profesor maka bergaul saja sama mereka. Kita harus cerdik “curi” ilmu dan pengalamannya. Mencuri yang sah adalah mencuri pengetahuan agar kita lebih manusiawi.
Mari kita “manfaatkan” para profesor agar kita serap ilmu mereka. Bersama siapa kita berteman, akan berdampak pada peningkatan atau penurunan kualitas diri kita. Mayoritas profesor adalah manusia yang sudah “nyundul” langit akademik.
Para profesor mayoritas adalah oarang “gila” pada bidangnya. Sejumlah profesor adalah orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya. Ia Insyaallah hanya berpikir memberi, menebar dan terus bermanfaat pada sesama.
Dalam sejarah Hindu Budha dan sejarah peradaban masa lalu, para Brahmana adalah starata atau status tertinggi di masyarakat. Kini para Brahmana itu adalah para Profesor, Ulama, Guru dan para penebar ilmu pengetahuan.
Tentu seorang profesor pun masih seorang manusia. Masih punya keterbatasan dan kekurangan. Apalagi kita yang masih jauh dari strata akademik guru besar. Sukses para guru besar mengabdi di perguruan tinggi dan di masyarakat. Sesuai kepakarannya











