Menyoal Narasi Sang Menag

0
227

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Begitu heboh dan panas pernyataan Sang Menag terkait speaker. Ribuan pendapat negatif ditimpakan kepadanya. Wajar dan pasti demikian. Dengan mudah masyarakat akan mengaitkan suara adzan dengan suara dog. Sekali lagi ini wajar dan pasti kontroversial. Mengapa ? Terutama ada suara dog.

Andaikan narasinya suara kucing atau unta tentu akan beda. Sang Menang terlalu ekstrim mengumpama suara dog. Walau pun dalam narasinya diumpama tempat ibadah non muslim dahulu. Ia mengatakan suara di mesjid, di tempat ibadat non muslim dan orang yang memelihara dog di sebuah komplek perumahan.

Dalam video yang tersebar Ia berbicara tiga dimensi suara yang bisa mengganggu ruang publik yang beragam kepentingan. Pertama tempat ibadat muslim, ke dua non muslim dan ke tiga suara dog bila kita tidak mengatur dengan baik. Orang muslim tentu akan tersinggung karena ada narasi dog. Mungkin kalau narasi umpama dengan kucing akan lebih adem.

Mengapa orang non muslim tidak terlalu marah ketika sesudah tempat ibadatnya disoal kemudian ada umpama dengan dog ? Karena dog bagi non muslim adalah sahabat baik bagaikan kucing pada orang muslim. Padahal menang ingin menyampaikan kritik pada entitas non muslim yang suka memelihar dog. Gonggongannya bisa sangat mengganggu, terutama bagi orang muslim.

Sang Menang menurut Sang Hafiz, Dr. KH. Tuan Guru Bajang niatnya baik. Ia pun cucu ulama. Dari ormas Islam besar. Tidak ada niat buruk menurutnya. Walau pun niatnya baik versi Sang Hafiz, tetap saja membuat gaduh dan kontroversial. Apalagi yang mempublikasi berasal dari tokoh salah satu partai. Ahli IT dari sebuah partai politik.

Faktanya menjadi runyam. Saling lapor. Sang Menang dilaporkan dan Sang Politisi ahli IT pun dilaporkan pula karena dianggap mempolitisasi atau memelintir video. Jadi rame. Termasuk respon publik terutama yang berasal dari basis politik non pendukung pemerintah. Makin rame, rame banget. Bahkan ada Ibu Ibu demo dengan menyalahkan Jokowi. Makin rame.

Bagi masyarakat kita terutama basis politik yang gagal “ganti presiden” apa pun yang dilakukan pemerintah akan minus apresiasi. Apalagi bila ada celah yang bisa diplintir bisa jadi bahan dulang simpati partai dan memperburuk citra penguasa. Apa pun hal baik yang dilakukan pemerintah akan ditanggapi dingin. Sedikit saja salah, bledug dar der dor, panas meledak emosi publik.

Nuansa halu ganti presiden bertransformasi ganti Sang Menang. Sekali lagi ini wajar dan biasa dalam dinamika sosial politik. Ungkapan “Lawan tak pernah benar, kawan selalu benar” akan selalu mengemuka. Sah sah saja rakyat berkomentar sesuai daya tangkap nalarnya. Makanya para pejabat atau Sang Menag harus hati hati bernarasi karena mayoritas publik butuh bahasa yang adem.

Pejabat harus pandai basa basi walau terasa basi. Pejabat yang agak galak dan vulgar dalam bernarasi rawan kontroversi. Publik kadang butuh bahasa basa – basi yang tidak nyrempet urusan sensitif. Sensitifitas masyarakat kita masih reaktif dalam hal tertentu. Dalam hal lainnya diam diam bae. Sekali lagi, pejabat harus sadar publik kita sensitif dalam hal tertentu.

Kebayang kalau sejumlah ormas terlarang masih legal, akan makin runyam. Ungkapan Dr. KH. Tuan Guru Bajang harus kita pertimbangkan bahwa Sang Menang niatnya baik. Niat baik ? Tentu saja niat baik. Ia seorang muslim yang baik, cucu ulama, tokoh ormas muslim besar dan kader muda potensial. Kita maafkan salahnya kalau dianggap salah dan kita hargai niat baiknya.

Setidaknya tulisan ini dapat kita simpulkan bahwa Sang Menag harus lebih jeli merangkai diksi. Publik pun harus literatif menangkap substansi. Waspada ulah politisi sekali pun ahli IT. Waspada banyak pihak yang selalu mencari citra dibalik kontroversi. Sang Menag adalah seorang muslim, terutama sesama muslim harus saling memaafkan. Legacy bahwa entitas muslim adalah pemaaf dan literet.