OPINI/Artikel

Legacy Jokowi

adminsigiku.com
×

Legacy Jokowi

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Bangsa Indonesia pasca kontestasi Pilpres tahun 2019 mendapatkan pembelajaran khusus. Pembelajaran khusus apa? Diantaranya adalah pembelajaran kolaborasi. Spirit kolaborasi adalah spirit kekinian, spirit disruptif dan spirit gotong royong sesuai dasar negara Pancasila.

Spirit kolaborasi adalah sebuah keniscayaan zaman ini.Kolaborasi adalah sunatullah. Bukankah sukses penyebaran agama, semua agama adalah jasa para Nabi dan kolaborasi dengan para sahabat Nabi? Termasuk sukses politik dan membangun kebangsaan haruslah kolaborasi.

Alangkah indah pasca “esktrimitas” kontestasi politik menjelang Pilpres tahun 2019 di-ending dengan masuknya Prabowo dan Sandi dalam kabinet berkolaborasi dengan pemerintah. Jokowi, Ma’ruf Amin, Prabowo dan Sandi, telah memberikan legacy sejarah kolaborasi yang baik pada masa depan.

Sekitar 20 atau 30 tahun kemudian nama Jokowi, Ma’ruf Amin, Prabowo dan Sandi akan tercatat dalam sejarah kebangsaan Indonesia sebagai tokoh kolaborasi kebangsaan yang baik. Walau saat ini terutama kelompok tertentu Prabowo dan Sandi diangggap “menyakiti”. Wajar inilah diantara “residu” proses edukasi politik.

Jokowi telah memberikan teladan politik kolaborasi, rekonsiliasi dan ademisasi pada emosionalitas publik pasca Pilpres. Ini patut ditiru para pemimpin masa depen Indonesia. Faktanya ke empat tokoh di atas adalah yang terbaik secara politik versi rakyat Indonesia. Ketika yang terbaik kolaboratif tentu akan sangat baik.

Bila ada ormas-ormas terlarang atau kekuatan kelompok tertentu sangat tidak setuju atau kecewa atas politik kolaborasi para pemimpin di negeri ini wajar saja. Apalagi yang kecewa adalah ormas terlarang tentu tidak terlalu masalah. Asal jangan kecewakan rakyat baik yang kebanyakan.

Negara ini milik rakyat nusantara. Milik rakyat Indonesia. Terutama milik rakyat yang leluhurnya benar-benar dari tanah nusantara. Tanah nusantara yang pernah diinjak-injak kaum kolonialis. Tanah nusantara, tanah Indonesia dan bangsa Indonesia adalah pemilik kedaulatan negeri ini.

Mari kita tatap masa depan dengan optimis dan menguatkan spirit kolaborasi, rekonsiliasi, inovasi dan disrupsi. Spirit oposan, menghakimi pemerintah dan merendahkan derajat personal pemimpin pemerintahan adalah kurang baik. Kritik wajib, afirmasi dan apresiasi juga wajib dan wajar.

Yang Maha Kuasa itu adalah Allah, Tuhan yang penuh kasih. Saat Allah, Tuhan yang maha menciptakan, menciptakan manusia, maka Malaikat akhirnya menerima. Hanya Setan yang nyinyir dan protes abadi pada “penguasa” tak mau menerima. Allah, Tuhan yang maha Esa mungkin dianggap “curang”.

Hasil penciptaan Adam AS dianggap “curang” karena hanya terbuat dari tanah, kok harus disujudi/dihormati? Setan tak mau terima. Sekali “kalah” selamanya Setan akan sakit hati, karena Ia merasa lebih baik dan lebih berhak dari manusia. Ini politik Setan yang tak mau kolaborasi dengan Malaikat untuk menghormati manusia.

Mari kita terus belajar dan menguatkan kolaborasi dibanding menghakimi dan iri dengki. Kolaborasi adalah sunatullah. Asbab “kolaborasi” seorang anak lahir. Asbab kolaborasi banyak hal lebih baik terlahir Manusia ditakdirkan kolaboratif, saling membantu.

Satu sitiran keras disampaikan KH Buya Syakur, “Mengapa Pelaku Kejahatan Lebih Bisa Kolaboratif Dengan Sesama Penjahat, dibanding kita sesama orang baik?” Menurutnya, pencuri atau maling “sukses” itu karena kolaborasi sesama maling. Kita orang baik malah saling iri dengki?

Maling terorganisir, terencana dengan baik akan mengalahkan kita yang lelap, tertidur, saling tengkar dan cuek. Mengorganize, kolaborasi dan saling menguatkan sesama dalam memperbaiki nasib kebangsaan kita tentu sangat baik. Ada saatnya kontestasi, kompetisi sebagai ikhtiar. Ada pula saatnya kolaborasi dan sejahtera bersama.

Jokowi, Ma’ruf Amin, Prabowo dan Sandi, pasca kontestasi, kompetisi dan bersaing secara politik, mengahiri dengan kolaborasi Teletubis saja berpelukan. Kita? Saatnya berpelukan dalam kebangsaan Indonesia.

Kolaborasi, gotong royong dan ikuti pemerintah dengan baik. Kritik dengan baik, apresiasi dengan baik. Berikan kritik dengan solusi. Bila tak mampu memberi solusi, berikan apresiasi dalam pencapaian yang baik sebagai suport pada mereka.