Oleh : Dr. H. Adi Dasmin, MM
(Ketua PGRI DKI Jakarta)
Menjadi Pemimpin setingkat Kepala Daerah DKI Jakarta sangatlah kompleks. Kompleksitasnya tentu melebihi daerah lain. DKI Jakarta adalah daerah khusus ibukota negara. Menjadi Kepala Daerah di DKI Jakarta bagaikan menjadi Presiden Kecil Indonesia. Tidaklah heran, Presiden yang saat ini berkuasa berawal dari Gubernur DKI Jakarta.
Anies Baswedan sebagai Kepala Daerah “terseksi” di Indonesia tentu banyak pro kontra. Pujian dan kritik, bahkan cacian akan sangat mudah ditujukan pada seorang pemimpin di DKI Jakarta. Satu prinsip bagi Anies Baswedan yang layak kita jadikan modal mental, terkait bagaimana menghadapi respon publik.
Anies Baswedan mengatakan, “Bila kita dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang”. Ini menjelaskan sebuah prinsip pribadi pemimpin yang harus dimiliki. Apalagi setingkat Kepala Daerah DKI Jakarta, akan banyak mendapatkan pujian dan cacian. Akan sangat banyak modus, intrik dan manuver ditujukan pada para pemimpin.
Dicaci tidak tumbang artinya kuat, teguh pada niat baik. Dipuji tidak terbang artinya tidak lupa diri, lupa tanah yang dipijak. Apalagi sombong. Menjadi pemimpin tahan cacian dan tahan pujian itu penting. Mengapa? Karena dinamika memimpin akan mendapatkan berbagai respon dari publik.
Siap menghadapi cacian dari lawan politik dan pihak yang tak suka adalah penting dalam jiwa pemimpin. Tidak terbang, lupa kebijakan karena dipuji kawan atau masyarakat luas adalah penting. Seorang pemimpin tetap harus berada dalam rel objektif melayani publik walau kiri kanan ada pujian dan cacian.
Dalam ilmu pengetahuan untuk sukses diantaranya harus memilik adversity quotient. Apa itu adversity quotient? Adversity quotient adalah ketahan malangan, tahan banting, tahan dari ejekan dan cacian diantaranya. Bahkan kata Anies Baswedan dalam kelakarnya “Beri kebahagiaan bagi yang mengejek”. Hidup tidak semuanya menyenangkan.
Luar biasa Anies Baswedan dalam memahami caci dan makian publik pada pemimpin. Ia mengatakan hal yang harus menjadi pikiran kita adalah hal-hal subtantif, bukan caci maki atau hinaan orang lain. Pemimpin harus tahan banting, plus tahan pujian tentunya. Tahan pada cacian, pujian dan simak hal-hal subtantif.
Sosok Anies Baswedan adalah seorang kepala daerah yang wajah dan air mukanya selalu memancarkan ketenangan, bukan ketegangan. Tidak sedikit pemimpin di negeri ini yang temperamental dan arogan dalam menanggapi sejumlah masalah atau tantangan. Anies Baswedan benar-benar selalu terlihat, humanis, adem dan memberi keteduhan.
Para pemimpin humanis edukatif sebagaimana sosok Anies Baswedan memang langka. Mungkin karena Ia berasal dari keluarga guru, pernah menjadi pendidik dan bahkan menjadi Menteri pendidikan. Ia lebih terlihat edukatif dan humanis. Orang berpendidikan dan berlatar pendidik bila memimpin sebuah daerah atau negara memang akan lebih adem.
Terutama bagi para guru di Indonesia teruslah menjadi pendidik yang bisa melahirkan lulusan-lulusan yang bertife sosok Anies Baswedan, berkarakter, cerdas, ramah dan santun. Sebagai Ketua PGRI DKI Jakarta tentu Saya sangat beruntung memiliki Ketua Dewan Pembina PGRI DKI Jakarta adalah Gubernur terbaik Indonesia, Anies Baswedan.











