OPINI/Artikel

Tri Pusat Pendidikan Mikro

adminsigiku.com
×

Tri Pusat Pendidikan Mikro

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Bila Ki Hajar Dewantara mengenalkan teori Tri Pusat Pendidikan yakni Sekolah, Masyarakat dan Keluarga (SMK), maka ada pula Tri Pusat Pendidikan dalam entitas mikro di internal sekolah. Apa itu ? tiada lain adalah Siswa, Guru dan Walikelas (SGW).

Siswa, guru mata pelajaran dan walikelas adalah tiga entitas yang sangat-sangat penting dalam keseharian layanan pendidikan di sekolah. Bila ketiganya tidak ada atau ketiganya ada masalah maka masalah pula proses pembelajaran dan dunia pendidikan kita.

Siswa yang istimewa, guru mata pelajaran yang wow dan walikelas yang luar biasa akan melahirkan hasil belajar terbaik. Kolaborasi humanis edukatif antara siswa, guru mata pelajaran dan walikelas akan meminimize gagalnya proses pembelajaran dan pendidikan.

Sungguh indah, suatu saat Saya masuk sekolah ada anak teriak, “Bapaaa”. Ia memanggil seorang guru mata pelajaran yang Ia sukai dan kangenin. Suatu saat Saya pun melihat guru mata pelajarn diskusi dengan asyik terkait mata pelajaran yang anak sukai. Plus Saya pun melihat seorang wali kelas memberi bimbingan pada siswanya yang sedang galau berat.

Membersamai siswa dalam urusan belajar dan tugas perkembangannya oleh para guru dan walikelas tentu sangat wow. Guru adalah orang dewasa yang harus menjadi teman, orangtua di sekolah dan soluter terbaik bagi apa pun dinamika galau anak didiknya.

Alangkah sangat indahnya bila siswa kangen gurunya, guru kangen siswanya. Bila walikelas kangen masuk ruang kelas binaannya dan siswa pun kangen mendapatkan cerita, motivasi dan afirmasi dari walikelasnya. Sekolah adalah taman kata Ki Hajar Dewantara.

Setidaknya taman curhat, taman persahabatan, taman buku bacaan, taman bercanda riang dan taman pertemanana yang baik antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, walikelas dan kepala sekolahnya.

Sebaiknya antara kepala sekolah, guru mata pelajaran dan walikelas berlomba untuk mendapatkan simpati dan apresiasi dari siswa. Caranya ? Cintai dengan sepenuh hati mereka dan layani sebaik-baiknya. Jangan pernah menghakimi, cuek dan apatis atas segala dinamika galau mereka.

Anak didik adalah manusia di usia “fase cari perhatian”. Ini adalah sebuah fase dimana semua guru punya kesempatan mencuri perhatian untuk memperhatikannya. Lagi dan lagi teori Saya terkait “Dekapan Adam” bisa diterapkan.

Apa itu Dekapan Adam ? Dekapan Adam adalah sebuah langkah layanan pendidikan bagi semua siswa, yakni dengan melakukan pendekatan, pengenalan, pengapreasiasian dan pendampingan secara konsisten. Atau Dekati, Kenali, Pantau, Apresiasi dan Dampingi (Dekapan Adam). Ini akan sangat efektif dilakukan.

Andaikan setiap guru mata pelajaran dan guru walikelas mampu menjadi teman, sahabat dan seseorang yang sitimewa di atas semua orangtua siswa yang sibuk dan kurang fokus, maka sungguh wow of the wow. Layak para guru mata pelajaran dan guru walikelas ter-wow mendapatkan reward dari kepala sekolah, mengapa tidak?

Sebuah layanan pendidikan akan sangat baik bila meminjam istilah Prof. Dr. Cecep Darwamawan menempatkan anak didik sebagai nyawa sekolahan, GTK sebagai jantung sekolahan dan sekolahan sebagai raganya sekolahan. Semuanya bergerak bersama, bersama bergerak, berdenyut dalam denyutan edukatif kolaboratf