Pewarta : Ida
Kota Bandung – Setiap hari, ribuan kendaraan bergerak dari Bandung Selatan menuju pusat Kota Bandung. Arus lalu lintas yang padat, antrean panjang, dan waktu tempuh yang tak menentu telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat yang menggantungkan mobilitasnya pada jalan raya.
Namun, sekitar satu abad lalu, masyarakat Bandung Selatan memiliki pilihan transportasi yang berbeda. Kereta api menghubungkan Bandung dengan Soreang, kemudian diperpanjang hingga Ciwidey. Jalur tersebut bukan sekadar bagian dari sejarah transportasi, melainkan pernah menjadi urat nadi mobilitas dan distribusi hasil bumi kawasan Bandung Selatan.
Ironisnya, ketika kawasan tersebut kini berkembang pesat dan kebutuhan mobilitas meningkat berkali – kali lipat, jalur rel itu justru telah lama menghilang.
Rel Dibangun karena Kebutuhan Ekonomi
Jalur Bandung – Ciwidey tidak dibangun tanpa alasan. Pada awal abad ke – 20, Bandung Selatan merupakan salah satu kawasan penting penghasil komoditas perkebunan di wilayah Priangan, terutama teh, kopi, dan kina.
Hasil perkebunan dari Rancabali, Ciwidey hingga Pangalengan harus diangkut menuju Bandung sebelum diteruskan ke Batavia. Pada masa itu, pengangkutan masih mengandalkan jalur pedati yang relatif lambat dan sangat bergantung pada kondisi jalan serta cuaca.
Kebutuhan distribusi yang semakin besar mendorong Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Hindia Belanda, membangun jaringan rel menuju Bandung Selatan.
Pembangunan tahap awal menghubungkan Bandung – Dayeuhkolot – Banjaran – Soreang pada 1917. Jalur tersebut kemudian diperpanjang hingga Ciwidey pada 1924.
Kereta api tidak hanya mengangkut komoditas perkebunan. Seiring berkembangnya permukiman dan aktivitas ekonomi, jalur tersebut juga menjadi sarana mobilitas masyarakat Bandung Selatan.
Artinya, sejak awal, keberadaan rel memiliki satu fungsi utama: menghubungkan pusat-pusat aktivitas manusia dan ekonomi secara lebih efisien.
Satu Abad Berlalu, Persoalannya Berubah
Kini, wajah Bandung Selatan telah berubah drastis.
Perkebunan masih bertahan di sejumlah wilayah, tetapi kawasan permukiman, perdagangan, pendidikan, industri, dan pariwisata berkembang sem











