OPINI/Artikel

Sekolah Cukup Tiga Hari

adminsigiku.com
×

Sekolah Cukup Tiga Hari

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Adalah Dr. Rita Kardinasari sosok yang memesona saat 60an kepala SLTA Ia beri penguatan kapasitas dalam giat Sekolah Berintegritas. Sejumlah narasi, argumentasi dan diskusi yang Ia bawakan membuat sejumlah kepala SLTA senyum-senyum, tertawa, mencatat dan tersadarkan.

Ada sejumlah catatan yang sempat penulis tangkap dari apa yang disampaikan Dr. Rita Kardinasari. Diantara pernyataan yang menarik dicermati adalah terkait ungkapan, “Sekolah Cukup Tiga Hari”. Sekolah cukup tiga hari saja? Apa maksudnya?

Ternyata Beliau menyatakan bahwa sebuah sekolah yang ada di kepulauan tertentu cukup tiga hari saja belajarnya. Diantara alasannya adalah betapa sulitnya perjalanan melintasi lautan untuk ke sekolah. Selain habis waktu di jalan, juga risiko kecelakaan pun bisa terjadi.

Dr. Rita Kardinasari sebagaimana Nadiem Makarim, menyatakan pentingnya kita memiliki fleksibilitas dalam berbagai dimensi. Termasuk sebuah sekolah dimana guru dan anak didiknya sangat sulit untuk menjangkaunya, maka tidak harus 5 atau 6 hari KBM. Cukup tiga hari, misal hanya hari Senin, Selasa dan Rabu.

Keselamatan anak didik dan pendidik, serta sikon yang sangat unik, khusus dan tantangan berat menuju sekolah tidak harus ideal 5 atau 6 hari KBMnya. Cukup hanya 3 hari. Bila dalam teori kepemimpinan, kita mengenal teori kepemimpinan situasional maka dalam KBM pun nampaknya ada KBM situasional.

Agar proses KBM “relevan” dengan tuntutan sikon geografis, psikologis dan tuntutan efektifitas lainnya maka KBM tidak harus 5 atau 6 hari. Sekolah hanya 3 hari bagi publik yang hidup di daerah geografis normal tentu aneh dan tak mungkin. Justru sekolah atau KBM 5 atau 6 hari sangat tak mungkin di daerah yang jangkauan geografisnya tak normal.

Bahkan ada kata yang mencubit dari Dr. Rita Kardinasari terkait peran dan dedikasi entitas guru di dunia pendidikan. Dalam bahasa gaul dan agak nyunda Ia berkata, “Jadi guru jangan kaleng-kaleng, edankeun”. Pesan Beliau begitu “provokatif” agar setiap guru benar-benar punya integritas profesi yang serius dan fokus.

Dalam bahasa yang cukup populer ada ungkapan “Jadilah guru profesional atau tidak sama sekali”. Substansi dan spiritnya sama dengan apa yang disampaikan Dr. Rita Kardinasari bahwa menjadi guru jangan asal. Apalagi hanya sebatas ngajar secara formalistik. Tapi harus benar-benar idelaistik prestatif, edankeun!

Ia pun mencubit entitas guru PNS dalam hal-hal yang nampak spele tapi terkait integritas. Apa itu ? Diantaranya adalah jangan sampai ada guru PNS nyuci kendaraan di sekolah, langganan di sekolah.

Listrik dan air dibayar oleh negara, jangan boroskan anggaran negara. Uangnya kan dari rakyat, bahkan rakyat yang tak mampu. Ia pun mengajak jangan biarkan lampu listrik di sekolahan nyala di siang hari, boros dan penghamburan.

Banyak sekali narasi edukatif dan menyentil dari Dr. Rita Kardinasari yang tak sempat Saya tulis. Intinya Beliau mengajak kita khususnya entitas kepala sekolah dan guru harus menjadi warga negara yang benar-benar punya integritas melampaui tuntutan formalnya. Plus jadilah teladan integritas bagi publik. Kalau bukan kita siapa lagi ?.