Pewarta: Dwi – Jeky
Koran SINAR PAGI (Sumedang)-, Ngalaksa merupakan upacara bercocok tanam padi yang dilakukan oleh masyarakat adat Rancakalong di Kab. Sumedang, sebagaimana halnya budaya masyarakat agraris. Ngalaksa diadakan setiap tahun satu kali dan dilaksanakan secara bergiliran oleh 5 (lima) rurukan, yaitu Rancakalong, Nagarawangi, Pamekaran, Pasir Biru, dan Cibunar. Hadir pada kesempatan tersebut, Kadisparbupora Kab. Sumedang, Kadis PMD Kab. Sumedang, Disparbud Provinsi Jabar, dan DPMD Provinsi Jabar.
Pelaksanaan tahun ini memiliki keistimewaan, karena pembukaan upacara adat Ngalaksa dipusatkan di lokasi wisata Panenjoan yang berada di Desa Pasir Biru. Sementara prosesi adatnya tetap dilaksanakan di Desa Rancakalong. Hal tersebut dipertegas oleh Camat Rancakalong, bahwa penunjukan wisata Panenjoan sebagai lokasi pembukaan Ngalaksa tiada lain untuk memperkenalkan keberadaan wisata Panenjoan.
Sementara itu Kades Pasir Biru Dadan Rahmat Rodiana menjelaskan adanya keterlambatan dalam pelaksanaan upacara adat Ngalaksa. “Meski ada keterlambatan, kami tetap melakukan upacara Ngalaksa daripada tidak sama sekali,” jelas Dadan Rahmat Rodiana.
Masih menurut Dadan perlu dibangun kesepahaman diantara kelima ‘rurukan’ yang ada di Rancakalonh untuk Ngalaksa tahun depan berpatokan pada kalender Islam, yaitu pada bulan hapit.

Sesaat sebelum menuju panggung utama, Bupati Sumedang didampingi Kadisbudparpora, Camat Rancakalong, dan perwakilan dari DPMD Jabar menunggangi ‘kuda renggong’ yang menjadi salah satu kesenian tradisional khas Sumedang.
Dalam sambutannya Bupati Sumedang Doni Ahmad Munir memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan upacara adat Ngalaksa sebagai upaya ‘ngamumule’ atau melestarikan budaya yang diwariskan para ‘karuhun’. “Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memelihara kebiasaan atau budaya lama yang baik, dan menggali budaya baru yang lebih baik,” jelas Doni Ahmad Munir.
Lanjutnya lagi, ‘ngamumule’ adat Ngalaksa wajib dilakukan secara pentahelix, yaitu dengan memadukan A-B-C-G-M dan melibatkan lintas perangkat Daerah.
Sehingga program/kegiatan berdayaguna dan berhasil guna secara optimal, dan lebih banyak orang akan memperoleh kebermanfaatan dan informasi tersebar luas berkaitan dengan adat Ngalaksa. “Pentahelix dan keterlibatan antar perangkat daerah harus ada di setiap program/kegiatan di Pemda Sumedang,” tegas Doni Ahmad Munir.
Upacara adat Ngalaksa akan diselenggarakan selama beberapa hari kedepan mulai tanggal 22 – 27 Agustus 2022. Sepanjang prosesi upacara diiringi alunan musik seni Tarawangsa dari awal sampai akhir.
