PGRI Waspada Mundur Dan Ngeblur

0
243

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Dewan Pembina PGRI)

Dalam jaringan dunia maya ada “rasa kecewa” sejumlah pengurus PGRI terkait giat “Tim Kerja Fasilitasi Pembinaan Organisasi Profesi Guru, Pendidik Lainnya, Dan Tenaga Keoendidikan” di GTK Kemdikbud Ristek.

Sejumlah pengurus PGRI karena cintanya pada organisasi merasa ada yang aneh dengan giat ini. Apa yang dirasa aneh ? Paling mengemuka adalah merasa aneh mengapa organisasi sebesar PGRI menjadi sejajar dengan organisasi rumpun mata pelajaran. Dalam undangan tertulis sejumlah organisasi profesi guru dan rumpun mata pelajaran.

Para pengurus wajar berpikir bahwa PGRI kini menjadi sejajar dengan organisasi profersi guru lain, malah sejajar dengan rumpun guru mata pelajaran. Ini sangat wajar dan nalar bila muncul rasa kecewa dalam perspektif pengurus PGRI yang sangat mencintai PGRI dan menjaga martabat organisasi PGRI.

Bila kita analisis mengapa PGRI bisa seolah mundur dan ngeblur, samar-samar ? Pertama terkait kepemimpinan dalam tubuh PGRI. Pemimpin atau Ketua Umum PB PGRI benar-benar harus punya ketokohan yang menasional dan kolaborasi yang efektif dengan pemerintah, terutama Mendikbud Ristek dan GTKnya.

Bagaimana dahulu Ketua Umum PB PGRI Basyuni Suriamiharja, Prof. Surya dan Dr. Sulistiyo masa SBY begitu kolaboratif dan harmoni. Saat itu PGRI benar-benar nomor satu. Bahkan sampai HGN oleh pemerintah diberikan pada tanggal kelahiran PGRI. Ini era Ketua Umum Basyuni Suriamiharja.

Era Prof. Surya bagaimana harmoni dan mesranya Mendik Bambang Sudibyo dengan PB PGRI. Keluarnya UURI NO 14 Tahun 2005 adalah langkah manis Ketua Umum PB PGRI, Prof. Surya dengan Mendikbud dan DPR RI. Lahir UURI No 14 tahun 2005 dan lahirlah TPG kemudian. Prof. Surya pahlawan lahirnya TPG.

Era Dr. Sulistiyo terangkat sekitar 1.1 juta guru honorer menjadi PNS, nyaris tanpa tes. Satu juta lebih guru honorer otomatis jadi PNS adalah jasa Ketu Umum PB PGRI era Dr. Sulistiyo. Basyuni, Prof. Surya dan Dr. Sulistiyo saat itu benar-benar kolaboratif dan mampu menjadi sahabat strategis pemerintah. Lengket, deket melekat.

Kini malah PGRI disejajarkan dengan rumpun guru mata pelajaran dan organisasi profesi guru lain yang lahir belakangan. Plus yang menjadi koordinator kegiatan adalah organisasi guru selain PGRI. Mengapa demikian? Ini semua bisa jadi karena kepemimpinan saat ini ada masalah dengan pemerintah dan Kementerian Pendidikan Ristek.

Dua kali Saya bertemu langsung dengan Mendikbud dan jajaran, Saya duga ada kolaborasi yang tak harmoni. Bisa jadi ini dimulai karena penolakan POP dan tak apresiatifnya seseorang dan sekelompok orang pada program sekolah penggerak, guru penggerak dan giat spirit Merdeka Belajar lainnya. Plus Rancangan UU Sisdiknas yang cenderung disoal.

Bila seorang pemimpin di sebuah organisasi besar sekelas PB PGRI, kapasitasnya bermasalah akan sulit membawa organisasi lebih dihormati. Apalagi bila belum punya pengalaman menjadi guru atau mengurus organisasi dari bawah (Provinsi/kokab) tentu akan sulit. Rasa guru dan pengalaman merasakan kebatinan guru akan minus.

Semoga sesudah dua periode Ketua Umum PB PGRI yang sekarang nanti akan lahir pemimpin yang mampu mengembalikan kejayaan PGRI. Mampu membangun kolaborasi, harmoni dengan pemerintah dan punya pengalaman mengurus PGRI dari daerah sebagaiman Basyuni, Prof. Surya dan Dr. Sulistiyo yang pernah mengurus dari daerah dan pernah menjadi guru.