Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Setiap manusia berpotensi pelaku dosa. Semua manusia berpotensi pelaku modus. Semua manusia bahkan berpotensi pelaku pencari pulus. Tidak ada manusia yang bisa lepas dari dosa, modus, pulus dan hal mulus lainnya. Itulah unikasi manusia, sebagai entitas yang tidak akan pernah selesai menjadi kajian science.
Sebelumnya Saya menulis tiga dosa besar guru di sekolahan. Kini saya coba cubit para guru besar yang mengajar di sejumlah perguruan tinggi. Apakah mereka punya dosa juga ? Tentu punya, bahkan para ustadz pun yang kesehariannya mengajar agama, sama-sama punya potensi dosa. Termasuk para guru besar.
Tulisan ini tidak bermaksud menggeneralisir dosa entitas guru besar, karena faktanya begitu banyak guru besar yang wow dan istimewa. Namun tentu ada sejumlah oknum guru besar yang tak luput dari dosa. Karena Ia terlalu asyik dengan status diri yang cemerlang dan gemilang. Tak punya waktu untuk membumi.
Saya japri seorang guru besar UPI. Ia punya sebutan “Sultan Webinar”. Mengapa Ia punya julukan Sultan Webinar ? Karena tiada henti selalu mengisi kuliah di sejumlah webinar, berbagai jenjang dan tema.
Saya kadang tak sepemikiran dengan beliau dan berbagai hal, namun kami tetap menjadi lawan berpikir dan berdialektika. Berlogika dan bernalar kritis.
Mungkin karena terpaksa Saya tanya, Saya desak. Apa Prof dosa para guru besar ? Sebagai insan, mereka pun berpotensi punya dosa meski sandangan gelar guru besar atau profesor.
Akhirnya Sang Profesor Sultan Webinar menjawab secara elegan. Dengan sedikit berkerut katanya, Ia menjawab pertanyaan Saya.
Ia mengatakan ada tiga dosa besar oknum guru besar. Pertama, oknum guru besar yang asyik dengan ilmunya tapi tidak terlibat dengan kerja-kerja sosial.
Ia hanya bersahabat dengan buku, jurnal, penelitian, publikasi terindeks Scopus, dan kuliah umum di mana-mana, tapi tidak pernah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat dalam giat kemanusiaan.
Kedua, oknum guru besar yang hanya mengejar prestise, bagai berumah di menara gading tapi minus karya nyata untuk masyarakat. Karir, nama, citra dan ketokohan mentereng, tapi kontribusi karya dan pemikirannya untuk masyarakat kurang. Mementingkan citra diri dibanding mitra diri dengan masyarakat. Ia bagaikan layangan melangit tanpa benang ke tanah. Ia berumah di atas awan.
Ketiga, oknum guru besar jaim, kurang gaul dengan orang-orang kecil. Lebih asyik gaul dengan entitas elitis cendikiwan dan the have. Ia adalah guru besar darah biru yang gagap dan tak bisa turun ke bawah menjumpai orang-orang kecil.
Oknum guru besar ini terlalu pandai dengan ilmunya namun kurang dalam memahami realitas orang kecil. Kalau pun gaul dengan orang kecil hanya di buku, kisah orang kecil di buku.
Tiga dosa besar ini sedikit Saya improvisasi narasinya. Namun tiga dosa oknum guru besar ini Saya ambil dari wawancara singkat dengan Prof. Cewan, Sang Sultan Webinar dari UPI.
Semoga tulisan ini menjadi kritik genit bagi para guru besar dan substansinya bagi kita semua. Kita semua adalah pelaku dosa dan selalu berdosa pada diri, sesama dan sekitar.











