Oleh : Dudung Nurullah Koswara
Ini kisah fiktif dari realitas fiktif. Dikisahkan seorang guru meninggal dunia di hari Jum’at, setelah shalat Jum’at dan di bulan suci Ramadhan. Jasanya utuh dan segar karena meninggal mendadak di rumahnya. Semua tetangga mendoakan dan merasa iri, seorang guru yang terlihat baik, meninggal hari Jum’at dan di bulan suci Ramadhan. Semua orang membicarakan kebaikannya.
Di kampung ini pun beberap hari kemudian ada seorang buruh bangunan meninggal di hari Minggu, bulan safar. Beberapa orang bergosip bahwa Si Kuli bangunan meninggal mengenaskan jatuh dari lantai 7. Kepalanya pecah, tangan dan kakinya patah. Saat dimandikan pun agak sulit, fisiknya rusak. Kain kafan pun penuh dengan darah saat dikuburkan.
Kematian Sang Kuli bangunan itu jadi perbincangan kurang positif. Dianggap mati yang mengenaskan. Ia dianggap orang yang jarang gaul, jarang bicara dan menghindar dari pergaulan. Terlihat tak peduli pada realitas sosial. Dua orang yang meninggal ini berada dalam ingatan kolektif masyarakat. Dalam dua versi perbincangan, Sang Guru yang dianggap soleh dan Sang Kuli bangunan yang digosipkan tak baik.
Sekali lagi ini kisah realitas fiktif. Sepuluh tahun kemudian dikisahkan ada seorang alim, Kiyai pindahan dari daerah jauh, yang tidak tahu apa-apa terkait kematian dua orang yang jadi perbincangan masyarakat sekampung. Sang Kiyai karena ilmunya dipercaya menjadi imam masjid.
Suatu saat Ia memimpin jamaah shalat Jumat. Sebelumnya Ia berkhutbah. Sekali lagi Sang Kiyai tidak tahu menahu ada kisah dua kematian Sang Guru dan Sang Kuli bangunan di kampung itu, sepuluh tahun yang lalu. Bahkan Sebagian masyarakat sudah lupa.
Aneh dalam khutbahnya, Ia bercerita tentang sebuah mimpi yang datang setiap jum’at malam. Ia bercerita mimpi itu terus berulang. Mimpi yang bercerita tentang meninggalnya Sang Guru dan Sang Kuli bangunan. Mimpi itu bagaikan nyata.
Dalam khutbahnya Ia berkisah sama persis dengan kejadian 10 tahun yang lalu terkait meninggalnya Sang Guru dan Sang Kuli bangunan. Sang Guru meninggal di rumahnya karena jantung. Sang Kuli bangunan meninggal karena jatuh dari lantai 7 dengan kepala pecah dan tubuhnya patah-patah.
Namun ada hal yang sangat berbeda terkait sangkaan masyarakat sekitar. Dalam mimpinya, Sang Kiyai bercerita bahwa Sang Guru ASN yang meninggal di rumah memohon-mohon pada Allah agar Ia dihidupkan kembali. Ia menyesal saat bekerja menjadi guru. Menyesal 1000 kali menyesal.
Sementara Sang Kuli bangunan menurut Sang Kiyai, wajahnya pun bercahaya, tubuhnya utuh, atletis dan dikelilingi Malaikat. Masyarakat jamaah khutbah Jum’at, kaget dan merasa aneh Sang Kiyai pendatang yang tak tahu apa-apa bercerita terkait meninggalnya dua kisah warga 10 tahun yang lalu.
Dalam kisahnya Sang Kiyai bercerita saat di alam kubur Malaikat datang pada keduanya. Sang malaikat menyatakan bahwa Sang Guru yang terlihat baik, meninggal pasca shalat Jum’at dan di bulan suci Ramadhan adalah orang yang tak baik tapi terlihat baik.
Sementara Sang Kuli bangunan disapa Malaikat karena Ia orang baik dan sangat juhud selama hidupnya. Ia bekerja demi Ibu Kandungnya yang sakit-sakitan di rumahnya yang hampir ambruk, beratap bocor dan bilik rapuh. Ia harus bekerja mencari nafkah demi Ibu kandungnya.
Sang Guru ternyata menurut Malaikat, Ia sering meninggalkan ruang kelas. Alasannya tak jelas dan Ia guru muda yang malas. Menyepelekan anak didik dan ada sejumlah anak didiknya yang bermasalah karena Ia tidak menangani anak didiknya dengan baik. Ia pun bekerja hanya asal kerja.
Makanya saat di datangi Malaikat Ia mohon ampun atas segala dosa besarnya sering meninggalkan anak didik di ruang kelas. Ia memohon pada Malaikat agar bisa hidup kembali, dikembalikan ke dunia. Ia berjanji akan benar-benar menjadi guru yang baik. Bila perlu tidur di kelas demi anak anak.
Malaikat menolak dan menjawab, “Pintu Surga tertutup untuk Mu, padahal mengajari dan mendidik setiap anak didik adalah ladang amal terbaik di muka bumi”. Sementara bagi Si Kuli bangunan Malaikat mengatakan, “Hai Fulan, silahkan pilih pintu Surga mana yang Kau kehendaki”.
Dari kisah diatas kita bisa mengambil pelajaran bahwa, kita, masyarakat bisa tertipu oleh performa manusia. Bisa terlihat alim, meninggal di hari dan bulan suci. Namun saat ibadah sosial dan bekerja asal, sehingga merugikan orang lain adalah dosa besar. Tubuh yang utuh saat wafat, tidak bermanfaat.
Sebaliknya Si Tukang kuli bangunan, tubuh yang hampir hancur menjadi saksi dihadapan Ilahi bahwa Ia bekerja sungguh-sungguh demi Ibu kandung dan tak mau gaul dengan masyarakat yang nyinyir gossip. Ia meninggal terlihat menyedihkan tapi Ia disambut senyum para Malaikat.











