OPINI/Artikel

Dibutuhkan Sikap Powerful Untuk Membangun Sekolah Swasta

adminsigiku.com
×

Dibutuhkan Sikap Powerful Untuk Membangun Sekolah Swasta

Sebarkan artikel ini

Oleh: Sukadi
Praktisi Pendidikan, Anggota Dewan Pembina Paguyuban Kepala Sekolah Swasta (PKSS) Kota Bandung

Di tengah-tengah berkembangnya sikap “NEGERI MINDED” orang tua siswa dalam menyekolahkan anak-anaknya, para pengelola sekolah swasta dituntut bekerja lebih keras. Jika tidak, cepat atau lambat sekolah swasta terancam gulung tikar.

Hal pertama yang harus dikerjakan sekolah swasta adalah melakukan evaluasi diri (muhasabah diri) dengan pendekatan SWOT. Apa kekuatan yang masih dimiliki, kelemahan yang selama ini dirasakan, peluang apa yang tersedia, dan ancaman apa yang dihadapi. Dari sini semua dimulai, sehingga langkah strategis selanjutnya dapat diputuskan.

Tiga Kategori Sekolah Swasta, Meminjam istilah Said Sediohadi, mantan Ketua BMPS (Badan Musyawarah Perguruan Swasta) Kota Bandung, sekolah swasta dikelompokkan ke dalam 3 kelompok, yakni sekolah elit (sekolah yang berada di level atas, baik kualitas layanan maupun jumlah siswanya), sekolah biasa (yaitu sekolah dengan layanan dan jumlah siswa standar/biasa-biasa), dan sekolah alit (yaitu sekolah dengan jumlah siswa sedikit dan layanan yang kurang maksimal).

Berdasarkan kriteria ini, kita dapat memosisikan di kelompok mana sekolah kita berada. Jika sudah menemukan pada posisi mana, kita lakukan analisis SWOT tadi berdasarkan posisi kita masing-masing.

Untuk sekolah berkategori elit tekanan perjuangannya difokuskan pada upaya mempertahankan dan mengembangkan sekolah dengan branded yang sudah dikenal publik. Jangan pernah menurunkan layanan atau mutu yang selama ini telah diraih. Sekolah swasta pada kategori ini harus bergerak lebih cepat dalam mengakses setiap kemajuan zaman sehingga selalu up to date. Dengan demikian, sekolah swasta dengan kategori ini tidak akan menyurutkan animo masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah tersebut.

Untuk sekolah swasta berkategori biasa tekanan perjuangannya pada dua hal, yaitu mempertahankan hal-hal yang sudah baik, dan berusaha untuk mencapai branded tertentu sehingga dapat meningkatkan posisinya dari sekolah biasa menunju ke sekolah elit. Branded yang dikejar sekolah swasta kategori biasa ini bisa mengarah ke prestasi akademik atau prestasi non akademik yang digandrungi masyarakat kekinian, tentu dengan tidak meninggalkan idealisme pendidikan sebagai lembaga yang menyiapkan generasi kini untuk hidup di masa depan.

Adapun untuk sekolah berkategori alit tekanan perjuangannya pada upaya meningkatkan kepercayaan publik pada sekolah. Jika kepercayaan publik ini meningkat, maka sekolah swasta alit akan naik status ke sekolah biasa. Jumlah siswanya akan meningkat sehingga sumber-sumber pendanaan untuk men-support kegiatan pendidikan akan berdatangan. Setelah kepercayaan ini didapat, maka tantangan selanjutnya adalah mempertahankan kepercayaan dan menciptakan branded tertentu.

Sikap Powerful Penyelenggara/Pengelola Pendidikan

Untuk mencapai tujuan di atas, para penyelenggara/pengelola sekolah swasta harus dibekali dengan sikap powerful, yaitu sikap yang menunjukkan kekuatan lahir dan batin dalam bekerja. Sikap ini wajib ditanamkan dan dimiliki secara terus-menerus oleh sumber daya manusia sekolah.

Meminjam istilah Stephen R. Covey, penulis The Seven Habits of Hihgly effective People, pengelola sekolah swasta mesti memiliki 7 karakter berikut ini jika ingin menunjukkan sikap powerful dan dapat mengembangkan sekolahnya secara optimal.

Bersikap proaktif, yaitu berusaha meluaskan kekuatan pengaruh positif dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Tidak ada keluh kesah yang terucap dari lidahnya. Yang dipikirkan adalah bagaimana setiap masalah bisa disolusikan. Jika persoalan hadir di hadapannya, ia berusaha mengidentifikasi persoalan tersebut, lalu tim bekerja keras untuk mencari solusi atas persoalan yang dihadapi.

Mereka yakin bahwa tidak semata-mata Tuhan menurunkan persoalan, kecuali disertai dengan solusinya. Sikap proaktif ini harus tertanam dalam setiap jiwa penyelenggara dan pengelola pendidikan swasta. Jika tidak, sulit sekolah swasta dapat mengembangkan dirinya menjadi sekolah terdepan.

Mulai pekerjaan dari akhir dalam pikiran, artinya memulai pekerjaan dari tujuan-tujuan akhir yang akan dicapai. Itulah sebabnya, pengelola pendidikan swasta harus selalu berusaha merumuskan tujuan-tujuan apa yang hendak dicapai dengan perjuangannya.

Tujuan haruslah realistis dan bisa dicapai dengan segenap potensi yang dimiliki. Tanpa merumuskan tujuan terlebih dahulu, maka capaian-capaian pekerjaan tidak akan jelas. Pengelola sekolah swasta wajib membuat rencana-rencana dan tujuan-tujuan yang realistis dan terukur. Dari tujuan yang realistis dan terukur inilah ia bergerak menuju pada tangga keberhasilan yang lebih tinggi.

First thing first, yaitu membuat skala prioritas. Pengelola pendidikan swasta hendaknya mampu memprioritaskan hal-hal yang benar-benar penting dan urgen. Bidikannya selalu diarahkan pada hal-hal yang penting dan urgen terlebih dahulu, baru ke hal-hal penting yang tidak urgen. Adapun hal-hal yang tidak penting sebaiknya dihindari. Hal ini berlaku dalam segenap aspek dan bidang, baik dalam tahap perencaanan, pelaksanaan, maupun dalam penggunaan anggaran.

Berpikir dan bersikap menang-menang, yaitu pola pikir dan sikap yang selalu menguntungkan semua pihak. Termasuk jika kita dihadapkan pada situasi yang sangat sulit sekalipun, maka jangan pernah berpikir ingin menang sendiri, sementara orang lain harus kalah. Atau sebaliknya, kita mengalah untuk kebaikan orang lain. Tidak! Sikap menang-menang menjukkan perilaku “menang tanpa ngashorake” dalam bahasa Jawa, yaitu menang tanpa harus mengalahkan orang/pihak lain. Kemenangan yang diperoleh dengan mengalahkan pihak lain sama saja dengan menggali kubur untuk diri kita sendiri. Penyelenggara/pengelola sekolah swasta mesti memahami filosofi ini.

Berusaha memahami pihak lain sebelum menuntut dipahami. Banyak orang yang selalu menuntut dirinya dipahami sementara ia tidak mau paham dengan keadaan orang/pihak lain. Akibatnya, sinergisitas tidak bisa terwujud. Sebab, secara psikologis kita tidak bisa mengubah orang lain sebelum kita mengubah diri kita sendiri. Bagaimana orang lain paham terhadap kita jika kita tidak mau memahami orang lain. Ini modal utama membangun sinergi dengan siapa pun.

Sekolah swasta yang dikelola oleh sumber daya manusia yang memiliki sikap ini akan maju dan berkembang pesat. Mengapa? Karena ia selalu memahami kepentingan dan kebutuhan pelanggannya.

Membangun sinergi, yaitu bersikap kolaboratif yang saling menguntungkan satu sama lain. Sebagai makhluk sosial, manusia hanya akan maju dan berkembang apabila ia bersinergi. Tidak ada kesuksesan yang terjadi pada seseorang secara mandiri.

Kesuksesan akan selalu terjadi karena adanya sinergi dengan pihak lain. Demikian pula dalam membangun sekolah swasta, sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan merupakan langkah yang mesti dilakukan untuk mencapai kemajuan. Tanpa sinergi, kemajuan hakiki tidak bisa dicapai.

Selalu mengasah gergaji pikiran, yakni tidak pernah berhenti belajar. Kita sadar, bahwa persoalan yang ada di hadapan kita selalu bervariasi dan semakin kompleks. Ini hanya bisa diatasi apabila kita terus mengasah gergaji pikiran kita. Dengan gergaji pikiran yang selalu diasah, ide-ide dan gagasan kita akan selalu segar dan mudah untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup yang datang. Dengan selalu belajar, pikiran kita akan selalu fresh dalam memecahkan persoalan-persoalan yang datang.

Dengan mengembangkan 7 sikap tersebut di atas, para penyelenggara/pengelola sekolah swasta akan tampil berbeda dari sebelumnya dan dapat membawa aura baru dalam dunia pendidikan, sehingga pendidikan swasta tidak ditinggalkan oleh masyarakat. Sebaliknya, dengan memiliki sikap tersebut sekolah swasta akan digandrungi oleh masyarakat pengguna jasa pendidikan.

Dengan mengembangkan 7 sikap itu pulalah kita akan dapat mematahkan stigma “NEGERI MINDED” yang selama ini masih berakar di hati masyarakat (orang tua siswa) dalam menyekolahkan anak.

Akhirnya, sebaik apa pun gagasan perubahan jika tidak ada komitmen dari semua unsur atau elemen sekolah swasta untuk mengembangkan sekolahnya, gagasan-gagasan itu hanyalah akan menjadi hiasan seperti fatamorgana atau menara gading yang berdiri tegak tanpa memberi manfaat nyata bagi masyarakat.