Menjadi Orang Yang Selesai

0
194

Oleh : Dudung Nurullah Koswara

Entitas Jamaah Tabligh mengatakan bahwa belajar mati sa’at hidup itu penting. Faktanya semua orang belajar hidup, berusaha hidup. Bukan belajar mati atau berusaha mematikan diri.

Ayat alam menjelaskan saat ulat mau jadi kupu kupu yang bisa terbang, Ia harus “mati” cukup lama menjadi kepong pong. Kita ? Nampaknya kita pun bila ingin “terbang” indah tidak merayap di daun, harus “mematikan” diri.

Bagaimana cara kita mematikan diri dari segala “prank” duniawi ? Banyak cara, selain cara yang ditempuh Jamaah Tabligh dan jamaah lainnya. Para raja dahulu kala melakukan tapa atau semedhi.

Bahkan, KH. Buya Syakur mengatakan Muhammad muda sebelum ber_Islam dan jadi Nabi, melakukan tapa di Gua Hira. Tapa, semedhi, mengasingkan diri dari rutinitas duniawi adalah diantara upaya “mematikan” diri.

Mematikan diri adalah sebuah upaya melakukan refleksi mendalam terkait fenomena kehidupan. Bukankah HP pun dimatikan dan di cash agar bisa dipakai lebih berdurasi ? Kematian nafsu duniawi dalam diri itu sangat penting.

Orang orang yang sudah selesai dengan diri dan dunianya akan jauh lebih hidup dan memberi hidup pada sesama. Bahkan bisa “menghidupkan orang mati” yakni memotivasi dan membimbing orang yang prustasi, dll.

Orang yang sudah selesai dengan dirinya dapat menyelesaikan nasib orang lain. Orang yang selesai dengan dirinya zero modus dan prank. Ia semata bertindak untuk memberi manfaat pada sesama.

Bagaimana kita ? Pada umumnya kita tak pernah selesai dan tak mau belajar mati, tak mampu menahan diri dari prank duniawi. Inginnya menang sendiri yang lain harus kalah dan tak boleh lebih wow dari kita.

Gibah, suudhon, iri dengki dan julid adalah bagian dari diri kita pada umumnya. Senang membuka aib orang lain dan merasa hebat saat yang lain kecil. Harus selalu kita yang besar dan sukses, orang lain harus kecil.

Orang yang belum selesai dengan dirinya akan selalu julid dan menjadi beban orang lain. Tak pernah bisa memberi solusi, berkontribusi pada masalah orang llain. Selalu ingin menang sendiri. Egois dan dunia harus jadi milik sendiri.

Dunia ini menjadi tak mudah karena banyak orang yang rakus dan tak pernah merasa selesai dengan dirinya. Padahal kebanyakan kita terlihat taat ritual agama dan pakaian yang dikenakan sangat agamis. Sungguh kita semua egois dan tak pernah merasa selesai selesai.

Akhirnya kematian datang walau tak pernah belajar mati dan tak mau mati. Alam menyelesaikan peran kita yang merasa tidak pernah selesai selesai. Allah maha bageur dan memberi kesempatan pada kita untuk lebih baik. Mari kita coba pelan pelan menjadi orang yang selesai dan belajar mati.