OPINI/Artikel

Tak Penting Apa Yang Dibawa

adminsigiku.com
×

Tak Penting Apa Yang Dibawa

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara

Kebanyakan orang berpikir apa yang bisa dibawa ke kampung akhirat, apa yang bisa menolong kita di akhirat Sedikit orang yang berpikir apa yang bisa ditinggalkan di dunia. Apa yang bisa menolong orang lain saat kita masih hidup?

Semua manusia faktanya sangat egois, ingin sukses sendiri bila perlu. Ingin sekali menyelamatkan diri dari dosa dan derita sebagai manusia. Bila perlu masuk Surga sendirian. Ini sangat manusiawi.

Namun hal yang “tak manusiawi” adalah saat mau berkorban untuk orang lain, sesama manusia dan rela diri menderita. Ini 10.001 orang. Kebanyakan tidak demikian, mayoritas egois dan tak peduli orang lain.

Saatnya kita berpikir *apa yang bisa kita tinggalkan, bukan apa yang bisa kita bawa*. Memberi itu jauh lebih mulia dari membawa atau menerima. Sejatinya saat kita meninggal bukan hanya berpikir amal apa yang bisa kita bawa, tapi lebih penting adalah apa yang bisa kita tinggalkan dan berikan pada sesama yang hidup.

Kita lahir ke muka bumi adalah untuk orang lain, sesama manusia ciptaan Tuhan. Keunggulan manusia adalah manfaat dan apa yang ditinggalkan untuk orang lain. Kebermanfaatan untuk orang lain jauh lebih utama dari disiplin ritual pribadi, untuk diri sendiri.

Ritual itu pun hakikatnya adalah untuk reflektif mendalam memberi manfaat pada sesama. Maindset apa yang bisa kita bawa ke kampung akhirat tidak lebih penting dari apa yang bisa kita tinggalkan untuk kampung dunia.

Para Nabi sebagai contoh terbaik. Mereka meninggalkan kitab suci, iman, ilmu dan bagaimana cara berakhlak baik. Hal yang ditinggalkan para Nabi jauh lebih utama dari apa yang dibawa para Nabi ke akhirat. Keunggulan para Nabi bukan di akhiratnya kelak, tapi tinggalan ajarannya di dunia.

Istilah mati 1 tumbuh 1000 bisa diartikan saat kita meninggal dunia adakah 1000 orang yang bisa hidup baik asbab kita. Jangan sampai kita hidup di dunia merasa soleh dan baik, tapi saat meninggal, lenyap sudah nama dan manfaat kita. Tidak ada peninggalan yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Harimau mati meninggalkan belang, gajah meninggalkan gading, kita meninggalkan apa? Jangan sampai harimau dan gajah lebih bermanfaat pada manusia saat mereka mati. Kita? Jangan pula kita malah meninggalkan utang, beban dan derita pada orang lain.

Bagi Saya hal terbaik manusia adalah apa yang ditinggalkan untuk sesama bukan apa yang dibawa untuk diri sendiri saat wafat. Allah itu maha memberi bukan maha membawa. Kita wajib menduplikasi sifat Tuhan, memberi dan meninggalkan apa kita? Kemuliaan kita karena iman dan bermanfaat bagi orang lain.

Jangan egois dan rakus, segala kebaikan priority diri sendiri dan keluarga semata. Orang lain bagaimana? Nabi Muhammad saat wafat mengatakan “Ummati, ummati, ummati” bukan “Aku, aku, aku”. Umat atau orang lain adalah utama, bukan kita. Ubah paradigma apa yang ditinggalkan bukan apa yang dibawa.