Banjir Melanda Kota Bandung. Bagaimana Cara Mengatasinya?

0
201

Oleh : Yuni Irawati (Ibu Rumah Tangga)

Sudah dua hari ini, banjirnya seperti ini. Normalisasi sungai Cikeruh seperti tidak berdampak banjir masih saja terjadi di wilayah Rancaekek,” ujar Eman Sulaeman salah seorang tokoh masyarakat Dandeur Desa Bojongloa Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung saat dihubungi Portal Bandung Timur, Sabtu 17 Desember 2022,malam.

Hujan sepanjang siang menjelang sore yang mengguyur kawasan perbukitan Manglayang dan Bukittunggul mengakibatkan banjir di wilayah Kecamatan Rancaekek dan Cileunyi serta Jatinangor wilayah perbatasan Kabupaten Bandung dengan Sumedang. Luapan Sungai Cikeruh yang berhulu di perbukitan Bukittunggul mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah pemukiman warga serta ruas jalan nasional Jalan Raya Bandung Garut dan juga Jalan Raya Majalaya Rancaekek Dangdeur.

Antrian kendaraan juga akibat kendaraan yang akan menuju Jalan Raya Majalaya Rancaekek tidak dapat menembus genangan air di betulan depan Masjid Agung Rancaekek. Genangan air juga terjadi di sekitar Stasiun Kereta Api Rancaekek dan Bumi Rancaekek Kencana.

Sementara menurut aparat Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung, banjir yang melanda wilayah Rancaekek Kabupaten Bandung yang terjadi pada Jumat dan Sabtu 16 dan 17 Desember 2022 terjadi di enam desa. Selain Desa Rancaekek Kulon yang berada di aliran Sungai Cikeruh, juga Desa Rancaekek Wetan, Cangkuang, Sukamanah, Sangiang, Haurpugur dan Tegal Sumedang.

Banjir di kawasan semakin mengkhawatirkan, bahkan anggota DPRD Kabupaten Bandung Cecep Suhendar angkat bicara. Wakil Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bandung ini mengaku prihatin dengan banjir yang menggenangi jalan nasional Nagreg ini.

Pasalnya kata Cecep, baru pertama kali banjir menerjang Jalan Raya Nagreg yang genangan airnya bercampur lumpur. Sudah dapat dipastikan kata Cecep, bencana banjir Nagreg akibat exploitasi tanah pegunungan di kawasan Nagreg yang sudah tidak terkendali lagi.

Genangan air di jalan nasional ini lebih parah. Pasalnya, air yang menggenangi jalan raya dengan ketinggian antara 25-30 cm bercampur lumpur di sepanjang jalan.

Kondisi banjir di jalan Raya Nagreg tersebut videonya sempat viral di grup WhatsApp (WAG) Cileunyi Masagi yang dibagikan Rudi. Termasuk yang diterima KejakimpolNews.com. Terlihat dalam video tersebut kondisi jalan yang tergenang air bercampur lumpur dilintasi kendaraan dengan jalan pelan.

Curah hujan yang tinggi tidak akan jadi masalah jika hutan-hutan tidak ditebangi, tanah resapan tidak dibetoni, daerah aliran sungai tidak mengalami abrasi, dan sistem drainase dibuat terintegrasi. Meluasnya bencana banjir justru menunjukkan gurita kapitalisme makin mencengkeram. Eksploitasi lahan tambang, alih fungsi lahan, dan deforestasi faktanya memang kian tidak terkendali. Permukaan tanah pun makin turun akibat konsumsi air tanah untuk penunjang fasilitas hunian-hunian elit dan industrialisasi. Begitu pun dengan sungai.

Mirisnya, semua terjadi di hadapan mata para penguasa. Bahkan, sebagian besarnya terjadi secara legal atas nama pembangunan yang abai terhadap tata ruang dan tata wilayah, sangat profit oriented, cenderung pragmatis, dan mengedepankan ego sektoral. Hal ini niscaya karena negara dan para penguasa merepresentasikan kepentingan para pengusaha. Bagi mereka, keuntungan materi adalah segalanya, maka soal kelestarian alam dan keberlangsungan kehidupan di masa depan.

“Selama bencana dilihat sebagai faktor alam semata dan pembangunan jauh dari paradigma Islam yang menebar kebaikan, selama itu pula tidak akan muncul dorongan untuk mencari penyelesaian. Bahkan, kebijakan penguasa akan menjadi sumber kerusakan,” urainya. Ia menuturkan itulah persoalan yang selama ini terjadi. “Penerapan sistem sekularisme kapitalistik neoliberal telah membuka ruang besar bagi berkembangnya perilaku mengeksploitasi dan destruktif di tengah-tengah masyarakat,” terangnya.

Ajaran Islam benar-benar mengajarkan harmoni dan keseimbangan. Adab terhadap alam bahkan dinilai sebagai bagian dari iman. Semuanya bisa berjalan saat syariat Islam diterapkan secara keseluruhan. Allah Taala berfirman dalam QS Al-A’raf : 96, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

“Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya” (HR Muslim dan Ahmad). Fungsi kekhalifahan adalah refleksi dari fungsi penghambaan, maka siapa pun yang melakukan kerusakan terhadap keseimbangan alam dianggap sebagai pelaku kejahatan dan dinilai sebagai bentuk kemaksiatan. Penguasa dalam Islam betul-betul berperan sebagai pengurus dan penjaga umat. Ulasan ini menegaskan setidaknya ada dua aspek yang bisa menjadi mekanisme penanggulangan banjir musiman yang terus berulang ini.

Sungguh celaka negeri yang sedemikian indah hingga berjuluk zamrud khatulistiwa, tetapi harus merana akibat banjir di mana-mana akibat tegaknya sistem kufur di negeri tersebut. Ini masih belum bencana-bencana lain yang menjauhkan berkah Allah darinya. Tidak heran jika negeri ini juga jauh sekali dari karakter negeri yang baik (baldatun tayyibatun).

Oleh karena itu, penting adanya visi ideologi Islam untuk pembangunan negeri ini, sehingga potensinya tidak hanya demi kemanfaatan ekonomi melainkan dapat menjadi aset masa depan generasi berikutnya. Visi inilah yang mustahil terwujud dalam konteks kapitalisme yang selalu sarat eksploitasi.