Layanan Guru Di Era Merdeka Belajar

0
187

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Menjadi guru adalah menjadi seseorang yang harus terlihat istimewa dihadapan anak didik. Pertanyaannya, sudah istimewakah kita dihadapan anak didik kita ? Bila kita tidak istimewa maka anak didik akan sangat sulit tertarik dengan kita, saat bertemu, mendidik, mengajar dan menemaninya.

Menjadi guru di era 4.0 dan era serba google sangatlah tak mudah. Apalagi anak didik punya dunia lain dalam dirinya, yakni handphone dan semua koneksi yang ada dalam jaringannya. Mendidik, mengajari anak didik di zaman ini benar-benar tersulit. Sangat tak mudah.

Semua anak didik zaman ini adalah anak didik “ABK”. Mengapa ABK ? Karena mereka punya dunia lain sebagaimana disebutkan di atas. Tiada lain adalah dunia maya, warga netizen dan sejumlah informasi segala macam yang ada di gadgetnya. Guru biasa, sudah tak bisa lagi menghadapi anak didik saat ini.

Guru luar biasa sangat dibutuhkan saat ini. Sekali lagi kalau hanya guru biasa, biasa-biasa saja akan ditinggalkan anak didik kita. Saat ini dibutuhkan guru luar biasa yang sangat memahami dunia sebaya dan dunia maya mereka. Kompetensi pedagogik harus benar-benar sempurna, tidak hanya teori, tetapi implementatif.

Bila Ki Hajar Dewantara punya teori Tri Pusat Pendidikan yakni : keluarga, sekolah dan masyarakat, teori ini menurut Saya sudah mulai usang. Faktanya saat ini ada Teori DNK “Panca Pusat Pendidikan” yakni: Dunia maya, dunia sebaya, dunia sekolah, dunia keluarga dan dunia masyarakat. Terutama dunia maya dan sebaya sangat dominan.

Apa yang harus dilakukan guru saat ini ? Setidaknya lakukan beberapa hal berikut. Pertama jadilah guru yang mengetahui, nama, potensi dan masalah anak didik. Pastikan Ia kali kali dapat japri khusus dari kita. Ia akan merasa diperhatikan dan punya guru yang peduli. Pastikan setiap anak hatinya tidak berjarak dengan guru.

Kedua pastikan guru punya informasi baru, cerita baru, gossip edukatif baru, modus baru dalam upaya kondisioning psikologis anak saat diruang kelas terutama. Guru jangan kalah kebaruan dengan anak didik yang punya akses informasi ke mana-mana. Pastikan guru selalu menjadi “pencuri start” informasi actual terhangat dibanding siapa pun.

Ketiga pastikan guru selalu mudah dan mengapresiasi dan peduli pada apa yang diinginkan anak didik. Pendekatan guru pada anak didik bermasalah bukan dengan sanksi tapi dengan cara baru yang lebih soft. Apa contohnya ? Beri mereka tanggung jawab atau konsekuensi atas kesalahannya dengan cara mengerjakan apa yang mereka suka dan banggakan.

Setiap anak adalah anak, mereka adalah anak anak. Guru harus sabar, dalam UURI anak itu usianya dibawah 18/19 tahun. Bukan anak kalau sudah usia 19 tahun ke atas, sudah mahasiswa. Maka, sekali pun anak didik kita misal anak SMA/SMK sederajat walau badan tinggi, besar dan berbadan dewasa tapi otak dan perasaannya masih bau-bau anak. Mereka tetap kategori anak didik.

Sekali lagi para guru harus sabar dan sangat ikhlas melayani anak didik, terutama yang bermasalah. Allah saja yang menciptakan dan pemilik manusia sangat pengampun dan maha pengampun atas segala salah dan dosa manusia. Kita sebagai guru pun harus “maha pengampun” atas segala kenakalan dan kesalahan anak didik.

Pepatah bijak mengatakan, “Setiap anak adalah bintang pada bakatnya”. Setiap guru harus menjadi langit luas yang mampu memberi ruang pada ekspresi anak didik. Anak didik harus meras aman, nyaman dan berkembang saat di sekolahan. Harus merasa ada motivator dan inspirator ulung bernama guru pavoritnya.

Era Merdeka Belajar saatnya setiap guru “berhamba pada anak didik” dalam artian melayani anak didik secara berdiferensiasi. Kepada Allah, Tuhan yang maha Esa kita bersyukur dan beribadah melalui “berpayah-payah” melayani anak didik dengan segala jelimet dan kompleksitasnya. Allah maha tahu siapa guru yang kontributif pada masa depan anak didik.

Allah maha tahu siapa guru yang mampu melahirkan anak didik berakhlak mulia dan menjadi pribadi tangguh, bermanfaat bagi publik di masa depan. Guru yang bekerja dari panggilan hati, dari hati, sangat hati-hati melayani anak didik, akan menjadi guru yang ada di hati anak didiknya.

Sekolah adalah Rumah Ibadah Pendidikan Terbaik di Muka Bumi segala dinamika dan kompleksitasnya adalah ibadah. Kepala sekolah, dewan guru, jajaran TU, satpam, petugas kebersihan, sie dapur dan semua warga civitas akademika satuan pendidikan adalah jama’ah terbaik yang menentukan masa depan bangsa melalui layanan sungguh-sungguh pada anak didik saat ini.