Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia)
Orang bijak mengataan jaga lima hal di negeri ini. Apa lima hal itu ? Tiada lain adalah : NKRI, Agama, Pelajar, Guru dan Kepala Sekolah. Tulisan ini tentu sangat subjektif. Mengapa subjektif ? Karena ditulis oleh kepala sekolah.
Namun tingkat subjektifitas itu mari kita uji. Kita uji dalam narasi berikut. Ungkapan “NKRI Harga Mati” semua akan setuju, ini menyangkut kedaulatan dan kebangsaan kita yang tak mudah kita proklamasikan. Lahirnya NKRI adalah sebuah peristiwa lahirnya bangsa kita, Indonesia.
Hal kedua terkait agama. Agama yang kita anut apa pun agamanya adalah anugerah Ilahi yang harus kita jaga bersama. Agama adalah warisan dan pilihan hidup kita yang tak ternilai harganya. Menembus dimensi duniawi dan akhirati.
Hal ketiga adalah pelajar. Tidak ada warga negara di bangsa mana pun yang nilai istimewanya melintasi anak didik/pelajar. Mereka lah “pemilik negara” di masa depan. Merekalah diri kita, wajah bangsa kita di masa depan. Merekalah penentu keberadaan bangsa kita di masa depan.
Hal keempat adalah guru. Saat Jepang hancur yang ditanya bukan pendeta, kiyai, politisi, tentara, polisi atau logistik. Melainkan entitas guru, dan terbukti Jepang bangkit mengungkit kejayaannya. Guru adalah “Ibu SDM” sebuah bangsa. Semua orang hebat tidak keluar dari lubang batu, melainkan dari tangan dingin seorang guru.
Kelima kepala sekolah. Sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpin yang adil dan bijaksana. Namun harus dicatat, ada pemimpin terbaik di muka bumi ini. Bukan pemimpin politik, bukan pemimpin partai, bukan pemimpin yang identik dengan kekuasan.
Siapa Pemimpin di atas pemimpin itu? Tiada lain adalah pemimpin yang melahirkan pemimpin adil dan bijaksana. Siapa itu ? Tiada lain adalah Sang Pemimpin Pembelajaran. Sebaik baiknya pemimpin bukan pemimpin adil dan bijaksana melainkan pemimpin pembelajaran yang melahirkan ribuan pemimpin adil dan bijaksana.
Negara bangsa, agama dan apa pun di sebuah negeri, keberadaan dan keberlangsungannya tergantung “Bagaimana Proses Transformasinya Saat Belajar di Lembaga Pendidikan”. Transformasi proses pembelajaran itu tergantung kecerdikan, kecerdasan dan kewarasan Sang Pemimpin Pembelajaran.
Sang Pemimpin Pembelajaran adalah warga negara yang istimewa. Karena istimewanya kadang susah diatur. Mengapa ? Karena semuanya adalah Sultan, manajer dan pemimpin. Ahaaaa. AKSI mengajak berdinamika entitas kepala sekolah. Yuk, mari, ayo, kemon.











