OPINI/Artikel

Quo Vadis PB PGRI ?

adminsigiku.com
×

Quo Vadis PB PGRI ?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Bila Saya mengkritik internal PGRI karena ingin jabatan di PGRI maka kritik Saya menjadi subjektif dan modus. Bila kritik Saya bukan berdasar mencari jabatan tetapi memberi pewarasan pada organisasi tentu bisa dipandang objektif.

Sebaliknya bila ada seorang pemimpin anti kritik dan memprovokasi anggota dengan bahasa “Hai Teman-Teman” A B C D, tentu modus dan diksi bulus. Seseorang yang ingin berkuasa tentu akan menghalalkan segala cara bahkan hasut dan fitnah.

Sebagai kritik Saya sampaikan pada PB PGRI. Pertama, gaya kepemimpinan Ketua Umum PB PGRI bermasalah. Kedua ada guru yang Ia pecat dari pengurus BPLP PB PGRI tanpa konfirmasi dan komunikasi. Ketiga, otoriter dan sulit menerima masukan.

Quo Vadis PGRI ? Akan dibawa kemana PGRI ? Kasihan para anggota dan pengurus PGRI di daerah tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan gaya kepemimpinan di internal PB PGRI. Sebagai anggota PGRI, aktivis PGRI sampai menjadi Ketua PB PGRI, tentu Saya banyak tahu.

Di tubuh PB PGRI ada beberapa orang hebat. Ada Ali Rahim, Wisnu Aji, Dadang, Joko AW, Dudung Abdul Qodir dan Wahyudi. Mengapa mereka tidak muncul ? Padahal dalam pengamatan Saya mereka jauh lebih hebat dari Unifah sebagai ketua umum. Mengapa tidak berkembang ?.

Di tahun 2024 Wisnu Aji, Ali Rahim, Dudung Abdul Qodir lebih cocok menjadi Ketua Umum dibanding Unifah Rosyidi. Sayang mereka tidak bisa mekar dalam organisasi karena sistem pleno dan pola internal organisasi di PB PGRI dikelola dengan “sistem kekuasaan” bukan kolektif kolegial.

PGRI melintasi tahun 2024 tentu butuh pemimpin baru. Pemimpin baru yang jauh lebih baik dari gaya kepemimpinan saat ini yang “Hai Teman-teman”. Saatnya para pengurus PGRI kokabkotprov bersatu, diskusi, refleksi dengan niat suci perubahan lebih baik.

Jangan ada lagi guru pengurus di internal PB PGRI dipecat. Jangan ada lagi pengurus PGRI dari daerah begadang di luar Gedung PB PGRI karena tidak bisa masuk, saat kemalaman. Jangan ada lagi pengurus PB PGRI yang tidak datang dari pengurus daerah.

Kita para aktivis PGRI ucapkan terimakasih pada Unifah Rosyidi yang pernah menjadi Ketua Umum PB PGRI. Ciri bahwa PGRI tidak memandang jenis kelamin. Namun kita pun segera ucapkan “Terimakasih Unifah Rosyidi, selamat beristirahat dan selamat datang pemimpin baru, amir baru”.

Dalam memilih pemimpin di PGRI setidaknya catat tiga hal. Pertama pahami pesan agama dalam memilih kriteria seorang pemimpin. Kedua pahami kebatinan guru anggota dan pengurus yang bayar iuran di desa desa. Ketiga pahami aspirasi guru seluruh Indonesia, baik anggota mau pun bukan.

Saya Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd. tidak akan pernah berhenti memberi kritik, masukan dan perhatian pada PGRI. Siapa pun Ketua Umumnya. Mengapa ? Karena Saya love pada PGRI. Mencintai PGRI tak harus menjadi pengurus. Rasa cinta pada PGRI akan Saya wujudkan dalam refleksi dan kritik konstruktif. Walau tentu bisa dipandang berbeda teman-teman lain.

Sekali lagi, siapa pun Ketua Umum PB PGRI akan saya ingatkan dan kritik. Bahkan di tahun 2014 Saya kritik Ketua Umum PB PGRI Dr. Sulistiyo (almarhum) saat menjadi narasumber di Unpak Bogor. Beliau sosok yang sangat soleh, menerima kritik Saya dengan bijak. Bukan emosional gaya Ibu-ibu arisan.